PONTIANAK POST - Lovebird sudah menjadi bagian dari hidup Adia Ramadhan. Apalagi saat ini dia sedang fokus mengembangkan biola PB (parblue) vio. Terlebih harga lovebird premium seperti aqua, parblue (PB), violet, atau biola masih sangat tinggi dan menjanjikan keuntungan besar.
Namun, tidaklah mudah mencetak varian baru tersebut. Kendalanya, antara lain, masih langka dan mahalnya materi alias bahan untuk perkawinan silang. Termasuk sulitnya penjodohan.
Pria kelahiran Mojokerto, 1993, itu menyatakan, penjodohan tersebut agak sulit. Hingga saat ini, burung itu belum kunjung bertelur. Dia menduga, si betina kurang berahi atau berahinya tidak stabil. Kalau yang jantan, ia sudah tampak berahi. Tandanya, menurut Adia, kepalanya sering manthuk-manthuk (mengangguk) dan meloloh (menciumi) si betina.
"Memang, kedua burung itu sering bercumbu. Tetapi, belum tentu mereka berjodoh meski bisa berpasangan," ungkapnya.
Untuk meningkatkan berahi, dia memberi pakan ekstra seperti kangkung danja gung muda selain makanan utama biji-bijian (milet). Dia juga memberikan tulang sotong yang mengandung kalsium dan yodium.
Selain itu, Adia rutin menjemur burungnya. Penjemuran cukup selama dua jam saat pagi pukul 07.00–09.00. Penjemuran juga bermanfaat untuk menghilangkan lemak pada tubuh burung. Terutama pada si betina, lemak itu kadang membentuk benjolan di seputar alat kelaminnya sehingga menghalangi proses perkawinan.
“Benjolan lemak itu bisa hilang dengan penjemuran rutin,’’ katanya.
Dia mengungkapkan, biola PB vio memang bukan varian terbaru, tetapi masih tergolong langka. Dilihat sekilas, burung yang separo badannya berwarna biru (parblue) itu tampak tidak berbeda dengan varian parblue (partial blue lainnya.
Namun, burung pecinta tersebut memiliki detail warna yang unik. Warna kuning muda yang membalut kepala hingga bawah lehernya lebih lembut. Makin bersih dan merata warna kuning itu, kualitasnya makin super.
“Sebab, tak jarang warna kuning itu terganggu oleh gradasi warna yang agak gelap seperti abu-abu atau hitam. Jadi, kalau warnanya bisa bersih dan merata, tentu sangat bagus,’’ jelasnya.
Keunggulan lain adalah corak batik pada bagian punggung dan sayap yang menjadi ciri khas biola. Corak itu terbentuk dari perpaduan kelir biru muda hingga biru tua dan hitam di ujung-ujung sayap.
Sebelum mencoba mengembangkan biola PB vio, Adia menangkarkan varian biola lainnya seperti biola PB euwing vio, biola violet, biola euwing vio, hingga biola euwing gold.
Varian-varian itulah yang saat ini mendongkrak kembali keramaian pasar lovebird. Dengan masih gencarnya para penggemar lovebird untuk bereksperimen dengan mutasi warna, bakal sangat banyak varian yang bisa terus menambah keragaman spesies lovebird Nusantara.
Adia mengakui, dalam upaya itu, diperlukan pengetahuan setidaknya tentang dasar-dasar mutasi warna lovebird. Dia mempelajarinya dari banyak literatur di internet. Adia juga tergabung dengan komunitas penggemar lovebird yang kerap berdiskusi seputar permasalahan dalam penangkaran.
“Memang kadang pusing mempelajari istilah genetika yang rumit. Namun, itu bagian dari tantangan,’’ ujarnya. (*/c6/dri/jp)
Editor : Miftahul Khair