Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kiat Memasuki Dunia Kerja untuk Gen Z: : Kunci Sukses dan Tantangannya

Miftahul Khair • Selasa, 3 Desember 2024 | 12:41 WIB

 

ilustrasi mahasiswa gen Z.
ilustrasi mahasiswa gen Z.
Generasi Z (Gen Z) dikenal memiliki karakteristik yang unik. Sebagai generasi yang lahir di era digital, mereka sangat fasih dalam menggunakan perangkat teknologi dan media sosial. Namun, tantangan tetap ada. Terutama saat mereka memasuki dunia kerja. 

Oleh : Siti Sulbiyah

JAKPAT telah melakukan survei untuk memahami karakteristik dan preferensi Gen Z di dunia kerja. Survei tersebut yang melibatkan 1.262 responden, di mana 63 persen di antaranya merupakan individu Gen Z yang memiliki pandangan dan preferensi terkait tempat kerja.

Dari hasil survei tersebut, diketahui Gen Z mulai memasuki dunia kerja pada usia 18 hingga 20 tahun. Di antara responden yang sudah bekerja, sebanyak 43 persen menyatakan bahwa pekerjaan mereka saat ini merupakan pekerjaan pertama mereka. Sementara itu, sebagian lainnya pernah berganti pekerjaan satu kali sebanyak 31 persen responden, dan 15 persen pernah berganti pekerjaan dua kali.

Masih dari survei yang sama, alasan utama Gen Z memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya adalah gaji yang tidak memuaskan sebanyak 41 persen responden. Selain usianya yang masih muda, tawaran pekerjaan yang lebih menarik dan keinginan untuk menjajaki jenis pekerjaan lain menjadi alasan Gen Z untuk resign.

Sebanyak 73 persen responden merasa puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Bagi individu Gen Z yang merasa puas dengan pekerjaannya, hal tersebut menunjukkan loyalitas mereka terhadap perusahaan. Mayoritas dari mereka telah bekerja di perusahaan selama 1-2 tahun 31 persen, dan 24 persen telah bekerja selama lebih dari dua tahun.

Menurut Septiana Widi Sugiastuti, Research Lead di Jakpat, perusahaan dapat menyesuaikan strategi rekrutmen, pengembangan karyawan, dan manajemen untuk menarik dan mempertahankan talenta dari kelompok demografi ini. 

“Di tempat kerja, Generasi Z cenderung mengutamakan keseimbangan kehidupan kerja yang sehat seperti menjaga kesehatan mental. Mereka cenderung mencari pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas, seperti kerja jarak jauh atau jadwal kerja yang fleksibel dengan gaji yang memuaskan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis.

Ia menekankan pentingnya memperhatikan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk Gen Z untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. 

Di sisi lain, media sosial juga memegang peranan penting dalam kehidupan profesional Gen Z, di mana 45 persen dari mereka menggunakan media sosial untuk memperluas jaringan profesional mereka. Sementara itu, 37 persen menggunakan media sosial untuk membangun personal brand mereka.

Dalam Webinar Callistha Foundation dengan tema “Tips Mengelola Stress untuk Gen Z Adaptasi Awal di Dunia Kerja”, yang dieglar Senin (25/11), Fida Muljono, seorang konselor pengasuhan memaparkan tentang tantangan serta peluang karir generasi yang lahir 1997 hingga 2012 itu.

Ia mengatakan, Gen Z memiliki ciri khas yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Terlahir di era teknologi, Gen Z sangat fasih dalam menggunakan perangkat digital dan media sosial. 

“Gen Z itu sangat terhubung. Ia selalu terhubung melalui ponsel pintar dan platform daring, serta memiliki akses cepat ke informasi,” ujarnya.

Selain itu, yang menarik dari Gen Z adalah jiwa wirausaha mereka yang kuat. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang baru dan berkolaborasi secara inovatif.

Namun, Fida juga menggarisbawahi bahwa adaptasi Gen Z terhadap teknologi terkadang hanya bersifat permukaan (shallow). 

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompleks. “Karena kemampuan hanya di permukaan, artinya perlu diperdalam. Mereka kalau mempelajari sesuatu sebaiknya juga ditunjang dengan pembelajaran-pembelajaran lain,” imbuhnya.

Dengan mengembangkan keterampilan dan pola pikir utama, ia yakin Gen Z dapat berkembang pesat di tempat kerja yang modern dan dinamis. 

Menurutnya, Gen Z memiliki pandangan unik tentang keuangan, yang mana mereka ingin mencapai stabilitas finansial, namun cenderung memprioritaskan gaya hidup. “Mereka ingin punya keuangan yang stabil, tapi kalau ada uang sedikit mereka akan menggunakannya untuk membeli peralatan yang canggih,” jelasnya.

Karena itulah, agar sukses meniti karir, Gen Z perlu mengembangkan pola pikir dan memiliki etos kerja yang tinggi. Kuncinya adalah mau belajar dan berkembang. “Tumbuhkan rasa haus akan pengetahuan dan bersikap terbuka terhadap pengembangan keterampilan secara berkelanjutan,” tekannya. 

Penting pula bagi Gen Z untuk memiliki komitmen yang kuat dalam mencapai keunggulan. Persoalan yang ada saat ini, kata dia, ketangguhan Gen Z kerap kali menjadi masalah. Hal ini ditunjukkan banyaknya dari mereka yang sulit bertahan di tempat kerja dan memutuskan untuk mengundurkan diri lebih cepat. 

“Ketangguhan Gen Z tidak kuat, kalau ada masalah mereka memilih untuk tidak bertahan, tidak berlama-lama dengan pekerjaan tersebut,” katanya.

 

Belajar Bekerja Sama

Fida Muljono, konselor pengasuhan mengatakan kemampuan Gen Z yang cenderung mahir dalam teknologi, sebaiknya diimbangi dengan memperkuat kemampuan mereka dalam bekerja sama dan menyampaikan gagasan dengan jelas.

“Gen Z dapat belajar bekerja sama, dengan cara berkontribusi aktif dalam proyek kelompok dan membangun hubungan yang harmonis dengan rekan kerja,” katanya.

Gen Z juga perlu mengembangkan keterampilan komunikasi baik tertulis dan verbal agar ide-ide dapat tersampaikan dengan jelas dan persuasif. Penting pula untuk belajar memecahkan masalah karena hal ini akan terus mereka hadapi di dunia kerja.

Gen Z menurutnya juga harus memiliki kemampuan beradaptasi, serta mampu mempelajari dengan baik budaya kantor, berikut proses, dan cara kerja baru dengan cepat. “Terampil Beradaptasi, sadar akan perubahan, maka kembangkan keterampilan, dan siap berubah pendapat,” ujarnya.

Selain itu, tak ada salahnya untuk belajar dan mencari bimbingan dari para pekerja senior yang memiliki pengalaman lebih di bidangnya. “Meminta nasihat dari profesional berpengalaman penting untuk mempercepat perkembangan,” imbuhnya. **

Editor : Miftahul Khair
#karir #Gen Z #dunia kerja