Di dunia kerja yang semakin kompetitif terdapat dua keterampilan utama yang harus dikuasai oleh seorang pekerja, yakni softskill dan hardskill. Keduanya saling melengkapi dan sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja.
Oleh : Siti Sulbiyah
Dalam Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik, di Kalimantan Barat menunjukkan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja. Data BPS Kalbar menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja per Agustus 2024 tercatat sebanyak 3,01 juta orang, atau meningkat sebesar 86,90 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Peningkatan ini diikuti oleh kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), namun hanya naik sebesar 1,01 persen poin dibandingkan Agustus 2023.
Ketersediaan lapangan kerja saat ini masih menjadi isu penting yang dihadapi oleh para pencari kerja. Hal ini tercermin dari tingginya jumlah pencari kerja yang memadati acara job fair, meskipun jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia tidak terlalu banyak. Keadaan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara jumlah lulusan yang ada dengan lapangan kerja yang tersedia di pasar kerja.
Aria Trisanjaya, seorang HR Specialist, mengungkapkan hal tersebut dalam webinar Satu Pintu yang diselenggarakan oleh platform pencari kerja, Satu Kerja. Dalam kesempatan itu, Aria menyatakan bahwa jumlah lapangan pekerjaan yang terbuka saat ini masih sangat terbatas, sehingga menyebabkan persaingan antar pencari kerja semakin ketat.
"Ini membuktikan bahwa ketersediaan lapangan kerja kita ini sebenarnya kurang dengan lulusan-lulusan yang ada," ujar Aria.
Dengan jumlah lowongan yang terbatas, persaingan di pasar kerja semakin tinggi. Menurut Aria, dalam beberapa kasus, satu posisi pekerjaan bisa diperebutkan oleh puluhan hingga ratusan orang.
Aria menyoroti masalah yang dihadapi oleh banyak pencari kerja, khususnya lulusan baru. Banyak dari mereka yang masih terjebak dalam pemikiran idealis, di mana mereka merasa hanya akan bekerja di bidang yang sesuai dengan passion atau jurusan kuliah mereka.
Padahal, menurut Aria, banyak lowongan pekerjaan yang tidak mensyaratkan jurusan tertentu, sehingga peluang kerja tetap terbuka lebar meskipun tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. “Akhirnya mereka kesulitan sendiri tuh mencari pekerjaan karena apa harus pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya,” tuturnya.
Karena itulah ia menyarankan agar pencari kerja lebih fleksibel dalam mencari pekerjaan dan tidak terlalu memilih-milih, apalagi jika sudah lama mencari dan belum mendapatkan pekerjaan. "Sebisa mungkin carilah pekerjaan terlebih dahulu, jangan terlalu memilih-milih, karena semakin lama mencari pekerjaan dan belum dapat-dapat, itu akan semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai," katanya.
Tantangan berikutnya yang dihadapi oleh pencari kerja adalah kesalahan dalam proses seleksi. Banyak pencari kerja yang tidak mempersiapkan diri dengan baik sebelum mengikuti wawancara. Hal ini seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap posisi yang ingin mereka lamar.
"Pada saat wawancara, seharusnya pencari kerja sudah mengetahui posisi yang ingin di-apply, namun ternyata banyak yang tidak mempersiapkan diri dengan baik," jelas Aria.
Selain itu, ada juga tantangan terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh pencari kerja. Aria menyebutkan bahwa seringkali pencari kerja belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang dilamar. Hal ini menjadi hambatan bagi mereka untuk dapat diterima di perusahaan.
Lantas kompetensi apa yang diperlukan oleh dunia kerja yang semakin kompetitif ini? Aria mengatakan para pencari kerja dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan guna memenuhi kebutuhan perusahaan. Dua keterampilan utama yang harus dikuasai adalah softskill dan hardskill.
Softskill sering diartikan sebagai keterampilan interpersonal atau kecerdasan emosional yang berkaitan dengan kepribadian dan perilaku seseorang. “Kayak berpikir kritis berpikir kreatif, komunikasi merupakan bagian daripada softskill,” ungkapnya.
Sementara itu, hardskill merujuk pada keterampilan teknis yang dapat diukur dan diajarkan. Keterampilan ini berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan teknis yang dimiliki seseorang, yang dapat dinilai secara objektif. Misalnya, keterampilan dalam menggunakan perangkat lunak tertentu atau kemampuan dalam bidang teknik tertentu.
"Softskill dan hardskill ini adalah kemampuan yang saling melengkapi satu sama lainnya dan harus sama-sama dikembangkan," jelas Aria.
Saat perusahaan atau recruiter melakukan screening terhadap CV pelamar, mereka biasanya akan melihat latar belakang pendidikan dan kompetensi yang tertulis di CV. Hardskill, seperti kemampuan teknis yang relevan dengan posisi yang dilamar, menjadi penilaian pertama dalam memilih calon karyawan.
Namun, saat memasuki tahap wawancara, proses seleksi beralih untuk menilai softskill. Dalam wawancara, recruiter akan melihat bagaimana kepribadian pelamar, cara berkomunikasi, etika, dan kemampuan interpersonal lainnya.
“Proses seleksi biasanya akan dikombinasikan untuk mengukur antara softskill dan hardskill,” ujarnya.
Meskipun hardskill dapat membuka peluang untuk wawancara, seringkali yang menentukan kelulusan seorang pelamar adalah softskill-nya. Banyak pelamar yang sudah berhasil dipanggil wawancara namun gagal karena kurangnya kemampuan dalam hal komunikasi, penyesuaian diri, atau kecerdasan emosional. **
Editor : A'an