Fenomena penyebaran paham LGBT di tengah masyarakat semakin menjadi perhatian banyak pihak. Dalam upaya pencegahannya, peran keluarga, terutama ayah dan ibu, menjadi faktor utama dalam membentuk karakter anak agar tidak terpengaruh oleh ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama di Indonesia.
Oleh : Siti Sulbiyah
Aulia (40) begitu prihatin dengan pergaulan anak-anak saat ini. Sebagai orangtua dengan anak yang duduk di bangku SD dan SMP, pengaruh lingkungan yang negatif menjadi hal yang amat dikhawatirkan. Apalagi saat ini nilai-nilai yang menurutnya tidak sesuai dengan norma dan agama dengan mudahnya tersebar di kalangan muda, termasuk anak-anak. Salah satunya pengaruh dari fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
“Tentu menjadi sebuah kekhawatiran bagi saya sebagai orang tua agar lebih memperhatikan pergaulan anak anak-anak saya,” ujarnya.
Mengingat beragam fenomena yang dinilai semakin mengikis nilai-nilai norma dan agama, sebagai orang tua ia berusaha semaksimal mungkin agar hal tersebut tidak terjadi pada buah hatinya. Selain memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan emosi anak-anaknya, aturan mengenai penggunaan gawai juga dilakukan.
“Membatasi penggunaan gadget dengan memberikan waktu luang ke anak-anak untuk bermain secara offline seperti menyediakan media alat peraga diantaranya mainan edukatif dan tontonan keluarga melalui televisi, seraya didampingi sambil dijelaskan baik buruknya,” jelasnya.
Sementara itu, Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar baru-baru ini mengungkap adanya grup WhatsApp LGBT yang anggotanya para pelajar dari beberapa SMP negeri di Kota Pontianak. Diketahui, sebanyak sepuluh siswa SMP negeri bergabung di grup WhatsApp tersebut dan kerap janjian untuk melakukan hubungan seksual yang menyimpang.
Kasus menjadi perhatian serius karena melibatkan pelajar di Kota Pontianak. Ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati menyebut temuan kasus LGBT pelajar yang terhubung antar beberapa sekolah seperti ini merupakan hal yang baru.
“Selain kasus 10 anak, memang sudah ada (sebelumnya). Tapi yang kita temukan di lingkungan sekolah dan terhubung dengan beberapa sekolah, baru satu kasus ini,” katanya usai kegiatan Komitmen Bersama Pencegahan Paham LGBT di Lingkungan Pendidikan yang digelar oleh KPPAD Kalbar, Selasa (4/3).
Eka menekankan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mengawasi pergaulan siswa. Menurutnya, pengaruh sosial sangat kuat dalam membentuk perilaku anak, sehingga diperlukan sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam melakukan pengawasan serta pencegahan penyebaran paham LGBT di lingkungan pendidikan.
“Kita merangkul seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam pencegahan LGBT,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Kalbar, Tri Mega Ralasari, mengungkapkan bahwa remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap paham LGBT karena beberapa faktor psikologis dan sosial. Menurutnya, ada beberapa penyebab utama yang membuat remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan dan paham LGBT.
Menurutnya remaja rentan terpengaruh pemikiran ini lantaran memiliki ketidakstabilan emosi, cenderung mengutamakan kelompok dan pengakuan kelompok, rasa ingin tahu tinggi, serta trauma masa kecil dan pola asuh.
Ia menilai lingkungan pergaulan, tontonan, budaya termasuk legitimasi sosial masyarakat yang memberikan peluang bagi berkembangnya paham dan komunitas pro LGBT didukung oleh daya sensor dan kritisisme publik menjadikan penetrasi semakin efektif, yang kemudian melahirkan habituasi dan adaptasi sosial yang tidak disadari.
“LGBT lahir dari dampak interaksi sosial yang keliru sehingga mempengaruhi penyimpangan perilaku dan seksual (sosial disease),” tuturnya.
Menanggapi keberadaan grup WhatsApp LGBT yang berisi pelajar SMP di Kota Pontianak, Aktivis Pendidikan, Sri Puji Hastuti mengaku miris. Ia pun sepakat bahwa perlu adanya aturan pembatasan penggunaan handphone bagi anak-anak guna mengurangi potensi paparan terhadap hal-hal negatif.
Ia menekankan pentingnya peran ayah dan ibu dalam pengasuhan yang hangat dan penuh penghargaan antara orang tua dan anak. Selain itu, pendidikan seks yang tepat sejak dini juga menjadi faktor penting dalam membentuk pemahaman anak tentang identitas dan perilaku seksual yang sehat.
“Mengawasi anak dalam bermedia sosial juga tak kalah penting,” ujarnya.
Dari sisi sekolah, diharapkan agar lebih sensitif terhadap perilaku anak serta memberikan pemahaman moral dan pendidikan agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Sekolah juga bisa menerapkan kebijakan untuk mengurangi penggunaan HP di lingkungan sekolah agar para siswa tidak mudah terpapar konten yang berpotensi membahayakan perkembangan psikologis mereka. **
Editor : A'an