Dua orang dosen vokasi di Kalimantan Barat berkesempatan mengikuti kursus singkat bertajuk Mobile Development Digital Marketing di Kanada. Mereka belajar tentang pembuatan aplikasi mobile, serta penerapan tren teknologi terbaru dalam rangka meningkatkan efektivitas pemasaran digital.
Oleh: Siti Sulbiyah
Keduanya adalah Sri Syabanita Elida dan Nurul Fadillah, dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep). Keduanya bersama sejumlah dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) se-Indonesia terpilih untuk mengikuti Program Non Degree Peningkatan Kompetensi Dosen Vokasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (KLSD) Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Program ini berlangsung dalam bentuk short course selama dua minggu di Longo Faculty of Business, Humber College, Toronto, Kanada, Desember 2024 yang lalu. Program yang mengusung tema Mobile Development Digital Marketing ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dosen vokasi dalam bidang pengembangan aplikasi mobile dan pemasaran digital.
Program ini mengirimkan dosen vokasi untuk mengikuti kursus singkat ke berbagai negara. Peserta program ini 75 persen dosen IT, 25 persen lainnya dosen lainnya. Ia pun memilih Kanada. “Saat seleksi, kami diminta dibikin esai. Di esai saya bercerita tentang diri saya, cerita tentang bagaimana pengajaran yang saya lakukan di kelas,” katanya
Wanita yang kerap disapa Nita, mengajar di Jurusan Administrasi Bisnis, Program Studi Administrasi Bisnis Otomotif. Baginya, program ini menjadi peluang emas untuk mensinergikan dua bidang yang selama ini ia geluti, yakni administrasi bisnis dan pemasaran digital.
Meski bukan berlatar belakang teknologi informasi, Nita justru melihat celah sinergi antara pemasaran digital dan pengembangan aplikasi mobile sebagai peluang pembelajaran yang tak boleh disia-siakan.
“Saya core-nya internasional marketing, yang pendalamannya ke digital marketing,” kata dia.
Selama di Kanada, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan intensif, mulai dari pembelajaran di kelas hingga pengerjaan proyek akhir secara berkelompok. Dalam final project tersebut, Nita dan timnya menciptakan aplikasi Coffee Shop, yang bertujuan untuk memudahkan pelanggan melakukan pemesanan.
“Saya dan kelompok saya membuat aplikasi Coffee Shop yang berfungsi untuk memudahkan pelanggan, terutama memesan di rush hour,” tuturnya.
Tak hanya memudahkan pelanggan, aplikasi yang mereka bangun juga dilengkapi fitur keuangan dan pemasaran. Bagi Nita, pengalaman ini membuka wawasan baru bahwa aplikasi mobile tidak hanya soal tampilan, tetapi juga efektivitas fungsi setiap fitur.
“Materinya sangat menarik dan menantang, bahkan belajar sedikit-sedikit tentang coding aplikasi. Menariknya menghubungkan IT dengan marketing,” tambahnya.
Selama berada di Toronto, Nita dan peserta lain tinggal di sebuah asrama modern dan nyaman. Tak hanya berkutat pada pelatihan, mereka juga sempat mengunjungi berbagai tempat, seperti Konsulat RI di Toronto, CN Tower, hingga showroom mobil listrik Tesla.
Sepulang dari Kanada, Nita justru semakin termotivasi untuk mengembangkan potensi mahasiswa Polnep dalam bidang aplikasi digital marketing.
Dalam program ini peserta juga mendapatkan pemahaman tentang analisis data dan penerapan tren teknologi terbaru untuk meningkatkan efektivitas pemasaran digital. Program ini diharapkan dapat memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam dunia industri teknologi dan pemasaran, serta memperkuat kemampuan dosen dalam mengajar materi-materi terkait pengembangan digital.
Nurul Fadillah merasakan manfaat yang begitu besar setelah mengikuti program ini. Titik tekan dalam program ini adalah bagaimana aplikasi mobile itu membantu memasarkan marketing untuk pengembangan usaha termasuk pembelajaran.
“Termasuk diajarkan mengenalkan bahasa pemrograman, ada teori dan praktek,” katanya.
Dalam momen ini ia juga mempelajari bagaimana teknologi aplikasi mobile dapat menjadi alat ampuh untuk mendukung strategi pemasaran digital, baik untuk pengembangan bisnis maupun pembelajaran. Lebih dari sekadar materi teknis, kursus ini juga menekankan pentingnya analisis data dalam merancang strategi digital yang efektif. Keterampilan praktis yang diperoleh diharapkan bisa langsung diterapkan di dunia industri serta memperkuat kualitas pengajaran dosen di kampus, terutama dalam materi yang berkaitan dengan teknologi dan pemasaran digital.
Namun, yang membuat pengalaman ini semakin tak terlupakan bagi Nurul bukan hanya ilmu yang diperoleh, melainkan juga suasana belajar yang inklusif dan penuh kesabaran. “Saya yang latar belakangnya bahasa Inggris, mereka memahami kami berbeda, tapi diajari dengan sabar,” ceritanya penuh kagum.
Selain itu, kesan mendalam juga datang dari suasana Kanada yang menurutnya sangat aman dan memiliki sistem pendidikan yang patut dicontoh.
Promosikan Diri dengan Maksimal
Program Non-Degree Peningkatan Kompetensi Dosen Vokasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (KLSD), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, telah rutin dilaksanakan setiap tahun sejak 2022. Program ini memberi peluang kepada dosen vokasi dari seluruh Indonesia untuk mengembangkan kompetensinya melalui pelatihan di dalam maupun luar negeri.
Nurul Fadillah, dosen dari Politeknik Negeri Pontianak, merupakan salah satu penerima manfaat program ini sebanyak dua kali. Ia pertama kali lolos seleksi pada tahun 2022 dan mengikuti kursus profesional di Inggris dengan tema Professional Leadership in Vocational Higher Education.
“Saya di 2022 lolos, berangkat ke Inggris. Programnya waktu itu tentang professional leadership di perguruan tinggi vokasi,” ujarnya.
Dua tahun berselang, Nurul kembali terpilih, kali ini untuk mengikuti program bertema Mobile Development Digital Marketing di Kanada. Ia menjadi salah satu dari segelintir dosen yang berhasil dua kali lolos seleksi program ini.
Menurutnya, proses seleksi terbuka luas untuk semua dosen vokasi, dan tidaklah terlalu sulit selama pemohon serius dalam menyampaikan kompetensinya. Persyaratannya antara lain mengisi formulir dan menyusun esai yang mencerminkan diri secara menyeluruh, baik dari sisi keilmuan, pengalaman, maupun inovasi yang pernah dilakukan.
“Yang pastinya keahlian bahasa Inggris seperti TOEFL atau IELTS, tapi tidak ada skor minimal. Karena pelamarnya banyak, bagaimana kita meyakinkan penilai lewat esai. Istilahnya kita di esai itu menjual diri kita seoptimal mungkin,” jelas Nurul.
Namun ia menekankan bahwa meskipun "menjual diri" adalah bagian penting dalam proses seleksi, kejujuran tetap menjadi hal utama. “Isilah dengan jujur, sesuai inovasi yang kita lakukan,” tambahnya. (*)
Editor : Miftahul Khair