Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bertahan meski Minim Penghargaan: Kelola Stres, Hindari Burnout di Tempat Kerja

Siti Sulbiyah Kurniasih • Selasa, 29 April 2025 | 13:28 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami burn out di kantor.
Ilustrasi seseorang yang mengalami burn out di kantor.

Dunia kerja yang penuh tekanan, dengan beban kerja tinggi dan minimnya penghargaan, dapat memengaruhi kesehatan mental dan menurunkan produktivitas. Karena itu penting bagi pekerja untuk mengelola stres dan membangun penghargaan diri untuk mencegah burnout. Bagaimana caranya?

Oleh : Siti Sulbiyah

Dunia kerja kerap kali membawa tantangan berat bagi para pekerja, mulai dari beban kerja berlebih hingga minimnya penghargaan atas jerih payah yang dilakukan. Tekanan-tekanan semacam ini, bila tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental dan menurunkan produktivitas.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Webinar bertajuk "Survival Mode: Cara Bertahan di Dunia Kerja dengan Beban Berat dan Minim Penghargaan", yang diselenggarakan oleh Humanika Consulting, pekan lalu. Webinar ini menghadirkan Widyi Arta, Human Resource Generalist, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Widyi mengungkapkan bahwa tidak sedikit pekerja yang merasa beban kerjanya berat namun tidak mendapat pengakuan dari rekan atau atasan. Kondisi ini, menurutnya, memicu stres yang lama-kelamaan bisa mengganggu keseimbangan mental pekerja.

“Jadi stresor-stresor ini yang pada akhirnya membuat kita itu kacau, bingung karena kebutuhan-kebutuhan kita itu tidak didapatkan,” ungkapnya.

Widyi menyoroti fenomena normalisasi burnout di lingkungan kerja saat ini. Kalimat “we normalize burn out until its become identity” atau “Kita menormalkan burnout sampai akhirnya menjadi identitas para pekerja” ini menjadi seolah-olah burnout itu jadi sesuatu yang memang identitasnya pekerja-pekerja saat ini. 

Data yang dipaparkan dalam webinar tersebut mengungkapkan bahwa 44 persen pekerja di dunia mengalami stres harian, yang berarti banyak pekerja hidup dalam siklus stres yang tak kunjung usai. Di Indonesia, 71 persen pekerja menunjukkan gejala burnout, mulai dari tingkat ringan hingga berat. 

“Faktor utamanya adalah beban kerja tinggi, jam kerja yang panjang, serta kurangnya penghargaan atau pengakuan,” katanya.

Tak hanya itu, survei menunjukkan bahwa 53 persen generasi milenial merasa ketidakbermaknaan di tempat kerja (meaningless at work) menjadi alasan utama mereka tidak lagi terhubung secara emosional dengan perusahaan. Sementara itu, 75 persen pekerja generasi ini menganggap kesehatan mental lebih penting dibandingkan stabilitas karier.

“Jadi karir itu mungkin jadi tujuan kedua setelah mental health. Maka itu yang jadi kenyataan hari ini,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar lebih objektif dalam menilai situasi di tempat kerja. Tidak semua perusahaan dapat memberikan penghargaan yang kita harapkan, dan mungkin ekspektasi kita terlalu tinggi. "Kita perlu cek faktanya, apakah di semua perusahaan penghargaan itu memang sesuatu yang jarang diberikan?" tuturnya.

Widyi juga menyinggung fenomena pekerja Gen Z yang sering dianggap "kutu loncat". Namun, menurutnya, penyebabnya bisa jadi bukan hanya sikap individu, melainkan karena perusahaan yang tidak menyediakan ruang untuk pertumbuhan. 

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berpindah kerja, ia mengingatkan pentingnya mengevaluasi apakah kebutuhan-kebutuhan kita di tempat kerja sudah terpenuhi atau belum. Jika belum, penting untuk mencari cara agar kebutuhan tersebut bisa dipenuhi di lingkungan kerja yang ada.

Penghargaan dalam dunia kerja seringkali dipandang sebagai sesuatu yang hanya bisa datang dari luar, terutama dari atasan atau perusahaan. Namun, untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang penuh tekanan, perlu mulai menggeser pandangan ini. 

Menurut Widyi, penghargaan itu memang penting, tapi kita harus juga sadar bahwa itu adalah pola lama. “Memang jadi sesuatu yang tadi bahkan secara teori pun penghargaan itu jadi kebutuhannya pekerja. Tapi kita harus juga sadari bahwa itu adalah pola lama. Kita harusnya berdiri di kaki sendiri. Tidak harus bergantung pada pujian eksternal,” paparnya.

Menurutnya, penghargaan tidak selalu datang dari luar, kita juga bisa menciptakan dan memberikan penghargaan dari dalam diri kita sendiri. Memberikan penghargaan pada diri sendiri adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan motivasi kerja. 

Salah satu cara untuk mengembangkan penghargaan diri adalah dengan menetapkan nilai kerja pribadi yang lebih besar daripada sekadar mencari pengakuan dari luar. Ini bisa dimulai dengan mengapresiasi hasil kerja sendiri, mencatat pencapaian, memberikan pujian kepada diri sendiri, dan merayakan setiap langkah kecil yang berhasil dicapai. 

Widyi juga menyarankan agar kita menghindari perbandingan sosial yang bisa menambah tekanan, “Hindari perbandingan sosial dan fokus pada perkembangan versi terbaik diri kita sendiri,” tegasnya.

Dengan langkah-langkah ini, tidak hanya membangun penghargaan internal yang kuat, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif. Penghargaan datang tidak hanya dari luar, tetapi juga tumbuh secara alami dari dalam diri dan dari rekan-rekan kerja yang mendukung. **

Editor : Miftahul Khair
#burn out #produktivitas #kerja #stres