Cacar air merupakan penyakit yang hampir semua orang alami, terutama di masa kecil. Namun, masih banyak pertanyaan mengenai kemungkinan seseorang mengalami cacar air lebih dari sekali.
Oleh : Siti Sulbiyah
Sita, membagikan pengalamannya ketika terserang cacar air untuk kedua kalinya. Pekerja perempuan di Kota Pontianak ini mengisahkan, pada tahun 2013 setelah wisuda, ia mendapati bintik-bintik kecil seperti bruntusan di wajahnya. Awalnya, ia mengira hal tersebut adalah efek dari penggunaan make-up wisuda.
“Besoknya muncul benjolan kecil berair. Lalu kata orang tua itu cacar air,” ujarnya.
Ketika pertama kali terserang, Ia mengaku cukup panik karena benjolan berair muncul dengan cepat dan terasa gatal serta sedikit perih. Meski begitu, ia tidak mengonsumsi obat khusus maupun berobat ke dokter. Dalam beberapa waktu, cacar air tersebut sembuh dengan sendirinya karena jumlah benjolannya tidak terlalu banyak.
Tahun 2025 ini, ia kembali mengalami gejala serupa. Awalnya, ia tidak menduga bahwa itu adalah cacar air karena selama ini yang diketahui bahwa penyakit ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Namun, karena gejalanya muncul dengan cepat, ia akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter umum.
“Katanya (dokter, red) ini cacar air dan diminta untuk menghindari banyak orang selama satu minggu. Kata dokter penularannya itu satu minggu,” tuturnya.
Sebenarnya, ia cukup kaget ketika dokter mengatakan ini adalah cacar air. Penasaran dengan kondisinya, ia pun mencari informasi lebih lanjut. Dari hasil penelusurannya, diketahui bahwa cacar air memang bisa terjadi lebih dari sekali karena virusnya masih bisa tetap aktif di dalam tubuh seseorang.
Menurutnya, cacar air yang kedua ini memiliki perbedaan dengan yang pertama. Kali ini, benjolan yang muncul lebih banyak, dengan ukuran yang awalnya besar lalu berubah menjadi seperti bruntusan jerawat. Meski terasa gatal, rasa tidak nyaman tersebut tidak terlalu parah, kemungkinan karena efek obat yang diberikan dokter. Sama seperti sebelumnya, ia tidak mengalami gejala demam.
"Sejauh ini saya tidak mengalami gangguan kesehatan yang mengkhawatirkan. Hanya saja, ketika awal terkena cacar, saya sempat merasa sedikit sesak. Setelah mencari tahu, ternyata sesak juga bisa menjadi salah satu gejala cacar air," jelasnya.
Sementara itu, Dokter Dermatologi dan Venereologi, dr. He Yeon Asva Nafaisa, M.Sc.DVE, menjelaskan bahwa cacar air atau yang dikenal secara medis sebagai varicella, merupakan infeksi pada kulit yang disebabkan oleh virus varicella zoster.
“Manifestasi utamanya itu pada kulit berupa adanya melenting isi air pada tubuh dan sifatnya sangat menular,” ujarnya, saat menjadi narasumber dalam kegiatan webinar bertajuk ‘Cacar Air Hanya Sekali Seumur Hidup?’, yang digelar oleh Kementerian Kesehatan, pekan lalu.
Menurutnya, cacar air dapat menular melalui udara (airborne), yakni melalui droplet dari saluran pernapasan, serta melalui kontak langsung dengan pecahan lenting berisi cairan di tubuh penderita.
Gejala awal atau prodromal cacar air biasanya muncul selama 2-3 hari, berupa demam, tubuh terasa tidak enak, nyeri kepala, nafsu makan menurun, dan sakit tenggorokan. Setelah itu, baru muncul ruam merah yang khas di area wajah dan kepala terlebih dahulu, sebelum menyebar ke hampir seluruh tubuh dalam bentuk lenting berisi cairan.
“Ruam ini khasnya biasanya dia muncul di area seputaran wajah dan kepala terlebih dahulu, berupa adanya kemerahan,” katanya.
Apakah cacar hanya sekali seumur hidup? Ia mengatakan, cacar air umumnya hanya terjadi satu kali seumur hidup. Biasanya, jika hal ini terjadi pada orang dewasa, itu karena mereka tidak menerima vaksin saat masih anak-anak.
“Karena yang namanya virus kan dia lebih mudah untuk menyerang kondisi pada pasien yang imunitasnya kurang baik sehingga biasanya banyak pada anak-anak terutama yang belum divaksinasi,” tuturnya.
Sebagian virus varicella zoster akan tetap berada dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Pada usia di atas 50 tahun atau jika seseorang memiliki gangguan imunitas, virus ini dapat aktif kembali dalam bentuk herpes zoster.
Menurut jurnal Pediatrics and Child Health, seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah atau mengalami infeksi virus yang sangat ringan pada serangan pertama, masih memiliki kemungkinan terkena cacar air untuk kedua kalinya. **
Editor : A'an