Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Pengusaha Dimas Bayu Eka, Cari Cuan Lewat Olahan Bandeng

Miftahul Khair • Selasa, 15 April 2025 | 14:16 WIB
Dimas Bayu Eka mengemas produk olahan bandeng. Dia meneruskan usaha dapur ibunya yang awalnya menjual menu otak-otak bandeng.
Dimas Bayu Eka mengemas produk olahan bandeng. Dia meneruskan usaha dapur ibunya yang awalnya menjual menu otak-otak bandeng.

PONTIANAK POST - Olahan ikan bandeng sudah akrab untuk masyarakat Surabaya. Jika hanya mengandalkan rasa tak menjamin bisnis bakal bertahan. Perlu strategi khusus untuk menggaet banyak pelanggan sekaligus agar bisnis ini bisa naik levelnya.

Sebagai pengusaha, Dimas Bayu Eka, pengusaha olahan bandeng Tamin Jaya by Dapur Uwo, ingin bisnisnya ber kembang. Tidak hanya menjangkau pasar lokal. Namun, juga bisa merambah ke pasar negara lain melalui jalur ekspor.

“Saya pernah diminta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa untuk ekspor produk olahan bandeng ini,” katanya.

Tawaran tersebut sangat menarik. Pasar ekspor bisa membuat pengusaha bisa mengicipi margin profit yang lebih tinggi. Dengan catatan, produk olahan bandeng itu harus bisa tahan selama tiga bulan.

“Saya coba riset sendiri. Tapi, setelah 30 hari sudah ada perubahan rasa. Jadi, kami merasa belum siap untuk ekspor. Bagi kami rasa dan kua litas tetap yang utama. Tidak bisa ditawar,’’ lanjutnya.

Karakteristik khususnya adalah ketahanan produk bandeng. Jika dimasukkan ke freezer, produk tersebut bisa bertahan selama 30 hari. Di suhu ruang, olahan se perti bandeng asap, otak-otak bandeng, dan bandeng presto bertahan seminggu.

“Yang tak bisa bertahan begitu lama hanyalah pepes bandeng karena adanya tomat,” katanya.

Dimas juga menganalisa potensi produk olahan bandeng. “Kami coba identifikasi produk kami. Rupanya, olahan bandeng ini lebih masuk ke menu oleh-oleh bukannya konsumsi harian,’’ jelasnya.

Incar Ceruk Pasar Menengah ke Atas

Sejak saat itu, Dimas mulai menyusun strategi pemasaran baru. Pihaknya mencoba memasang iklan ke online dan radio, menggaet reseller, lalu melakukan promosi dengan memberikan tester. “Biasanya, penjualan kami laku saat akhir pe kan. Karena biasanya orang-orang cari oleh-oleh Jumat- Minggu,” ujarnya.

Saat ini, Dimas mencoba untuk mencari segmen alternatif dengan margin profit yang juga besar. Yakni, untuk mengincar ceruk pasar menengah ke atas.

Selain itu, dia juga mencoba diversifikasi selain olahan bandeng. Dia juga mencoba untuk memanfaatkan momentum-momentum puncak seperti Lebaran. 

Berawal dari Dapur Ibu

Saat ditanya peran terpenting dalam bisnis olahan bandeng, Dimas menyebut satu sosok. Ibu.  Menurut dia, bisnisnya tak akan ada tanpa campur tangan sang ibu. Sebab, lahirnya olahan bandeng lahir dari bisnis dapurnya. Semua terjadi saat pandemi. Sang ibu memang pandai memasak. Saat itu, dia memulai bisnis berbagai olahan makanan untuk tetangga sekitar. Namanya, Dapur Uwo. Setelah beberapa lama, akhirnya sang ibu mencoba menjual menu otak-otak bandeng.

“Idenya itu supaya cucu doyan makan pedas. Jadi pedas tapi tidak seberapa. Sedangkan yang ingin lebih pedas tinggal pakai sambal cocol,’’ terangnya.

Rupanya menu yang satu ini mendapatkan respons yang bagus. Tahap awal, Dimas berangkat ke Desa Kalanganyar, Sidoarjo, untuk membeli 40 ekor alias 20 kilogram bandeng. Bandeng tersebut diolah untuk otak-otak bandeng dan olahan lain dalam satu bulan ke depan. Namun, kebutuhannya  meningkat terus. Puncaknya, permintaan olahan bandeng saat Lebaran 2023. Sebanyak 40 ekor bukannya habis selama satu bulan, melainkan satu minggu.

“Saking sibuknya, ibu sampai jatuh sakit. Saya sebagai anak pertama diminta tolong,’’ terangnya.

Pada tahun yang sama, Dimas pun berhasil meningkatkan level usaha. Saat itu, dia memasukkan usaha Tamin Jaya by Dapur Uwo masuk komunitas UMKM. (*/bil/ai/jp)

Editor : Miftahul Khair
#inspirasi #usaha #bandeng #bisnis