Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mendampingi Pasangan Hadapi Trauma: Langkah-Langkah untuk Bantu Penyembuhan

Siti Sulbiyah Kurniasih • Sabtu, 12 April 2025 | 13:53 WIB

 

Ilustrasi mendampingi pasangan menghadapi trauma dan membantu proses penyembuhan.
Ilustrasi mendampingi pasangan menghadapi trauma dan membantu proses penyembuhan.

Mendampingi pasangan yang mengalami trauma adalah tugas yang barangkali penuh tantangan. Dibutuhkan empati dan kesabaran, serta bekal pengetahuan untuk membantu pasangan agar terlepas dari traumanya.

Oleh : Siti Sulbiyah

Setiap orang memiliki cerita masa lalu dalam kehidupannya, dan tidak jarang hal itu menyisakan luka yang belum sembuh sepenuhnya. Trauma, entah karena banyak hal, dapat membekas dalam jiwa seseorang, sehingga mempengaruhi cara mereka menjalin hubungan, terutama dengan pasangan.

Dosen Psikologi IAIN Pontianak, Agus Handini, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa trauma bisa muncul akibat berbagai pengalaman buruk yang pernah dialami seseorang, baik itu kekerasan, kehilangan, penelantaran, atau kejadian lain yang meninggalkan bekas emosional. Menurutnya, gejala trauma bisa sangat beragam dan memengaruhi aspek emosional, perilaku, hingga fisik seseorang.

“Rasa takut, cemas, atau tidak nyaman saat mengingat peristiwa traumatis adalah gejala umum. Selain itu, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, emosi yang tak terkendali seperti marah, mudah tersinggung, atau bersikap agresif juga bisa muncul,” jelasnya.

Tak hanya itu, trauma juga bisa memicu gejala lain seperti penarikan diri dari lingkungan sosial, perasaan putus asa, hingga ketergantungan pada alkohol atau narkoba sebagai cara melarikan diri dari rasa sakit yang mendalam.

Menurutnya, orang yang sedang mengalami trauma seringkali memberikan respons yang berlebihan terhadap stimulus tertentu yang mengingatkannya pada pengalaman traumatis di masa lalu.

Untuk mendampingi pasangan yang memiliki trauma, menciptakan ruang aman bagi mereka untuk berbicara menjadi kunci. Namun, hal ini bukan berarti memaksa mereka menceritakan segalanya secara langsung, melainkan memberi waktu dan kesempatan hingga mereka siap untuk terbuka.

Agus Handini juga menegaskan pentingnya mengenali pemicu-pemicu trauma pasangan, baik berupa kata-kata, situasi, maupun perilaku tertentu. Dengan memahami pemicu tersebut, pasangan bisa lebih bijak dalam merespons serta membantu membangun strategi untuk mengelola kecemasan atau kepanikan bersama.

Ketika pasangan mereka marah dengan nada biasa, seseorang yang trauma bisa bereaksi secara emosional di luar kewajaran. “Kadang orang bisa tiba-tiba menangis, tersinggung, atau marah besar atas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu signifikan. Itu karena stimulus yang masuk telah memicu memori traumatis mereka,” tuturnya.

Ia juga menyebut bahwa persepsi seseorang terhadap trauma bisa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk latar belakang pendidikan, pemahaman agama, pola asuh, hingga pengalaman masa kecil. Karena itu, setiap orang bisa memiliki cara yang berbeda dalam menilai dan merespons trauma yang dialami pasangannya.

Agus Handini menekankan bahwa dalam banyak kasus, trauma memerlukan penanganan dari tenaga profesional. “Sebenarnya harus ada konsultasi dengan ahli seperti psikolog atau psikiater. Supaya kita benar-benar bisa menemukan permasalahan dan solusinya dengan tepat. Kalau tidak ada ahlinya, kita tidak tahu apakah ini suatu gejala dari trauma atau ada hal lain,” jelasnya.

Karena itu, pasangan sebaiknya memberikan dorongan yang lembut untuk mencari bantuan profesional, tentunya tanpa memaksa. Sikap mendukung dan meyakinkan bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, justru merupakan langkah positif dalam proses penyembuhan.

Ia juga menegaskan pentingnya peran support system, baik dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar. “Support-nya yang pasti tidak ada kata lain selain menerima dulu. Memberikan perilaku yang positif,” tambahnya. **

Editor : Miftahul Khair
#trauma #cara #pasangan