Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cara Orang Tua Berkomunikasi yang Merugikan Anak Menurut Psikologi

Miftahul Khair • Rabu, 13 November 2024 | 12:54 WIB
Ilustrasi hubungan ayah dan anak.
Ilustrasi hubungan ayah dan anak.

 

Orang tua kerap kali tanpa sadar terjebak dalam apa yang disebut "12 gaya komunikasi populer" saat berinteraksi dengan anak-anak mereka. Meskipun niatnya baik, gaya-gaya komunikasi ini justru dapat memberikan dampak negatif pada perkembangan emosi dan kepercayaan diri anak

Oleh: Siti Sulbiyah

Dalam mendidik anak, ada beberapa gaya komunikasi yang sebaiknya dihindari oleh orang tua dan guru karena dapat memberikan dampak negatif pada perkembangan emosi dan kepercayaan diri anak. Terdapat 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yang sering digunakan orang tua namun sebenarnya kurang efektif dan bahkan merugikan anak.

Hal tersebut disampaikan oleh penggiat parenting Indonesia, Elly Risman, dalam webinar bertajuk "Manajemen Emosi Orang Tua & Guru Dalam Mendidik Anak”. Kegiatan ini digelar oleh BSI bekerja sama dengan Yayasan Alkarima Kalimantan Barat, minggu (3/11). 

Dalam momen tersebut, Elly menyoroti bahwa komunikasi yang keliru sering kali terjadi dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak. Banyak orang tua yang tanpa disadari menggunakan nada bicara yang tinggi, terburu-buru saat berbicara, dan kurang memperhatikan bahasa tubuh serta perasaan anak. Hal ini diperparah dengan kurangnya waktu untuk mendengarkan anak secara aktif. 

“Kita nggak punya waktu buat mendengar anak, padahal kadang cuma dua menit,” tuturnya.  

Selain itu, banyak orang tua tanpa sadar menggunakan 12 gaya komunikasi yang bisa menghambat perkembangan kepercayaan diri anak. Apa saja 12 gaya komunikasi tersebut?

Gaya komunikasi ini antara lain memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/melebali, mengancam, menasihati, membohongi, menghibur secara berlebihan, mengkritik, menyindir, dan menganalisa secara berlebihan. 

Memerintah, dalam arti menggunakan perintah untuk memaksakan keinginan orang tua, dan tidak peduli perasaan dan pemikiran anak. Menyalahkan, berarti menimpakan beban perasaan atas suatu kejadian ke si anak. Misalnya dengan kata-kata “Makanya ibu bilang, kita jadi terlambat.”

Meremehkan, artinya menganggap enteng pencapaian anak. Adapun membandingkan, contohnya seperti kata-kata yang seolah membandingkan antara anak dengan orang lain.

Penerapan label-label negatif juga sering dilakukan orang tua, seperti seperti "bandel" atau "lelet”. 

Kata-kata negatif yang dilontarkan berulang kali kepada anak bisa berdampak panjang. Label tersebut bisa menempel pada anak hingga mereka merasa dicap dan dipandang negatif. “Bayangkan satu hari berapa cap ditempel ke anak, kita tempelkan ke anak bertahun-tahun,” tutur pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati tersebut.

Mengancam, berarti memaksa anak untuk mengikuti keinginan kita dengan cara menyatakan bahwa hak anak akan diambil kalau ia tidak mau nurut. Adapun gaya, menasehati, maksudnya dilakukan pada timing dan caranya sama sekali tidak pas.

Membohongi, membohongi. Maksudnya menyatakan sesuatu yang tidak jujur atau bukan sebenarnya, hanya supaya anak bisa ikut keinginan orang tua atau supaya ia tidak tantrum. Menghibur, adalah menghibur saat momen yang tidak tepat. 

Mengkritik, berarti memberikan penilaian terhadap hasil karya anak dengan kalimat-kalimat negatif, Menyindir, berarti memberikan merespon sesuatu dengan bahasa sindiran, seperti “siapa yang tadi pagi terlambat?”.

Terakhir, menganalisa, yang berarti menganalisis kejadian yang dialami anak tanpa anak minta atau tidak memahami kejadian sebenarnya. 

12 gaya populer tersebut pada akhirnya memengaruhi kepercayaan diri mereka. “Anaknya menjadi tidak percaya pada perasaannya sendiri, dan ini yang bikin tidak percaya diri, karena takut salah,” tegasnya. 

Ia menilai, menghindari gaya-gaya komunikasi tersebut dan beralih pada komunikasi yang lebih mendukung, akan sangat membantu anak dalam tumbuh kembangnya, terutama dalam hal kepercayaan diri dan pengelolaan emosi. Ia menekankan bahwa komunikasi yang baik, benar, dan menyenangkan memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional anak. 

Untuk itulah, orang tua maupun pendidik diharapkan dapat memahami bahwa setiap interaksi dengan anak merupakan peluang untuk membangun kepercayaan diri dan rasa aman pada diri mereka. Mendengarkan secara aktif dan menghindari gaya komunikasi yang negatif adalah langkah awal dalam mendukung anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. **

Editor : Miftahul Khair
#perkembangan emosi #komunikasi #anak #kepercayaan diri