Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Belajar dari Kasus Agus Buntung: Waspadai Rayuan dan Intimidasi Perilaku Manipulatif

Miftahul Khair • Sabtu, 14 Desember 2024 | 11:39 WIB
Ilustrasi rayuan manipulatif.
Ilustrasi rayuan manipulatif.

Perilaku manipulatif merupakan usaha seseorang untuk memengaruhi atau mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi. Perilaku ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang gender atau latar belakang.

Oleh : Siti Sulbiyah

Pelaku pelecehan seksual yang dilakukan seorang disabilitas berinisial IWAS alias Agus Buntung memakan korban belasan korban orang. Bahkan sebagian di antaranya masih duduk di bangku SMP dan SMA. 

Mengutip jawapos.com, berdasar rekaman video dan suara yang berhasil diambil oleh beberapa korban, terdengar bagaimana Agus berupaya menjerat korban-korbannya. Dia bicara panjang lebar, melancarkan rayuan maut untuk menjerat korbannya.

Ketua Komisi Disabilitas Daerah (KDD) NTB, Joko Jumadi, mengungkapkan modus yang digunakan Agus Buntung dalam melancarkan aksinya. “Jadi dari 15 aduan atau laporan yang kita terima, modusnya hampir sama kecuali memang ada dua anak yang memang modusnya dipacarin,” terang Jumadi.

Jumadi mengatakan, mulanya pelaku mengajak berkenalan. Kemudian membangun hubungan emosional atau grooming. Setelahnya, pelaku melancarkan manipulasi psikologis. 

“Kalau umpamanya secara baik-baik saja tidak bisa, maka biasanya terakhir nanti ada tindakan pengancaman-pengancaman berdasarkan hasil informasi yang sudah dia dapatkan dari si korbannya,” jelasnya.

Kasus Agus Buntung memantik perhatian publik. Pasalnya publik sempat meragukan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan pria asal Lombok itu karena ia tak memiliki kedua tangan.

Dosen Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Pontianak, Bella Yugi Fazny,M.Pd, menilai Agus secara tubuh atau fisiknya terbatas (disabilitas) namun secara perkembangan kemampuan otak, kemampuan resiliensi dia berjuang bertahan hidup normal seperti manusia pada umumnya. 

“Hasrat seksualnya dia normal seperti manusia pada umumnya,” katanya. 

Dari kasus Agus, ia menilai ada fenomena di mana justru publik yang mengalami disabilitas pengetahuan. Ia menilai bahwa publik seringkali berpikir bahwa individu dengan disabilitas tidak dapat berbuat banyak dan hidup terbatas, padahal kenyataannya mereka mampu berjuang lebih keras dalam menghadapi kehidupan.

"Bukan berarti karena mereka tidak memiliki tubuh yang lengkap, mereka tidak bisa hidup,” tambahnya.

Fenomena ini menjadi jelas ketika banyak pihak yang merasa kasihan dan tergerak oleh kondisi Agus, tanpa memahami sepenuhnya realitas kehidupan kaum disabilitas. Menurut Bella, ketika Agus berpura-pura menjadi korban (playing victim), publik dengan cepat memberikan simpati. Hal ini mencerminkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kehidupan marginal para penyandang disabilitas.

Menariknya, ia juga menyoroti data dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan, yang menunjukkan bahwa kaum disabilitas rentan menjadi korban kekerasan seksual. Namun, kasus yang melibatkan pelaku disabilitas, seperti Agus, menjadi fenomena baru. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku kekerasan seksual tidak terbatas pada kelompok tertentu.

Terlepas dari itu, apa yang dilakukan Agus terhadap korbannya merupakan tindakan manipulatif. Manipulatif adalah usaha mempengaruhi orang lain atau mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi. 

“Biasanya tanpa mempertimbangkan nilai moral jadi tidak dapat berpikir ini etis atau tidak, halal haram nggak,” imbuhnya.

Salah satu jenis manipulasi yang ditemukan dalam kasus ini adalah love bombing, yaitu pemberian perhatian berlebihan di awal dengan tujuan untuk memikat dan membangun hubungan. Setelah mencapai tujuannya, pelaku manipulasi kemudian mulai menunjukkan perilaku yang merugikan, seperti meninggalkan, mengasari, atau melecehkan korban. 

