PONTIANAK POST - Ada beberapa kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang baby sitter. Salah satunya adalah kemampuan bernegosiasi dengan si kecil.
Endah Fitriani, M.Psi mengatakan pada usia di bawah satu tahun, anak dengan mudah saja diatur dan menuruti baby sitter. Namun jika yang diasuh adalah anak yang sudah berusia lebih dari satu tahun, maka sikap memberontaknya sudah mulai muncul.
“Di sinilah diperlukan kemampuan bernegosiasi dari baby sitter terhadap si kecil agar mau makan, mau mandi, mau tidur siang, dan sebagainya,” imbuhnya.
Negosiasi adalah usaha untuk menemukan jalan tengah, membangun batasan, tetapi juga membuat mereka tumbuh.
Namun, negosiasi yang ditekankan di sini sama sekali tidak melibatkan kekerasan.
Baby sitter juga diharapkan memiliki jiwa kreatif. Menurutnya, anak kecil mudah bosan dan kerap rewel jika tidak ada aktivitas yang menarik.
Oleh karena itu, baby sitter harus kreatif dalam menciptakan permainan atau kegiatan yang menyenangkan dan mendidik.
Kreativitas yang dimaksud tentu harus bersifat positif dan tidak mengajarkan anak pada hal-hal yang tidak baik.
“Artinya tidak tercampur dengan kreatif yang tidak mendidik seperti mengajari si kecil berbuat curang, dan sebagainya,” jelasnya.
Menangani masalah juga menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh baby sitter.
Baby sitter yang baik harus mampu menghadapi berbagai situasi tanpa selalu bergantung pada orang tua.
Misalnya, ketika anak rewel, popok habis, atau terjadi konflik dengan saudara kandungnya, baby sitter seharusnya tahu langkah yang harus diambil tanpa terus-menerus meminta arahan dari orang tua.
Endah pun mengingatkan bahwa pekerjaan baby sitter bukan hanya duduk diam mengawasi anak kecil bermain.
Namun, pekerjaan ini juga datang sepaket dengan menyiapkan makan si kecil, memberikan camilan, mengatur berapa lama menonton televisi, jam berapa harus meninabobokan si kecil untuk tidur siang, dan sebagainya. (sti)
Editor : Miftahul Khair