Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cara Memilih Skincare yang Tepat: Tips dari Ahli untuk Kulit Sehat dan Terawat

Miftahul Khair • Jumat, 13 Desember 2024 | 13:47 WIB
Seorang wanita menggunakan skin care.
Seorang wanita menggunakan skin care.

Memilih produk skincare yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Setiap jenis kulit memiliki kebutuhan yang berbeda, oleh karena itu, penting untuk memilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit.

Oleh: Siti Sulbiyah

Industri kosmetik dan skincare di Indonesia terus berkembang. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendata jumlah industri kosmetik di Indonesia naik sekitar 21 persen dari 913 perusahaan pada 2022 dan menjadi 1010 perusahaan pada pertengahan 2023.

Hal tersebut diungkapkan oleh Hesti Kurniasih, Kasubbag Administrasi dan Umum Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dalam Kelas Edukasi bertajuk “Bahan Aktif yang Berkualitas Kunci Skincare yang Aman" pekan lalu. 

Seiring tumbuhnya industri kosmetik di Indonesia, temuan terhadap bahan dilarang dan berbahaya juga sering ditemukan. "Pada September 2022 hingga Oktober 2023, BPOM telah menemukan 181 item kosmetik mengandung bahan yang dilarang atau berbahaya," ungkap Hesti mengutip data BPOM.

Bahkan, lanjut dia, awal 2024, BPOM juga menemukan 5.937 bahan kosmetik yang mengandung bahan yang dilarang serta 2.475 skincare beretiket biru yang tidak sesuai ketentuan. Hal ini pun menjadi kewaspadaan bersama.

Sementara itu, dokter spesialis kulit dan kelamin Dhelya Widasmara yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut memberikan edukasi tentang penggunaan produk-produk perawatan kulit. Dalam paparannya, ia menyebut bahwa kulit adalah bagian yang terluas dari tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari dunia luar, seperti bakteri, debu, dan kotoran.

"Kita biasanya ada aktivitas terus kemudian terkena bakteri debu dan lain-lain, tidak langsung masuk ke dalam jadi dia menempel ke kulit dulu," ungkapnya.

Dhelya menambahkan kulit tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga mencerminkan kondisi kesehatan seseorang. Melalui kulit dapat diketahui gaya hidup seseorang, serta memperkirakan usia mereka. “Jika kita merawat kulit dengan baik, itu akan terlihat," jelasnya.

Lebih lanjut, Dhelya menjelaskan pentingnya kulit dalam konteks sosial. Beberapa gangguan kulit, seperti jerawat, dapat menyebabkan gangguan psikososial, di mana penderitanya merasa kurang percaya diri dan enggan bersosialisasi.

Dampak buruk dari penggunaan bahan berbahaya dalam skincare yang sering kali tidak terlihat secara langsung, namun dapat berdampak jangka panjang. Efek samping dari penggunaan produk skincare yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri bisa sangat merusak kulit. 

"Efek sampingnya bisa berupa kemerahan, tampak urat-urat di kulit, dan itu adalah dampak dari penggunaan jangka panjang," jelasnya. 

Ia menekankan bahwa kerusakan kulit ini tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan dapat muncul setelah 2-5 tahun, bahkan 10 tahun ke depan.

Ia menekankan pentingnya penggunaan bahan aktif skincare yang telah terbukti secara ilmiah memiliki efek langsung dalam menangani masalah kulit. Bahan aktif itu adalah komponen utama yang bertanggung jawab untuk efektivitas obat itu sendiri. Produk skincare bisa mengandung dari berbagai bahan namun nggak semuanya merupakan bahan aktif.

“Jika ingin mengetahui kondisi kulit tertentu, perlu memilih produk yang mengandung bahan aktif yang memang dirancang untuk kondisi kulit, misalnya berjerawat pakai apa, kalau ada kerutan kita menggunakan apa,” katanya. 

Ia menjelaskan bahwa untuk memilih bahan aktif yang berkualitas dalam produk perawatan kulit, ada beberapa kriteria penting yang harus diperhatikan. Pertama, bahan aktif harus aman dan efektif, yang berarti bahan tersebut telah diuji secara klinis dan terbukti memberikan manfaat bagi kulit tanpa menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Kedua, konsentrasi bahan aktif harus tepat. Efektivitas dari bahan aktif sangat bergantung pada seberapa tepat konsentrasi yang digunakan serta lamanya penggunaan. “Di mana efektivitas bahan aktif tergantung pada konsentrasi yang sesuai dan juga berapa lama pemakaiannya,” tuturnya.

