Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Dokter Spesialis yang Produktif dengan Menulis: Antara Medis dan Literasi

Miftahul Khair • Selasa, 18 Februari 2025 | 14:29 WIB

 

Dokter Muhammad Asroruddin, SpM.
Dokter Muhammad Asroruddin, SpM.

Menjadi seorang dokter spesialis mata sekaligus penulis produktif mungkin terdengar seperti dua dunia yang berbeda. Namun, bagi dr Muhammad Asroruddin, SpM, dua dunia ini justru saling melengkapi. Dengan kepiawaiannya dalam bidang medis serta kegemarannya dalam menulis, ia berhasil menghasilkan berbagai karya yang mengedukasi sekaligus menginspirasi banyak orang.

Oleh : Siti Sulbiyah

Menulis bagi Asroruddin adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Ia menuangkan pengalaman medis, kisah pasien, hingga wawasan ilmiah dalam bentuk tulisan yang edukatif dan inspiratif.

"Inspirasi menulis saya sebetulnya hampir sebagian besar berasal dari pengalaman di dunia medis," ungkap Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura ini.

Di balik kesibukannya sebagai praktisi spesialis mata di RS Untan, ia mampu membuahkan sebanyak empat buku. “Kalau proyek bersama antologi sekitar 15 buku,” tuturnya.

Asroruddin merupakan salah satu founder Dokter Kalbar Menulis tahun 2021 yang telah menerbitkan buku antologi bersama para dokter di Kalbar. Sebanyak lima buku antologi yang diterbitkan bersama mereka.

Berbagai kisah yang ia alami sendiri maupun dari pasien, keluarga pasien, serta rekan sejawat menjadi bahan bakar kreativitasnya dalam menulis cerita fiksi dan semifiksi. Sementara itu, untuk buku ilmiah populer, ia mengandalkan keahliannya di bidang kesehatan mata serta kedokteran secara umum.

Perjalanan menulisnya itu dimulai sejak kelas 5 SD, ketika ia mengikuti lomba mengarang di sekolah. Kecintaannya terhadap dunia literasi berlanjut hingga SMP dan SMA, meskipun belum terlalu serius. Barulah saat duduk di bangku kuliah S1, ia kembali aktif menulis, baik dalam bentuk artikel ilmiah, jurnal, opini, maupun cerpen.

"Saya ingin meninggalkan jejak berupa buku-buku yang saya tulis sendiri," ujarnya.

Baginya, menulis bukan sekadar menyalurkan hobi, tetapi juga cara untuk berbagi ilmu dan mengedukasi masyarakat. Ia terinspirasi oleh banyak penulis besar, termasuk para dokter yang aktif menulis di berbagai bidang.

Melalui tulisannya, ia berusaha menyajikan informasi kesehatan dengan gaya yang ringan namun tetap ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia ingin agar masyarakat lebih mudah memahami kesehatan mata dan isu-isu medis lainnya tanpa harus menghadapi bahasa yang terlalu teknis.

Selain buku, Asroruddin juga juga menulis artikel ilmiah, artikel di blog atau media sosial, cerita-cerita pendek, tulisan-tulisan inspiratif seperti model-model chicken soup dan self improvement, ataupun religi. Sebagai dosen dan praktisi kesehatan, ia juga menulis jurnal ilmiah.

Adapun tema yang diangkat pada umumnya tentang kedokteran dan kesehatan dari segala aspek, entah itu tentang profesi saya sendiri sebagai dokter, pasien, keluarga pasien, manajemen rumah sakit, termasuk urusan keluarga, anak, pasangan, dan lain-lain.

“Tema lainnya adalah tentang pengembangan diri terutama mahasiswa, dan anak-anak muda,” tuturnya.

Di sisi lain, sebagai pekerja dan profesional, ia mengakui bahwa waktu yang tersedia untuk menulis sangat terbatas. Maka dari itu, untuk membuat tulisan sebelum dikembangkan, ia memuai dulu dengan pre-writing, atau proses pengembangan ide menulis hingga menjadi outline atau kerangka karangan baik buku maupun artikel.

“Untuk jadwal menulis ya memanfaat waktu sebelum atau setelah bekerja, dan saat libur. Saya usahakan untuk terjadwal sesuai target, ataupun spontan juga,” imbuhnya.

Ia pun banyak membaca buku-buku yang tersedia di pasar untuk mendapatkan pencerahan

atau ide dari para penulisnya dan dari gaya mereka menulis. Untuk tetap produktif, pentingnya baginya untuk menyediakan media menulis seperti ponsel, tablet, ataupun laptop, sehingga dapat bekerja di mana pun berada.

“Jika ada ide muncul, langsung saya tulis dahulu di media itu agar ide tidak hilang,” ucapnya.

Dengan cara ini, maka selanjutnya ide tersebut dikembangkan menjadi tulisan yang utuh sesuai dengan target. Selain itu, ia juga mengusahakan diri untuk menulis setiap hari atau beberapa hari dalam seminggu, minimal 300 kata atau sepanjang satu halaman.

“Jumlah kata kurang dari jumlah tersebut juga tidak masalah, asalkan dapat menulis dengan konsisten,” ujarnya.

Melalui buku-buku yang ditulis, ia berharap dapat menjadi sarana edukasi untuk para pembaca terutama bidang kedokteran dan kesehatan, serta pembaca mendapatkan manfaat atau hikmah dari buku-buku tersebut. Melalui buku ini pula, ia ingin menyampaikan nilai-nilai baik untuk diadopsi dan diterapkan oleh generasi muda saat ini.

“Segala kegelisahan, hal yang tidak sesuai nilai-nilai yang saya anut, kritik terhadap abnormalitas, serta saran-saran perbaikan untuk berbagai pihak dan masyarakat kita juga saya tulis agar menjadi pelajaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” katanya. **

Editor : Miftahul Khair
#medis #dokter spesialis #literasi #menulis