Menjalani proses perjodohan sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Tidak hanya membutuhkan keterbukaan, tetapi juga kesiapan mental dan komunikasi yang baik.
Psikolog Viva Darma Putri, S.Psi., M.Psi. membahas tips penting yang dapat membantu Anda mengenal calon pasangan lebih mendalam, memahami visi hidupnya, hingga memastikan hubungan yang sehat sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Cari Tahu Cara Menghadapi Masalah
Psikolog Viva Darma menyarankan agar pada saat taaruf atau perkenalan, tidak hanya berbicara tentang kepribadian, tetapi juga menggali lebih dalam tentang latar belakang dan track record calon pasangan.
"Penting untuk mengetahui siapa teman-temannya, bagaimana dia bergaul, serta bagaimana dia memanajemen masalah," kata Viva.
Dengan menggali hal-hal tersebut, akan diketahui mengetahui sejauh mana calon pasangan bisa mengelola konflik dan hubungan interpersonal.
Ia menekankan pentingnya memahami bagaimana pasangan menyikapi masalah dan kontrol emosinya, terutama saat menghadapi situasi yang menantang. "Jangan sampai setelah menikah, pasangan menjadi abusive atau sering menggunakan silent treatment sebagai cara untuk mengatasi masalah. Ini malah menjadi tidak sehat hubungannya," tegasnya.
Selain itu, hal lain yang perlu dipahami adalah bagaimana calon pasangan bereaksi saat marah atau kecewa. Tentu saja, kepribadian dan cara mengelola masalah ini harus menjadi bahan pertimbangan penting dalam memilih pasangan hidup, agar hubungan yang terjalin nantinya bisa lebih harmonis dan sehat.
Selama proses perkenalan, ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya diajukan untuk memahami visi dan misi hidup pasangan. "Tanyakan juga hal-hal penting seperti apakah saya boleh bekerja setelah menikah, dan jika tidak, apa alasannya? Bagaimana jika saya tidak bekerja, bagaimana pemenuhan kebutuhan keluarga nantinya?" kata Viva.
Masalah finansial adalah salah satu hal yang perlu digali dengan seksama. Pastikan untuk mengetahui kondisi finansial pasangan, apakah dia memiliki hutang atau cicilan yang bisa menjadi beban setelah menikah. Finansial yang tidak dikelola dengan baik bisa berisiko menjadi bumerang bagi pasangan suami istri di masa depan.
Baca Juga: Indonesia Vs Jepang: Kekalahan Telak 0-4, Masih Beda Kelas
Perlu Persiapan Psikis
Psikolog Viva Darma Putri, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan pernikahan bukan hanya soal kesiapan emosional, tetapi juga fisik. Selain itu, kesiapan psikis juga sangat penting.
“Jangan beranggapan menikah itu hilang masalah, malah akan menambah masalah yang baru,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa seseorang harus siap dengan perubahan perilaku dan lingkungan setelah menikah, serta memahami hak dan kewajiban masing-masing dalam pernikahan.
Viva juga menekankan pentingnya pasangan suami istri memiliki visi dan misi yang sama dalam hal pengasuhan anak. "Penting untuk membahas bagaimana cara mendidik anak, bagaimana menangani masalah yang muncul, dan siapa yang mengambil keputusan dalam situasi tertentu," ujar Viva.
Pasangan yang memiliki perbedaan pendapat dalam hal pengasuhan anak dapat menghadapi masalah besar dalam rumah tangga. Misalnya, jika ibu dan ayah memiliki pandangan yang berbeda tentang cara mendisiplinkan anak, hal ini bisa menimbulkan kebingungan pada anak dan ketegangan di dalam keluarga.
"Jangan sampai ibu bilang A, bapak bilang B, dan akhirnya anak menjadi bingung. Ini bisa merusak keharmonisan rumah tangga dan pengasuhan anak," tegas Viva.
Apabila diperlukan, konseling pranikah adalah salah satu cara yang sangat disarankan untuk membantu pasangan mempersiapkan diri secara emosional dan psikologis sebelum menikah. (sti)
Editor : Miftahul Khair