Dalam kasus Agus pula, lanjutnya, diketahui tindakan manipulatif dilakukan dengan memanfaatkan kondisi dan emosi negatif korban dengan ikut menyalah-nyalahkan si korban tepat saat korban telah menceritakan perilaku negatifnya dan mengeluarkan ekspresi negatifnya. 

“Agus menyalah-nyalahkan korban membuat korban merasa makin terpuruk, semakin merasa bersalah terhadap dirinya sendiri hingga membangun pikiran ketidakberdayaan,” tuturnya.

Ketika korban yang sudah tidak berdaya, barulah pelaku mulai mengambil peran sebagai pahlawan. Dalam kasus Agus, Bella mencermati istilah ‘mandi suci’ yang digunakan Agus sebagai supaya melebur dosa dari kesalahan kesalahan yang sudah dibuat. Dalam hal ini, dengan mudah korban akan menuruti permintaan yang diinginkan Agus. ”Karena ya tadi sudah berhasil dimanipulasi,” imbuhnya. 

Dengan cara memanipulasi inilah, Agus menjebak korbannya sampai terbangunlah kepercayaan korban terhadap Agus dan kemudian Agus menyampaikan tujuan utamanya itu, yakni melakukan kekerasan seksual.

Bersuaranya korban terhadap kasus kekerasan seksual yang dialami, menurutnya berhasil memutus terjadinya rantai kekerasan seksual yang dilakukan oleh Agus. Karena itulah, penting sekali untuk saling melindungi dan mendukung korban untuk terbuka dan membantu korban kembali berdaya karena untuk bisa speak up aja ini berat buat korban. 

“Jika kita kaji lagi fase di mana korban akhirnya menuruti apa yang diinginkan oleh Agus itu adalah karena dilatarbelakangi masalah keluarga juga, korban takut orang tuanya tau kalau dirinya pernah melakukan perbuatan negatif,” katanya. 

Dalam pandangannya, orang tua adalah tempat kembalinya anak di mana anak merasa aman nyaman untuk menjadi dirinya sendiri dan bercerita apa pun itu kepada orang tuanya. Dalam kasus Agus, si korban diketahui juga mempunyai masalah keluarga dan pola asuh keluarga yang tidak baik-baik saja.

Tidak Mengenal Gender

Dosen Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Pontianak, Bella Yugi Fazny, M.Pd., mengungkapkan bahwa perilaku manipulatif dapat terjadi oleh siapa saja, tanpa memandang gender. Ia menjelaskan bahwa perilaku ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar.

Menurut Bella, perilaku manipulasi seringkali berakar dari pola pengasuhan yang penuh tekanan pada masa kecil. 

Bella juga menyoroti mengapa beberapa orang lebih rentan menjadi korban manipulasi. Ia menyebutkan beberapa faktor, di antaranya kerentanan emosional dan kerentanan kepercayaan.

Kerentanan emosional yang dimaksud, lanjut dia, korban seringkali memiliki pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, seperti kesepian, ketidaknyamanan tinggi, ketidakstabilan emosi, atau trauma yang menghambat kemampuan mereka mengolah perasaan.

Terkait kerentanan kepercayaan, ia mengatakan beberapa korban memiliki masalah kepercayaan, baik terlalu mudah mempercayai orang lain maupun sulit untuk percaya. 

“Mereka merasa tidak layak, tidak cukup baik, atau tidak mampu diterima oleh orang lain, termasuk oleh orang tuanya sendiri. Akibatnya, mereka mudah percaya pada orang yang terlihat ramah dan menerima dirinya,” ujar Bella.

Untuk menghindari terjebak dalam perilaku manipulatif, Bella menekankan pentingnya edukasi diri. Ia menyebutkan istilah-istilah seperti love bombing dan playing victim sebagai contoh taktik manipulasi yang sering muncul dalam kasus kekerasan.

“Kalau kita teredukasi, kita bisa lebih mawas diri dan mengidentifikasi tanda-tanda manipulasi dalam hubungan,” tuturnya. (**)

Editor : Miftahul Khair
#Agus Buntung #Rayuan #manipulatif