Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Glaukoma: Si Pencuri Penglihatan Diam-diam

Siti Sulbiyah Kurniasih • Jumat, 11 April 2025 | 14:03 WIB
Ilustrasi seorang pengidap Glaukoma.
Ilustrasi seorang pengidap Glaukoma.

Glaukoma adalah penyakit mata penyebab kebutaan terbesar kedua setelah katarak. Seringkali glaukoma menyerang penglihatan seseorang tanpa gejala di tahap awalnya sehingga dapat terabaikan dan menyebabkan kerusakan permanen pada mata.

Oleh: Siti Sulbiyah

Glaukoma merupakan kelompok penyakit mata yang merusak saraf optik dan merupakan penyebab utama kebutaan pada orang berusia di atas 60 tahun. Berdasarkan data yang dihimpun oleh WHO tahun 2010, setidaknya ada 3,2 juta orang yang mengalami kebutaan akibat glaukoma.

Hal tersebut disampaikan oleh Dokter spesialis mata di KMN Eye Center, Dr. Maria Magdalena Purba, SpM. Ia menjelaskan, adanya cairan ekstra di dalam bola mata menyebabkan tekanan pada bola mata semakin meningkat sehingga merusak saraf optik mata. Saraf optik bertanggung jawab untuk mengirimkan sinyal dari mata ke otak, dan jika rusak, dapat menyebabkan gangguan penglihatan.

Mata menghasilkan cairan mata (humor aqueous) dan dikeluarkan melalui suatu area yang disebut sudut drainase sehingga menjaga tekanan di dalam bola mata tetap stabil. 

“Peningkatan tekanan cairan dalam bola mata terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah produksi cairan mata dengan jumlah yang dibuang,” tuturnya.

Apabila sudut drainase tidak berfungsi dengan baik akan membuat cairan mata menumpuk dan tekanan di dalam mata terus meningkat. Lama kelamaan, situasi seperti ini akan merusak saraf optik. Saraf optik terbuat dari lebih dari satu juta serabut saraf kecil. Ketika serabut saraf ini mati maka akan muncul titik buta pada penglihatan dan menyebabkan penurunan lapang pandang.

“Seseorang mungkin tidak menyadari titik buta ini sampai sebagian besar serabut saraf optik mati sehingga lebih lanjut dapat terjadi kebutaan,” terangnya. 

Tekanan bola mata normal seharusnya tidak lebih dari 20 mmHg, namun pada penderita glaukoma, tekanan dapat berada di atas angka tersebut. Penyakit hipertensi dan diabetes melitus menjadi penyebab utama seseorang bisa terkena risiko glaukoma.

Ia menjelaskan secara umum, glaukoma diklasifikasi menjadi dua yaitu glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup.

“Berdasarkan data prevalensi, sebagian besar kasus glaukoma yang terjadi adalah glaukoma sudut terbuka. Bisa dikatakan bahwa ini adalah jenis glaukoma yang paling umum terjadi,” katanya. 

Ia menjelaskan, glaukoma sudut terbuka terjadi secara bertahap, di mana cairan mata yang diproduksi tidak bisa dikeluarkan atau seperti saluran air yang tersumbat. Kondisi seperti ini membuat tekanan bola mata meningkat dan mulai merusak saraf optik.

Glaukoma sudut terbuka tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak menyebabkan perubahan penglihatan pada awalnya. Seringkali baru timbul keluhan penurunan penglihatan setelah kondisi tahap lanjut.  

“Inilah sebabnya mengapa glaukoma disebut sebagai pencuri penglihatan yang diam-diam,” terangnya.

Sementara itu, lanjutnya, glaukoma sudut tertutup terjadi ketika iris mata sangat dekat atau menempel dengan sudut drainase mata. Iris dapat menghalangi sudut drainase sehingga terjadi peningkatan tekanan bola mata secara tiba-tiba.

Orang yang berisiko terkena glaukoma sudut tertutup biasanya tidak menunjukkan gejala sebelum serangan. Beberapa gejala awal serangan mungkin termasuk penglihatan kabur, lingkaran cahaya atau banyangan seperti pelangi saat melihat lampu, sakit kepala ringan, atau sakit mata.

“Glaukoma sudut tertutup dapat bersifat akut dan penderitanya harus segera menghubungi dokter mata untuk segera dilakukan tindakan,” tuturnya.

Ia memaparkan ada beberapa tanda-tanda serangan akut pada glaukoma sudut tertutup, seperti penglihatan tiba-tiba kabur, sakit pada mata dan area sekitar mata, hingga sakit kepala. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah mual dan muntah, hingga melihat cincin atau lingkaran cahaya berwarna pelangi di sekitar lampu.

Pada beberapa kasus, glaukoma sudut tertutup berkembang secara perlahan dan tidak ada gejala pada awalnya. Seringkali penderita tidak menyadarinya sampai kerusakannya parah atau terjadi serangan yang tiba-tiba. 

“Glaukoma sudut tertutup dapat menyebabkan kebutaan jika tidak segera ditangani,” tegasnya. 

Kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki. Karena itu penting untuk dapat memilih tindakan pengobatan glaukoma dan pembedahan yang dapat membantu menghentikan kerusakan lebih lanjut. **

Editor : Miftahul Khair
#waspada #Penglihatan #glaukoma #gejala