Balita yang sehat dan ceria bukan hanya ditentukan dari asupan gizi, tapi juga dari seberapa aktif mereka bergerak. Aktivitas fisik, khususnya yang dilakukan secara terarah dan rutin, terbukti membawa manfaat luar biasa bagi tumbuh kembang anak usia dini.
Oleh : Siti Sulbiyah
Tidak sedikit orang tua yang belum menyadari betapa pentingnya aktivitas fisik bagi balita. Selama ini, aktivitas fisik seringkali dipahami hanya sebatas gerakan bebas anak saat bermain, padahal jika dilakukan secara lebih terencana dalam bentuk latihan fisik, aktivitas ini mampu memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar.
Hal ini diulas dalam Webinar Series 1: Rekomendasi Aktivitas Fisik Sesuai Siklus Hidup (Ibu Hamil & Nifas, Bayi, Balita) yang digelar oleh Kementerian Kesehatan RI, belum lama ini. Menghadirkan dr. Susiana Candrawati dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, acara ini menekankan bahwa aktivitas fisik bukan hanya kebutuhan bagi orang dewasa, tapi justru menjadi pondasi penting bagi anak-anak, terutama balita, dalam membangun tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.
Ia mengatakan aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kerja otot-otot rangka yang menghasilkan pengeluaran energi. Namun ternyata, aktivitas fisik yang biasa saja itu tidak cukup sehingga muncul definisi baru yang kita sebut sebagai latihan latihan fisik.
“Nah, ini latihan fisik adalah aktivitas fisik yang terencana terstruktur, melibatkan gerakan-gerakan tubuh tertentu, kemudian berulang dan pastinya latihan fisik ini punya tujuan,” ucapnya.
Bagi balita, latihan fisik yang tepat memberikan segudang manfaat. Sama manfaatnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh orang dewasa, anak kecil juga bisa meningkatkan kebugaran tubuhnya. Selain itu, daya tahan otot dan kekuatan tulang juga akan meningkat. Hal ini tentunya akan membekali anak dengan tubuh yang lebih tangguh sejak usia dini.
“Daya tahan ototnya menjadi lebih baik, tulangnya menjadi lebih kuat dan tentunya pasti mencegah penyakit kronis di masa mendatang,” tuturnya.
Lebih menarik lagi, lanjutnya, aktivitas fisik pada balita juga memberikan efek positif pada perkembangan kognitif dan emosional. Anak yang aktif secara fisik cenderung memiliki fungsi otak yang lebih baik dan memiliki suasana hati yang lebih stabil.
“Cenderung mood-nya lebih stabil, dan tidak gampang depresi,” ujarnya
Aktivitas fisik rutin memiliki manfaat jangka panjang bagi anak usia prasekolah. Susiana menekankan pentingnya membiasakan anak-anak balita berusia 3 hingga 4 tahun untuk aktif bergerak guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
“Untuk anak 3 sampai 4 tahun atau usia prasekolah, terdapat beberapa manfaat aktivitas fisik. Pastinya ketika anak itu kita latih aktivitas fisiknya sedari dini harapannya akan dibawa kebiasaan itu hingga dia dewasa,” jelasnya.
Aktivitas fisik yang terarah dan teratur tentunya akan menunjang tumbuh kembang baik secara fisik, maupun kognitif dan muskuloskeletal. Dari segi fisik anak, hal ini dihubungkan dengan peningkatan berat badan ideal sesuai usianya dan efek ini akan menetap hingga dewasa.
Tidak hanya itu, ia juga menyoroti bahwa aktivitas fisik dan kualitas tidur yang rendah dihubungkan dengan menurunnya fungsi kognitif dan regulasi emosi yang kurang pada anak-anak kecil. Karena itu, baik aktivitas fisik maupun kualitas tidur harus menjadi perhatian orang tua.
Dari sisi perkembangan muskuloskeletal, menurutnya, anak dapat memperbaiki densitas mineral tulang dan juga perkembangan otot serta membantu berkembangnya keterampilan motorik. **
Editor : Miftahul Khair