Bagi sebagian wanita, menstruasi berlangsung tanpa keluhan berarti. Namun, bagi yang lain, nyeri haid menjadi masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri ini sering kali dianggap sebagai hal biasa, padahal kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan yang perlu diatasi.
Oleh : Siti Sulbiyah
MENSTRUASI merupakan siklus yang kompleks dan berkaitan dengan psikologis, panca indra, korteks serebri, aksis hipotalamus hipofisis ovarial, dan endrogen. Setiap wanita memiliki pengalaman menstruasi yang berbeda-beda. Sebagian wanita mendapatkan menstruasi tanpa keluhan, namun tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan menstruasi disertai keluhan sehingga mengakibatkan rasa ketidaknyamanan berupa dismenore. Ini adalah istilah medis untuk nyeri haid atau kram perut yang terjadi sebelum atau saat menstruasi.
Menurut data WHO (2016), dismenore primer terjadi pada 50 persen perempuan di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 90 persen perempuan yang mengalami dismenore merasakan nyeri ringan hingga sedang, sementara 10-15 persen lainnya menghadapi nyeri berat. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi dismenore mencapai 64,25 persen, dengan 54,89 persen berupa dismenore primer dan 9,36 persen dismenore sekunder.
Nyeri haid menjadi salah satu topik yang diulas dalam Webinar Nasional Kesehatan Reproduksi yang digelar oleh Direktorat Kesehatan Usia Produktif & Lanjut Usia Kementerian Kesehatan, Kamis (19/12). Dokter Kandungan, dr. Dyana Safitri Velies, Sp.OG (K) M.Kes, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan terdapat gejala yang menyertai haid atau menstruasi.
Ia mengatakan terdapat gejala fisik yang muncul sebelum menstruasi atau dikenal sebagai sindrom pramenstruasi (PMS) meliputi sakit kepala, pembengkakan tubuh, perut kembung, dan nyeri pada payudara. Gejala ini biasanya muncul satu minggu sebelum menstruasi dan menghilang saat menstruasi dimulai.
Selain gejala fisik, terdapat pula gejala psikologis seperti rasa marah, panik, cemas, sedih, sulit berkonsentrasi, kebingungan, kelelahan, insomnia, dan perubahan suasana hati yang ekstrem. Ia menegaskan pentingnya mengidentifikasi tingkat keparahan gejala ini.
“Kalau misalnya memang seminggu jelang menstruasi lalu sangat berbeda hidupnya dibandingkan dengan minggu-minggu lainnya, seperti harus konsultasi,” tuturnya.
Ia mengatakan sebagian besar perempuan, sekitar 72 persen, tidak mengalami PMS atau hanya mengalami gejala ringan. Namun, 24 persen perempuan menghadapi PMS yang signifikan, dan 4 persen lainnya menderita gangguan pramenstruasi parah atau premenstrual dysphoric disorder (PMDD).
“Empat persen mengalami PMDD, ini gejalanya sangat melemahkan sehingga orang-orang tersebut gejalanya seperti orang depresi, bahkan punya pemikiran bunuh diri,” katanya.
Dismenore dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Dismenore primer terjadi akibat proses menstruasi tanpa adanya penyakit lain. Sebaliknya, dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti endometriosis, adenomyosis, hingga myoma.
Dyana menegaskan menjelaskan pentingnya mengenali jenis nyeri haid untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
“Kalau nyeri haid yang perlu dilakukan adalah konsultasi,” ungkapnya.
Menurutnya, nyeri haid yang dianggap normal sering kali membuat perempuan enggan berkonsultasi atau mencari pengobatan. Padahal, baik nyeri akibat dismenore primer maupun sekunder dapat diobati. “Tinggal nanti kita lihat apakah ada penyakit yang perlu diatasi juga atau tidak,” paparnya.
Ia menambahkan, jika nyeri haid dibiarkan, kondisi tersebut dapat memburuk. “Nyeri yang tadinya bisa diobati dengan mudah bisa menjadi sulit, bahkan memerlukan operasi. Kalau ketahuan lebih awal mungkin tidak perlu operasi dan bisa diatasi dengan obat-obatan,” jelasnya.
Penanganan yang terlambat juga dapat mengganggu fungsi reproduksi. Di samping itu, perempuan yang mengalami haid, dapat mengatasi persoalan tersebut dengan beberapa cara. Misalnya mengompres perut dengan air hangat. Saat ini tersedia produk seperti koyo hangat untuk kenyamanan.
Selain itu, bisa juga Melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau yoga, hingga melakukan relaksasi dan meditasi. Tak ada salahnya juga menggunakan obat nyeri. “Obat antinyeri tidak menyebabkan kecanduan, tujuannya untuk mengurangi nyeri,” ucapnya.**
Editor : A'an