Banyak orang tua dan pendidik kerap menghadapi tantangan dalam memahami perilaku anak-anak yang dianggap nakal atau bermasalah. Padahal, sejumlah perilaku yang sering disalahpahami sebenarnya bisa menjadi sinyal penting tentang kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Oleh: Siti Sulbiyah
Dalam keseharian, tidak sedikit orang tua, guru, atau pengasuh yang merasa frustasi saat menghadapi perilaku anak yang dianggap mengganggu atau tidak sesuai harapan. Mulai dari anak yang sulit diam, sering membantah, mudah menangis, marah, bahkan tantrum. Sayangnya, banyak dari perilaku ini langsung dicap sebagai kenakalan atau ketidakpatuhan, tanpa memahami apa yang sebenarnya dimaksud anak.
Hal inilah yang dibahas dalam Webinar yang digelar oleh Dunia Parenting Indonesia yang mengangkat tema tentang “Memahami perilaku Anak yang sering Disalahpahami”, pekan lalu.
Fitria Adriana, M.Psi, Psikolog, selaku narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan Setiap anak itu unik karena mereka punya karakter dan dinamika perkembangan yang berbeda-beda.
“Walaupun mungkin cara pengasuhannya sama, ternyata hasilnya bisa berbeda,” katanya.
Menurutnya, perilaku anak sering kali merupakan bagian dari fase perkembangan. Anak akan merasakan berbagai emosi sebagai respons dari stimulus yang mereka terima dari orang tua atau lingkungan sekitarnya.
“Setiap tahapan usia ini memang punya fase yang berbeda-beda. Perkembangan ini penting karena akan menjadi pondasi untuk hubungan sosialnya anak nanti,” jelasnya.
Fitria menjelaskan, ada masa-masa tertentu di mana anak cenderung lebih tantrum atau menunjukkan emosi yang meledak. Pada usia 1-3 tahun, anak benar-benar sedang belajar untuk mengekspresikan dirinya. Tapi masih terbatas untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Makanya kadang emosi yang keluar kayak menangis, marah, berjerit, ngelempar barang gitu. Pokoknya hal-hal yang sering kita lihat kayak anak susah banget diatur,” ucap Fitria.
Saat memasuki usia 3-6 tahun, menurutnya, anak juga sedang dalam fase egosentris yang cukup kuat. “Fase-fase egosentrisnya lagi gede-gedenya. Jadi kayak segala hal itu fokusnya ke dia saja. Dia belum bisa mikirin gimana perasaan orang lain karena yang dia fokus pada dirinya sendiri,” jelasnya.
Hal ini, tambahnya, sering membuat anak mudah frustasi dan kembali mengekspresikan emosinya secara intens seperti tantrum.
Fitria juga menyoroti beberapa perilaku anak yang sering disalahartikan sebagai kenakalan, padahal merupakan bagian dari eksplorasi dan perkembangan. Salah satunya anggapan soal anak susah diatur atau sulit diberi tahu. Sebagai contoh, ia menyebut perilaku anak yang suka melempar barang, terutama pada usia 0-2 tahun.
“Jadi memang dia itu sedang kayak mengeksplorasi tindakannya dan memahami sebab akibat,” katanya.
Namun karena belum tahu cara mengontrol diri, tindakan tersebut bisa terkesan agresif. Di sinilah peran orang tua menjadi penting.
“Perlu peran orang tua mengawasi dan juga mengarahkan untuk tidak melempar barang sembarangan,” jelasnya. Ia menyarankan untuk mengalihkan perilaku tersebut ke aktivitas yang lebih terarah, seperti bermain lempar tangkap bola.
Ia juga menyoroti respons orang tua dalam menghadapi perilaku tantrum pada anak. Pada posisi ini menurutnya tidak sedikit orang tua memandang nakal perilaku anak. “Tapi sebetulnya tantrum juga terjadi mereka kesulitan untuk mengekspresikan emosi atau keinginannya lain,” katanya.
Fitria menegaskan bahwa orang tua perlu untuk mengarahkan anak ketika sedang tantrum. Seperti membantu anak untuk mengungkapkan apa yang dirasakan atau diinginkannya.
“Misalnya kamu tuh lagi capek ya, lagi ngantuk ya, tidur yuk. Kadang mereka belum ngerti cara ngomong aku ngantuk pengen tidur gitu. Jadi orang tua yang harus mengarahkan,” katanya mencontohkan.
Dalam menghadapi situasi tantrum, ia menyarankan orang tua tetap tenang dan tidak ikut terbawa emosi. Ketika anak sedang tantrum, orangtua bisa membawa anak ke tempat yang aman buat dia dulu,” jelasnya.
Selain tantrum, ada juga perilaku lain yang sering disalahpahami, seperti berteriak secara tiba-tiba. Menurutnya, itu karena anak masih dalam proses belajar mengontrol emosinya. “Ini memang mereka sekali lagi belum bisa nih mengontrol emosinya. Masih kayak trial and error sendiri,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya cara berkomunikasi orang tua saat menghadapi perilaku anak yang sedang mengalami ledakan emosi atau kondisi negatif lainnya. **
Editor : Miftahul Khair