Mahrani (36), resmi menjabat sebagai Kepala Sekolah Indonesia di Jeddah sejak Februari 2025. Guru dari Kota Pontianak ini akan memimpin sekolah dari tingkat TK hingga SMA di salah satu kota utama di Arab Saudi tersebut.
Oleh: Siti Sulbiyah
Mahrani sebelumnya meraih pencapaian gemilang sebagai salah satu dari lima peserta terbaik dalam Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2023 tingkat nasional. Keberhasilannya itu membuka peluang baginya untuk menjadi pemimpin di salah satu Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN).
“Saya dihubungi saat Ramadan 2024 oleh Kemendikbudristek untuk mengikuti seleksi kepala sekolah di luar negeri,” ujar pria kelahiran Mei 1988 itu.
Seleksi tersebut berlangsung dalam beberapa tahap, termasuk pemeriksaan administrasi, pembuatan esai, serta tiga kali wawancara yang mencakup wawasan kebangsaan, pemahaman budaya, dan visi pendidikan.
Sekolah Indonesia di luar negeri dikelola oleh Kementerian Luar Negeri dan tersebar di tujuh negara. Tahun ini, terdapat delapan SILN yang membutuhkan kepala sekolah, termasuk di Belanda, Filipina, Myanmar, Singapura, Thailand, Mesir, serta dua kota di Arab Saudi, Riyadh dan Jeddah.
Mahrani awalnya memilih Riyadh sebagai lokasi tugasnya. Namun, berdasarkan hasil seleksi, ia akhirnya ditempatkan di Jeddah. Kota ini sebenarnya menjadi pilihan favorit dengan 10 kandidat bersaing untuk posisi tersebut. Karena itulah, ia tak menyangka di tempatkan di kota tersebut.
“Saya menduga penempatan ini mengacu pada hasil wawancara, esai, hingga pengalaman,” katanya.
Per 1 Februari 2025, pria kelahiran Sungai Pangkalan ini resmi menjadi Kepala Sekolah Indonesia di Jeddah yang menaungi dari tingkat TK hingga SMA. Namun, saat ini ia masih berada di Pontianak untuk menyelesaikan proses perpindahan, terutama karena akan membawa serta keluarganya.
“Saya masih di Pontianak, sejauh ini koordinasi dilakukan secara daring,” ungkapnya.
Sekolah Indonesia di Jeddah saat ini memiliki sekitar 1.400 siswa, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Mahrani mengungkapkan bahwa sekolah ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, terutama dalam memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang tidak memiliki izin tinggal di Arab Saudi.
“Kita punya kewajiban untuk mencerdaskan dan perlu memberikan pelayanan terbaik bagi mereka,” ujarnya.
Sebagian dari anak-anak tersebut lahir dan besar di Arab Saudi, bahkan belum pernah ke Indonesia. Salah satu tantangan besar adalah memastikan mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan. Salah satu strategi yang diterapkan adalah sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa yang tidak dapat hadir secara fisik di sekolah.
“Kita layani dengan PJJ agar mereka tetap bisa bersekolah,” katanya.
Para siswa di Sekolah Indonesia di Jeddah berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak diplomat, pekerja perusahaan, hingga pekerja rumah tangga. Hal ini membuat keberagaman sosial dan akademik menjadi tantangan tersendiri dalam proses belajar-mengajar.
Selain membawa misi pendidikan, kehadiran Sekolah Indonesia di luar negeri juga bertujuan untuk melestarikan dan mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa. “Kita membawa misi budaya, ingin mengembangkan dan menjaga budaya Indonesia di luar negeri,” ujarnya.
Sebagai bentuk adaptasi dan persiapan, Mahrani juga memperdalam bahasa Arab agar lebih mudah berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. “Keseharian di sana menggunakan bahasa Arab, jadi penting untuk bisa berbahasa Arab,” tuturnya.
Jadi Pelajaran Berharga
Kepala Sekolah Indonesia di Jeddah Mahrani, merasa amanah yang ia terima saat ini memiliki makna mendalam karena tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga kebudayaan. Ia merasa beruntung dapat membawa serta istri, anak, dan ibunya ke Arab Saudi.
“Kami bisa mengoptimalkan hari kerja untuk tugas sekolah, sementara hari libur bisa dimanfaatkan untuk ibadah karena lokasinya dekat dengan Tanah Suci,” tuturnya.
Sebelum mendapat amanah ini, Mahrani merupakan Kepala SD Negeri 3 Pontianak Timur. Sejak 2020, ia telah bertugas di tiga sekolah di Kota Pontianak. Keberhasilannya masuk dalam lima besar Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2023 tingkat nasional ia raih saat menjabat di SD Negeri 9 Pontianak Timur.
Sebagai seorang pendidik, Mahrani tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif menulis buku, makalah, hingga melakukan penelitian. Ia juga terlibat dalam program Guru Penggerak dan mengikuti berbagai kompetisi serta kegiatan untuk meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik.
Dengan menjadi Kepala Sekolah Indonesia di luar negeri, ia berharap hal ini dapat menjadi pelajaran berharga tidak hanya bagi dirinya melainkan orang-orang di sekitarnya. Ia pun mengajak para pendidik lain untuk tidak ragu mengambil peluang di kancah internasional.
“Jika ada kesempatan mengajar atau menjadi kepala sekolah di luar negeri, jangan minder, karena kita bisa,” imbuhnya. (**)
Editor : Miftahul Khair