Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hidupkan Tradisi Mendongeng di Kalbar

A'an • Minggu, 10 November 2024 | 10:40 WIB
Aksi Kampung Dongeng
Aksi Kampung Dongeng

Di era digital ini, eksistensi mendongeng menghadapi tantangan serius akibat perubahan pola konsumsi informasi di kalangan anak dan generasi muda. Namun dengan berbagai upaya pelestarian dan inovasi, tradisi ini dapat hidup dan berkembang. Seperti yang dilakukan oleh para pendongeng yang tergabung dalam Kampung dongeng di Kalbar ini. 

 

Oleh : Siti Sulbiyah


Kampung Dongeng Kalimantan Barat (Kalbar), dipelopori oleh Ega Tyas menjadi wadah kreatif yang menghidupkan kembali tradisi dongeng di tengah masyarakat. Berawal dari ketertarikannya sebagai guru TK yang kerap memenangkan lomba mendongeng.

Ega mendirikan komunitas ini pada tahun 2017 setelah mendapat dukungan langsung dari Kak Awam Prakoso, seorang pendongeng nasional yang juga pendiri Kampung Dongeng Indonesia. Dengan tekad kuat, Ega menginisiasi Kampung Dongeng pertama di Kalimantan Barat, dimulai dari Singkawang.

Perjalanan Ega dalam mengembangkan Kampung Dongeng tidak mudah. “Awalnya, banyak yang menganggap remeh kegiatan mendongeng,” ujar Ega.

Dianggap sekadar bercerita, aktivitas mendongeng sering kali dilihat sebelah mata. Padahal, menurutnya, mendongeng bukan hanya tentang bercerita tetapi juga menyampaikan pesan dengan teknik dan hiburan yang bermakna.

Selain pandangan awam, tantangan lainnya adalah logistik. Kegiatan mendongeng sering kali dilakukan di desa-desa dan luar kota, yang mengharuskan para pendongeng membawa perlengkapan dengan motor. Bahkan kerap kali harus melindungi peralatan dari hujan di perjalanan.

“Kadang harus kehujanan dan bela-belain menutupi barang dari pada diri sendiri,” kenangnya.

Masalah lainnya adalah minimnya minat relawan muda di bidang pendidikan dan imajinasi dongeng. Hingga saat ini, Kampung Dongeng Kalbar hanya memiliki 12 anggota, dengan 6 anggota aktif. Selain itu, keterbukaan dari pihak pemerintah atau dinas untuk bekerja sama dalam pembelajaran berbasis dongeng juga masih minim.

Meski demikian, Kampung Dongeng Kalbar tetap konsisten menjalankan program bulanan dan tahunan. Setiap bulan di pekan kedua atau ketiga, mereka menggelar “Pekan Ceria” di basecamp, area Car Free Day (CFD), atau di lembaga yang mengundang mereka. Selain itu, mereka mengadakan roadshow dua kali setahun ke sepuluh sekolah, dan juga memiliki program khusus di bulan Ramadhan yang disebut “Ramadhan Ceria” untuk berbagai sekolah dan acara.

Sejak berdiri, Kampung Dongeng Kalbar telah memberikan dampak yang signifikan. Kegiatan mendongeng dan membaca rutin mulai diadakan di sekolah-sekolah. Guru-guru dan pendidik semakin terampil dalam bercerita, dan para orangtua juga semakin sadar akan pentingnya mendongeng bagi anak-anak. Taman baca mulai bermunculan, khususnya di wilayah Singkawang, dan kegiatan literasi berkembang pesat.

Kampung Dongeng Kalbar juga berupaya menjangkau generasi muda melalui media sosial dengan menyediakan konten-konten edukatif, video dongeng, dan buku digital yang dapat diakses secara luas. Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam merangsang minat baca dan menciptakan budaya literasi yang lebih kuat di kalangan masyarakat Kalbar.

Selama bertahun-tahun menjadi pendongeng, menurutnya cerita yang diminati sangat beragam tergantung pada usia mereka. Untuk anak-anak usia 2-4 tahun, cerita dengan boneka sebagai media utama menjadi favorit. Bagi anak usia 4-10 tahun, cerita fabel yang menghidupkan hewan sebagai tokoh utama mampu menarik perhatian mereka. 

Adapun Anak usia 10-14 tahun cenderung tertarik pada cerita petualangan yang menantang dan kisah kerajaan penuh misteri, sedangkan remaja 15-17 tahun menyukai cerita-cerita motivasi dari tokoh ternama yang inspiratif. Untuk audiens berusia 18 tahun ke atas hingga dewasa, kisah-kisah motivasi kehidupan menjadi pilihan utama.

“Namun yang paling banyak diminati untuk berkegiatan ialah Dongeng Fabel, Cerita Rakyat, Tokoh dan Kisah Nabi,” katanya.

Pendongen saat ini telah melakukan inovasi dalam penyampaian cerita. Jika dulu mendongeng hanya menggunakan media buku atau boneka tangan, kini mereka menyajikan cerita dengan berbagai pendekatan modern, seperti musikalisasi, penggunaan alat musik, teatrikal, panggung boneka, animasi digital, poster, dan media peraga lainnya. 

Dalam setiap kesempatan, pendongeng sering mengikuti tema tertentu yang disesuaikan dengan permintaan dari pengundang. Namun, jika tidak ada tema khusus, mereka merujuk pada isu-isu yang tengah relevan, terutama yang memengaruhi anak-anak dan remaja. 

Misalnya, dalam situasi di mana isu perundungan dan kekerasan seksual pada anak menjadi perhatian utama di Indonesia, mereka menyampaikan cerita yang mengandung pesan tentang keamanan diri dan karakter yang baik.

“Dengan harus memperhatikan unsur karakter yang disampaikan. Karena setiap cerita dongeng yang disampaikan harus memiliki pesan moral atau karakter baik yang bisa diterima oleh audiens,” tuturnya. **

Editor : A'an
#Kampung Dongeng Kalbar #Ega Tyas