Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Konsumsi Konten Sebabkan Brain Rot

A'an • Jumat, 10 Januari 2025 | 12:54 WIB
Ilustrasi Brain Rot.
Ilustrasi Brain Rot.

Mengkonsumsi konten digital berdurasi pendek di media sosial semakin menjadi kebiasaan di hampir semua level generasi. Aktivitas ini dinilai dapat berdampak pada penurunan kemampuan kognitif, atau yang lebih dikenal dengan istilah brain rot.

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

 

Istilah "brain rot" atau "pembusukan otak" menjadi sorotan global setelah dinobatkan sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press. Istilah ini dipilih setelah lebih dari 37.000 orang di seluruh dunia memberikan suaranya.

Fenomena brain rot semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan generasi muda yang sangat akrab dengan dunia digital. Brain rot mengacu pada penurunan kemampuan kognitif seseorang akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang ringan dan tidak merangsang otak, seperti video pendek di media sosial. 

Mengutip laman resmi Oxford University Press, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan yang diduga terjadi pada kondisi mental atau intelektual seseorang, terutama dilihat sebagai akibat dari konsumsi berlebihan terhadap materi (sekarang terutama konten daring) yang dianggap remeh atau tidak menantang. 

“Saya merasa sangat menarik bahwa istilah 'busuk otak' telah diadopsi oleh Gen Z dan Gen Alpha, komunitas-komunitas yang sebagian besar bertanggung jawab atas penggunaan dan pembuatan konten digital yang dirujuk oleh istilah tersebut,” kata Casper Grathwohl selaku Presiden Oxford Languages dalam keterangan tertulis.

Gen Z dan Gen Alpha ini telah memperkuat ekspresi tersebut melalui media sosial, tempat yang disebut-sebut sebagai penyebab 'busuk otak' tersebut. Hal ini menurutnya menunjukkan kesadaran diri yang kurang pada generasi muda tentang dampak berbahaya dari media sosial yang mereka warisi.

Dalam program Siaran Sehat yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI, Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengungkapkan fenomena terbaru yang sedang banyak dibicarakan, yaitu istilah brain rot. Menurutnya, istilah ini berasal dari dua kata, yaitu "brain" yang berarti otak, dan "rotten" yang artinya busuk. 

Istilah ini merujuk pada kondisi penurunan fungsi kognitif otak, yang kini mulai terlihat pada banyak orang, terutama di kalangan pengguna media sosial yang intens. "Kondisi ini bisa ditandai dengan gejala seperti mudah lupa dan kesulitan berkonsentrasi, yang sering kali disebabkan oleh kebiasaan berlebihan dalam menggunakan gadget," tuturnya.

Salah satu kebiasaan yang mempengaruhi penurunan kognitif adalah aktivitas scrolling media sosial yang berlangsung terus-menerus. Ketika menggulirkan layar ponsel, satu konten hanya bertahan sekitar 15 hingga 30 detik, kemudian berganti ke konten lainnya. Dengan waktu yang singkat ini, pengguna belum sempat memproses informasi yang satu, namun sudah langsung beralih ke yang lain.

Kebiasaan ini diakuinya memberikan sensasi yang menyenangkan dan memicu hormon dopamin yang dapat meningkatkan perasaan bahagia. “Tetapi karena singkat ini dapat menstimulasi hormon dopamin yang bikin kita bahagia sehingga kita betah, dan kita tidak perlu berpikir (keras),” tuturnya.

Walau memberikan efek dopamin, Vera mengingatkan bahwa dampak jangka panjangnya bisa sangat berbahaya. Kecanduan scrolling media sosial dapat mengganggu kemampuan konsentrasi dan berpikir kritis. Otak dalam hal ini menjadi terbiasa dengan informasi yang datang secara instan, sehingga semakin sulit untuk fokus dalam melakukan tugas yang membutuhkan waktu dan pemikiran lebih mendalam.

Vera mengatakan kesenangan yang didapatkan dari scrolling media sosial bersifat instan dan minim usaha, sehingga kerap kali menjadi pilihan pengguna. Berbeda dengan kesenangan lain yang memiliki effort yang lebih besar, seperti berolahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu di luar ruangan. 

“Ini effortnya besar, sedangkan scroll media sosial effortnya lebih sedikit,” imbuhnya.

Di samping itu, kebiasaan berlebihan mengakses konten-konten instan adalah stres dan kelelahan mental. Ketika otak tidak diajak untuk belajar hal-hal baru atau dipacu untuk berpikir lebih kompleks, otak bisa menjadi lambat dan cenderung tidak produktif.

“Dampak negatif dari aktivitas ini adalah stress dan lelah mental. Kalau otak lambat karena tidak belajar hal baru, lama-lama akan stres,” tuturnya. **

Editor : A'an
#Brain Rot