Bagi sebagian perempuan, menjalin hubungan dengan pria yang dekat dengan ibunya adalah nilai plus. Tapi bagaimana jika dekat itu berarti mengontrol? Dari keputusan beli sepatu sampai pilihan karier, semua harus lewat “filter” sang ibu.
Oleh : Siti Sulbiyah
Di balik hubungan asmara yang tampak harmonis, kadang ada satu hal tak terlihat yang bisa jadi batu sandungan, yakni bayang-bayang seorang ibu yang terlalu dominan. Fenomena pria yang masih berada di bawah kendali ibunya bukan hal baru di dunia percintaan, dan dampaknya bisa jauh lebih dalam dari sekadar drama rumah tangga.
Patricia Elfira Vinny, M.Psi, Psikolog dari UPT Klinik Utama Sungai Bangkong, menyebutkan bahwa pria seperti ini umumnya menunjukkan ketergantungan emosional yang tinggi pada sosok ibu. Mereka cenderung selalu membutuhkan restu, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.
“Ia cenderung meminta persetujuan ibunya dalam banyak hal, termasuk keputusan yang seharusnya sudah bisa ia ambil sendiri,” katanya.
Mulai dari pilihan pakaian, karier, sampai urusan memilih pasangan hidup, sang ibu punya andil besar dalam kehidupan mereka. Tak jarang, pria-pria ini kesulitan mengekspresikan keinginan pribadi karena takut mengecewakan ibunya.
Tanda-tanda pria yang masih berada dalam “genggaman” ibunya bisa dikenali lewat beberapa pola perilaku. Mereka cenderung selalu menomorsatukan ibu tanpa mempertimbangkan perasaan pasangan, hingga sering membatalkan rencana bersama pasangan demi memenuhi permintaan ibu.
Selain itu, laki-laki seperti ini membagikan detail hubungan secara berlebihan kepada ibunya, bahkan sulit menetapkan batasan sehat antara kehidupan pribadi dan keluarga. “Ia juga bisa menunjukkan kesulitan menetapkan batasan sehat antara kehidupan pribadi dan pengaruh keluarga,” ujarnya.
Ketika ibu terlalu hadir dalam hubungan pasangan, ia menilai hal ini biasanya akan menciptakan ketidakseimbangan. Pasangan dalam hal ini bisa merasa tersisih, tidak dihargai, atau bahkan merasa bersaing untuk mendapat perhatian.
Tak hanya itu, hubungan semacam ini juga menciptakan dilema bagi si pria. Mereka berada di posisi yang serba salah, terjepit antara loyalitas terhadap ibu dan komitmen terhadap pasangan.
“Ini bisa memicu konflik, rasa frustasi, dan kelelahan emosional,” ujarnya.
Menurut Patricia, pria yang tumbuh dalam pola asuh yang sangat dikontrol cenderung kesulitan membuat keputusan sendiri. Mereka terbiasa diarahkan, bukan diajak berdiskusi. Dalam hubungan, ini bisa berujung pada stagnasi. Pasangan harus terus menunggu keputusan yang seharusnya bisa dibicarakan berdua, namun akhirnya tergantung pada restu pihak ketiga.
“Ini bisa membuat hubungan terasa stagnan, karena pasangan harus terus menunggu” keputusan yang sebenarnya bisa dibicarakan berdua,” terangnya.
Namun, beban berat juga dipikul oleh pihak perempuan dalam hubungan ini. Tantangan utamanya adalah rasa tidak aman dan tidak memiliki ‘ruang’ dalam hubungan.
Dalam hal ini, perempuan bisa merasa tidak benar-benar dianggap sebagai partner setara karena selalu ada "pihak ketiga" yang lebih didengar. Situasinya bisa makin rumit bila ibu sang pria bersifat dominan atau tidak menyukai sang pasangan.
“Apalagi jika sang ibu bersifat dominan atau tidak menyukai pasangan anaknya, maka konflik emosional bisa semakin rumit,” ujarnya.
Akibatnya, perempuan bisa merasa tidak dihargai, mengalami kecemburuan yang tidak sehat, frustasi, bahkan mempertanyakan nilai dirinya dalam hubungan tersebut. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa berimbas pada kesehatan mentalnya.
“Dalam jangka panjang, ini bisa mempengaruhi kesehatan mental perempuan, terutama jika ia terus merasa diabaikan dan tidak punya kuasa dalam relasi,” imbuhnya. **
Editor : Miftahul Khair