Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Geliat UMKM di Jongkat, Stik Keladi Jadi Penopang Perekonomian

Siti Sulbiyah Kurniasih • Selasa, 25 Maret 2025 | 14:49 WIB

 

Stik keladi yang sudah dibungkus dalam kemasan. Ada sejumlah varian yang tersedia, dari original. balado, jagung bakar, hingga barbeque.
Stik keladi yang sudah dibungkus dalam kemasan. Ada sejumlah varian yang tersedia, dari original. balado, jagung bakar, hingga barbeque.

Di Desa Jungkat, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, hidup tak selalu mudah bagi para petani. Kondisi lahan yang sering terendam banjir, terutama saat musim hujan, membuat mereka berjuang untuk mempertahankan hidup dari pertanian. Namun, meskipun bertani adalah pekerjaan utama mereka, sejumlah warga berusaha beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang tidak selalu mendukung, salah satunya dengan memproduksi stik keladi.

Oleh : Siti Sulbiyah

Seperti yang dilakukan oleh Munawaroh (45). Ia mengungkapkan bahwa bertani adalah pekerjaan utama yang dilakukannya. Namun, ketika kondisi tidak mendukung, seperti sering terjadinya banjir yang merusak tanaman, ia harus menekuni pekerjaan alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Saya sudah 10 tahun membantu membuat stik keladi ini,” ungkap Munawaroh, warga Desa Jungkat.

Mulai dari mengupas keladi, memotongnya, hingga membantu dalam proses pengemasan produk, ia terlibat aktif dalam setiap tahapan. Proses produksi stik keladi ini juga melibatkan banyak tangan, dengan para laki-laki biasanya bertugas untuk menggoreng keladi tersebut.

Usaha yang awalnya didorong oleh kebutuhan hidup ini kini menjadi sumber pendapatan yang tidak kalah penting bagi Munawaroh dan sejumlah perempuan lainnya di desa itu. Dengan bantuan produksi stik keladi, Munawaroh merasa sedikit terbantu dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, terutama saat kondisi alam tidak memungkinkan untuk bertani. 

Tak hanya itu, kegiatan ini juga mempererat kerjasama antarwarga. Perempuan-perempuan desa ikut berperan dalam produksi stik keladi, yang menjadi peluang untuk berkontribusi lebih dalam perekonomian khususnya di desa.

Di balik usaha produksi stik keladi ini,ada sosok Murakip yang memulai usaha ini sekitar 18 tahun yang lalu bersama sang istri, Sumi. Keduanya merupakan petani yang mengelola berbagai jenis tanaman, seperti padi, pinang, dan keladi. Di sela-sela aktivitas bertani, mereka mulai berinovasi dengan membuat stik keladi.

“Dulu hanya menjual keladi kepada pengepul. Yang besar-besar diambil, sementara yang kecil-kecil berserakan dan tidak dimanfaatkan. Dari situlah saya berpikir, kenapa tidak kita jadikan keripik saja?” ungkap Murakip mengenang awal mula usaha stik keladi.

Usaha ini kemudian berkembang, dengan mereka mulai menjual produk dalam kemasan kecil yang dititipkan di warung-warung sekitar dengan harga sekitar 1.000-2.000 per bungkus. Kini, produk stik keladi sudah memiliki merek sendiri dan bisa dititipkan di supermarket.

Pemasaran stik keladi tidak hanya terbatas di Desa Jungkat atau Kabupaten Mempawah, tetapi juga meluas hingga Singkawang dan Pontianak. Harga jual stik keladi per kilogram yakni Rp80 ribu. 

Permintaan terus meningkat dari waktu ke waktu, namun kerap terkendala bahan baku. Meskipun ada pasang surut dalam usaha ini, Murakip dan Sumi terus bertahan, bahkan melibatkan banyak warga, termasuk perempuan untuk bergotong royong dalam proses produksi.

Pada momen Lebaran tahun ini, meskipun hanya tersedia sekitar 500 kg keladi yang dapat diproduksi, usaha ini tetap memberikan penghasilan yang cukup berarti. "Hasilnya dalam bentuk stik mungkin tidak sampai 100 kg," jelas Murakip.

Berbagai varian rasa stik keladi kini tersedia, mulai dari rasa original, balado, jagung bakar, hingga barbeque, yang semakin digemari konsumen. Dirinya berharap produksi stik keladi ini bisa terus berjalan dan produksinya meningkat. **

Editor : Miftahul Khair
#UMKM #Jongkat #stik keladi