Banyak ibu yang bekerja menghadapi tantangan dalam mengatur waktu serta memastikan tumbuh kembang yang optimal bagi buah hati mereka. Kondisi ini dapat menyebabkan ibu stres akibat tekanan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai orang tua.
Oleh: Siti Sulbiyah
Peran ganda ibu sebagai perempuan yang bekerja dan ibu rumah tangga yang mengasuh anak bisa membawa dampak yang baik dari sisi penambahan ekonomi keluarga. Namun kondisi ini juga dapat menjadi kurang baik apabila tidak dibarengi dengan support system baik dari keluarga lingkungan, maupun, pemerintah.
Hal tersebut dikatakan oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Nopian Andusti, saat mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Kepala BKKBN dalam Kelas Orangtua Hebat (KERABAT) Seri 2: Ibu Bekerja Tetap Bahagia.
Ia memaparkan beberapa variabel pengasuhan yang yang dikutip dari hasil penelitian berbagai sumber. Dari beberapa variabel tersebut, menurutnya, terdapat perbedaan data yang cukup signifikan terkait pengasuhan anak pada ibu yang bekerja dan tidak bekerja.
Dari sisi data profil anak usia dini menunjukkan bahwa balita dengan ibu bekerja lebih banyak mengalami pengasuhan anak tidak layak yaitu 5,88 persen dibandingkan balita dari ibu yang tidak bekerja 2,14 persen.
“Hal ini mengindikasikan bahwa keterbatasan waktu dan energi ibu yang bekerja dapat berdampak pada pola asuh anak,” tuturnya.
Dari sisi pemenuhan gizi, persentase pemberian ASI eksklusif lebih rendah pada ibu bekerja yaitu 72,89 persen dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja yaitu 76,06 persen. Ia menilai hal ini bisa jadi disebabkan karena keterbatasan waktu ibu dalam menyusui secara langsung dan tantangan dalam pemberian ASI perah yang tidak optimal.
Pada anak usia 12-23 bulan dengan ibu bekerja memiliki cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 63,15 persen sementara anak dari ibu yang tidak bekerja sebesar 64,02 persen. Perbedaan kecil ini menunjukkan bahwa baik ibu bekerja maupun ibu tidak bekerja memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya imunisasi anak.
“Namun bagi ibu bekerja ketersediaan waktu dan akses pelayanan imunisasi yang fleksibel mungkin dapat menjadi faktor penting dalam memastikan kelengkapan imunisasi anak,” katanya.
Pada stimulasi, anak dari ibu bekerja lebih banyak mengalami keterlambatan perkembangan sosial yaitu 36,5 persen dibandingkan dengan anak dari ibu tidak bekerja yaitu 14 persen. Hal ini dapat dikaitkan dengan kurangnya interaksi dengan orang tua dan stimulasi.
Pada dimensi kesehatan, anak dari ibu bekerja lebih sedikit mengalami kondisi berat badan kurang 18 persen dibandingkan anak dari ibu yang tidak bekerja yaitu 33 persen. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa ibu bekerja cenderung memiliki akses ekonomi yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Sementara itu, pada momen yang sama, Psikolog Wiwin Hendriani, mengatakan ibu bekerja memiliki tantangan yang luar biasa sebab mengemban peran ganda. Tantangannya beragam, salah satunya adalah munculnya rasa bersalah dan kekhawatiran terhadap perkembangan anak.
"Bisa nggak ya anakku sama seperti anak lainnya yang ibunya nggak kerja? Bisa nggak ya anakku sepintar atau seoptimal tumbuh kembangnya seperti anak-anak saudara yang lain yang ibunya lebih banyak di rumah?" ungkapnya mencontohkan kekhawatiran yang kerap dilanda ibu bekerja.
Selain kekhawatiran terhadap anak, ibu bekerja juga kerap mengalami tekanan berlipat ganda akibat tuntutan pekerjaan. Saat bekerja, mereka merasa cemas memikirkan anak, sementara saat bersama anak, mereka khawatir terhadap pekerjaan yang belum terselesaikan.
"Akhirnya kekhawatiran itu menjadi tekanan yang berlipat-lipat," tambahnya.
Selain itu, ibu bekerja juga sering merasa takut mengecewakan keluarga, tidak bisa membersamai anak dengan baik, atau khawatir tumbuh kembang anak terhambat. Jika kondisi ini berlanjut, dapat menyebabkan kelelahan psikologis yang berdampak pada pengasuhan anak.
"Ketika kelelahan psikologis terus-menerus terjadi, tekanan-tekanan yang muncul bisa mengarah ke perilaku yang tidak tepat atau bahkan di luar kendali," jelasnya.
Ia pun mengimbau agar para ibu yang bekerja dapat berusaha untuk mengelola kondisi-kondisi psikologis ini agar tidak berlarut-larut lalu kemudian berdampak pada pengasuhan yang diberikan ke anak.
Wiwin menegaskan bahwa ibu tidak perlu mengejar kesempurnaan, karena anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna, melainkan ibu yang bahagia.
"Ketika ibu bahagia dan kondisi psikologisnya tenang, ia akan lebih tepat dalam merespons setiap tantangan pengasuhan. Hal ini akan membantu anak mendapatkan stimulasi perkembangan yang optimal," tuturnya. **
Editor : Miftahul Khair