Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Waspada Anak Kecanduan Gadget: Ini Tanda dan Dampaknya Menurut Psikolog

Siti Sulbiyah Kurniasih • Rabu, 23 April 2025 | 13:25 WIB

 

Ilustrasi anak yang tidak bisa lepas dari gadget.
Ilustrasi anak yang tidak bisa lepas dari gadget.

PONTIANAK POST - Psikolog anak dan keluarga, Sashkya Aulia, menekankan bahwa era digital memang tidak bisa dihindari, bahkan sudah menjadi bagian dari proses belajar dan sumber inspirasi anak-anak. Namun, ketika pemakaian gawai tidak terkontrol, risiko adiksi bisa muncul sejak dini.

“Adiksi itu nggak harus nunggu remaja. Bisa semudah lupa waktu saat scrolling,” ujarnya. 

Ketika anak menunjukkan perubahan perilaku drastis saat diberi atau dicabut akses ke gawai, itu bisa menjadi tanda awal adiksi digital. Menurutnya, perubahan perilaku yang ekstrem, baik saat anak diberi maupun ketika dipisahkan dari gawai, adalah sinyal kuat. Misalnya, anak menjadi gelisah, mudah marah, bahkan tantrum ketika tidak diberi akses ke gawai.

“Kalau lepas dari gadget, kayaknya resah banget. Nggak ketemu, tantrum, marah-marah, susah tenang,” jelasnya.

Tak hanya itu, dampak adiksi digital meluas ke aspek sosial dan fisik. Anak-anak yang terlalu larut dalam dunia maya cenderung menarik diri dari lingkungan, kesulitan bersosialisasi, dan menurun aktivitas motoriknya. Mereka malas bergerak, menolak makan, enggan mandi, hingga kesulitan tidur.

Ia menilai, ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi di dunia nyata, mereka cenderung mencari pengganti di ruang digital. Inilah yang bisa menjadi pintu masuk ke masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, bahkan perilaku menyakiti diri sendiri. Sashkya menambahkan bahwa banyak kasus yang ia tangani bermula dari relasi emosional yang tidak cukup kuat di rumah.

“Kadang anak justru merasa lebih didengar oleh stranger di internet. Sementara di rumah, entah karena orang tua sibuk atau anak terlalu banyak, mereka merasa tidak ada ruang untuk didengarkan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa komunikasi yang baik saja tidak cukup untuk mencegah risiko digital. Anak tetap bisa mengalami tekanan psikologis meski hubungan dengan orang tua terasa positif. Sebab, dunia digital bisa menyuguhkan apa yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata, pengakuan, perhatian, dan pelarian dari rasa kesepian.Ketika perhatian dari dunia nyata tidak cukup, digital hadir sebagai pengganti, yang sering kali membuat anak makin terperangkap. (sti)

Editor : Miftahul Khair
#kecanduan #gadget #tanda #anak #dampak