PONTIANAK POST - Anak sulung perempuan sering kali memikul tanggung jawab besar dalam keluarga. Tekanan itu membentuk mereka menjadi pribadi tangguh, tetapi juga bisa memicu stres. Bagaimana memperlakukan anak pertama dengan tepat?
Dalam pola pengasuhan tradisional, anak Perempuan pertama diharapkan menjadi panutan dan membantu ortu untuk mengasuh adik-adiknya. Tak jarang, mereka juga ikut memikul beban emosional orang tua.
”Fenomena ini dikenal sebagai eldest daughter syndrome, sebuah kondisi di mana anak sulung Perempuan merasa harus selalu kuat, mandiri, dan bertanggung jawab, bahkan sampai
mengorbankan kebutuhannya sendiri,” papar Anggita Panjaitan MPsi Psikolog.
Secara jangka panjang, eldest daughter syndrome akan memengaruhi kesehatan mental anak.
Terjadi kecemasan karena merasa harus selalu stand by untuk keluarga.
Sering kali merasa kecewa dengan dirinya sendiri ketika gagal mencapai sesuatu hingga bisa memunculkan depresi.
”Ada satu gejala yang menetap dan paling umum ditemukan, yakni isolasi diri. Dia merasa semua orang butuh ditolongin, tapi nggak ada yang nolongin dia. Maka, dia akan memendamnya sendiri yang justru memperparah depresinya,” sambung psikolog klinis Tiga Generasi tersebut.
Karena itu, anak sulung perempuan yang mengalami eldest daughter syndrome perlu menjaga hubungan dengan adik-adiknya. Diskusikan terkait peran dan beban yang bisa dibagi bersama.
Anak sulung juga perlu paham batasan diri dan tahu kapan harus mengutamakan diri sendiri.
”Kembangkan komunikasi asertif. Ketika ada situasi di mana anak sulung ini benar-benar nggak bisa melakukan yang diminta ortunya atau sedang butuh rehat, komunikasikan ke ortu,” imbuhnya.
Ortu juga mesti paham bahwa si sulung adalah seorang anak. Berikan hak dan kewajiban setara dengan saudaranya yang lain.
Boleh saja memberikan tanggung jawab berbeda, tapi sesuaikan dengan kematangan usia anak.
”Tidak apa juga bila ortu ingin memberi value lebih ke anak pertama, tapi ingat peluang mereka membuat kesalahan untuk memunculkan kekecewaan sama besarnya dengan anak-anak lain. Jadi, singkirkan kalimat seperti ’kamu anak pertama, tapi mengecewakan mama papa,” pesan Anggita.
Ortu pun harus bisa mengerti bahwa anak tidak harus selalu memenuhi ekspektasi mereka.
Kurangi tuntutan. Sebagai gantinya, beri anak pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sembari memberikan pandangan apabila dibutuhkan.
”Ketika anak sudah dewasa, teknik komunikasinya lebih pada saling menghormati. Ortu boleh tetap mengungkapkan ekspektasinya, tapi serahkan keputusannya ke anak,” katanya.
Di sisi lain, tidak semua anak perempuan pertama dengan pengasuhan tradisional mengalami eldest daughter syndrome.
Anggita mengatakan, anak yang secara kepribadian menyenangi peran dan situasi tersebut justru akan merasa enjoy.
Jadi, di luar beban tanggung jawab dan besarnya tekanan yang dihadapi, ada sekumpulan skill yang bisa lebih matang.
”Leadership-nya lebih berkembang karena terbiasa memimpin. Lebih terorganisasi karena terbiasa mengatur adiknya. Kemampuan komunikasinya juga lebih mumpuni,” ungkapnya. (*/lai/c7/nor/jp)
Editor : Miftahul Khair