Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pengusaha Arga Pratama Putra dan Ditra Ramadha, Sukses Buka Enam Cabang Steak House

Miftahul Khair • Selasa, 8 April 2025 | 15:37 WIB

 

Pengusaha Arga Pratama Putra dan Ditra Ramadha, kakak adik ini sudah punya enam cabang steak house di Surabaya dan Jakarta.
Pengusaha Arga Pratama Putra dan Ditra Ramadha, kakak adik ini sudah punya enam cabang steak house di Surabaya dan Jakarta.

PONTIANAK POST - Belum satu dekade, Arga Pratama Putra dan Ditra Ramadha menekuni bisnis kuliner.

Namun, kakak adik tersebut sudah punya enam cabang steak house di Surabaya dan Jakarta. Paham peta persaingan dan siapkan menu beragam jadi salah satu kuncinya.

Kakak adik tersebut bukan dibesarkan dari keluarga bisnis. Orang tua mereka memiliki latar belakang dunia medis.

Almarhum ayah adalah dokter, sedangkan ibunya pernah bekerja sebagai administrasi rumah sakit. Tantangan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk merintis dunia usaha.

Bisnis pertama yang mereka rintis adalah retail pakaian pada 2006. Usaha pertama ini belum menemui sukses dan harus kolaps satu dekade kemudian. Baru pada 2017, mereka memasuki dunia steak setelah berkenalan dengan pemasok daging wagyu.

“Awalnya, kami jual secara online. Tahun berikutnya kami baru membuka rumah makan di Opak,’’ ujar Ditra.

Memang, menu daging bukan termasuk pilihan ekonomis. Namun, Arga merasa bahwa price range  lebih terjangkau akan meluaskan pasar yang diincar.

Dengan begitu, konsumen yang selama ini tak mau mencoba wagyu, bisa datang ke Urban Wagyu, nama jaringan resto mereka.

“Yang paling penting itu price to value (kualitas produk dibandingkan harga, Red) harus maksimal. Kami menyajikan produk premium, namun dengan harga terjangkau,’’ ucapnya.

Bersaing dengan Resto AYCE Dia juga menegaskan bahwa riset pasar harus dilakukan. Pengusaha  steak harus tahu peta persaingan di wilayah tersebut. Memang benar populasi steak house tak banyak.

Namun, konsumen memiliki beberapa opsi lain untuk menikmati daging. Misalnya, datang ke resto all you can eat (AYCE) yang menawarkan jasa makan daging sepuasnya. Atau family restaurant lain.

Karena itu, steak house juga harus berinovasi agar menu yang ditawarkan lebih beragam. Menu nonsteak harus ada sebagai alternatif jika ada pembeli yang tak bisa atau tidak mau makan daging.

“Inovasi itu perlu. Kami juga baru saja meluncurkan restoran dengan menu yang lebih murah. Bahannya tetap wagyu tapi dikemas sebagai sandwich atau nasi agar lebih terjangkau,’’ papar Ditra.

Yang jelas, calon pengusaha juga harus melihat peta konsumen. Pengusaha harus tahu apakah daya beli masyarakat di kota tersebut sanggup untuk membeli menu daging. Dari sana, pengusaha steak harus mengatur margin yang cocok agar bisa balik modal dalam waktu ideal. (*/bil/ai/jp)

Editor : Miftahul Khair
#inspirasi #Pengusaha #steak house