Selain itu, bahan aktif yang berkualitas harus bebas dari bahan berbahaya. Hindari produk yang mengandung bahan berbahaya seperti paraben berlebihan hingga pewarna buatan, yang dapat merusak kulit dalam jangka panjang. 

Menurutnya ada beberapa hal penting dalam memilih produk skincare yang aman dan sesuai dengan jenis kulit. Penting untuk memilih bahan aktif yang sesuai dengan kebutuhan kulit, ada yang kulit kering ada juga kulit berminyak.

Selain itu, penting untuk membaca label dan komposisi untuk mengetahui bahan-bahan yang ada di dalam produk. “Gunakan produk berlisensi BPOM. Pastikan produk sudah terdaftar di BPOM untuk menjamin keamanan,” ujarnya.

 

Kulit Berminyak vs Kulit Kering

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dhelya Widasmara, menilai perawatan yang tepat untuk jenis kulit berminyak dan kering, yang dimulai dengan pemilihan pembersih dan pelembab yang sesuai.

Untuk kulit berminyak, disarankan menggunakan pembersih yang berbusa. Hal ini membantu menghilangkan minyak berlebih tanpa membuat kulit terasa terlalu kering. Selain itu, hindari pelembab berbahan dasar minyak atau krim yang berat karena dapat bersifat komedogenik, yaitu menutup pori-pori dan meningkatkan risiko timbulnya komedo. 

“Pelembab yang lebih cocok untuk kulit berminyak adalah yang mengandung hyaluronic acid,” tuturnya.

Sementara itu, lanjut dia, kulit kering sebaiknya dirawat dengan pembersih yang tidak berbusa. Pelembab yang tepat untuk kulit kering adalah yang mengandung ceramide, yang berfungsi memperbaiki lapisan pelindung kulit, menjaga kelembapan, dan mencegah kulit menjadi lebih kering.

Dhelya juga mengingatkan bahwa ada mitos yang beredar bahwa mencuci muka lebih sering akan membantu mengurangi jerawat. “Sekarang ada beberapa orang ngomong kalau cuci muka yang lebih sering biar kita nggak jerawatan. Itu salah, itu mitos, karena semakin kita sering mencuci muka maka akan nanti akan lipid itu akan cepat hilang, kulit kita menjadi iritasi,” paparnya. 

Iritasi pada kulit bisa menyebabkan peradangan, kemerahan, dan luka kecil yang mudah terinfeksi bakteri, yang pada akhirnya dapat memicu timbulnya jerawat. “Iritasi itu apa? Yakni inflamasi radang merah kemudian ada luka kecil di situ cepat masuk bakteri dan dia akan menjadi jerawat lagi,” katanya.

 

Aplikasikan Sunscreen dengan Tepat

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dhelya Widasmara, menekankan bahwa salah satu masalah kulit yang sering muncul akibat penggunaan skincare yang tidak tepat adalah melasma. Ini terjadi terutama pada mereka yang tidak rutin menggunakan sunscreen.

Sunscreen adalah produk yang sangat penting untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar matahari, seperti sunburn, kanker kulit, dan penuaan dini. Sunscreen bekerja dengan cara memblokir atau menyerap sinar ultraviolet (UV) yang dapat merusak kulit.

Dhelya memberikan cara yang benar dalam menggunakan sunscreen, antara lain, pilih produk dengan SPF 30 atau lebih dan “broad spectrum". Penggunaan sunscreen juga dilakukan 15 menit sebelum terpapar matahari agar bekerja maksimal.

“Gunakan jumlah yang cukup, sebanyak 2 ruas jari,” tuturnya.

Selain itu, sunscreen perlu diaplikasikan kembali setiap dua jam sekali, terutama setelah berenang atau berkeringat. Sunscreen harus dipakai dan diaplikasikan secara berkala, misalnya setelah berwudhu bagi yang muslim. (**)

Editor : Miftahul Khair
#kulit sehat #skincare #cara memilih