Di tengah digitalisasi dan maraknya konten visual instan, kartunis di Kalimantan Barat tetap menunjukkan eksistensinya sebagai bagian dari aktivitas berkesenian. Dengan media gambar, mereka bukan hanya menghadirkan hiburan visual, tetapi juga menyisipkan pesan-pesan sosial dan kritik politik yang halus namun mengena.
Oleh : Siti Sulbiyah
PONTIANAK POST - Salah satu wajah kartunis Kalimantan Barat yang turut menyuarakan isu sosial melalui gambar adalah Bani Hidayat. Kritik sosial tersebut disalurkan ke berbagai pameran tahunan yang mempertemukan para seniman visual, mulai dari pelukis hingga kartunis.
“Setiap tahun selalu ada pameran drawing yang kadang angkat kritik sosial lewat kartun,” ujarnya.
Bakat menggambarnya tumbuh sejak kecil dan berkembang secara otodidak. Kini, ia menuangkan keresahannya dalam bentuk karikatur kritik sosial yang sederhana namun sarat makna.
Seorang ibu rumah tangga, Sylvia C memilih jalur yang lebih personal namun tetap artistik. Ia menciptakan komik tanpa dialog, yang disebutnya sebagai silent story. “Saya bikin komiknya tidak ada dialog. Inspirasi dari mana saja, dari ekspresi orang entah itu sedih, marah, dan lainnya,” tutur Sylvia.
Menggambar menjadi ruang pribadi baginya untuk menyalurkan pikiran dan imajinasi, sembari tetap menjalankan perannya di rumah. “Gambar-gambar saya murni dari apa yang saya inginkan,” katanya.
Sylvia kerap membagikan hasil karyanya di media sosial, terutama Instagram. Tanpa sengaja, dari unggahan-unggahan itu muncullah apresiasi, di mana ada orang yang membeli softcopy karyanya untuk kemudian dicetak sendiri. “Dicetak untuk dijadikan merchandise,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa menggambar bukanlah sarana untuk mencari keuntungan. “Saya tidak fokus pada penjualan, atau menerima order. Tapi semuanya murni dari gambar yang saya inginkan, mengalir saja,” ujarnya mantap.
Sylvia pernah mengikuti berbagai pameran, baik lokal maupun nasional. Di tingkat lokal, ia pernah terlibat dalam event Bulan Menggambar Nasional. Sementara di nasional, ia karyanya pernah ditampilkan dalam Pameran Kopi Togetherness di Museum Nasional, di Jakarta.
Kartunis lainnya, Nurdiansyah, menilai aktivitas menggambar sebagai sesuatu yang berasal dari hobi dan ketertarikan, bukan semata bakat. “Pengalaman saya sebagai kartunis ya karena hobi, jadi dibikin asik saja,” ujarnya.
Baginya, kemampuan menggambar adalah hasil dari ketekunan dan rasa ingin tahu sejak kecil. Berawal dari tertarik mencoba mencoret-coret gambar layaknya anak SD, lama-lama senang dan jadi hobi.
Proses kreatifnya dimulai dari pengamatan lingkungan, lalu dituangkan dalam bentuk gambar dengan berbagai media seperti cat lukis, pensil warna, hingga pulpen. “Tokoh-tokoh atau figur terkadang inspirasi saya dari orang-orang sekitar,” jelasnya.
Baca Juga: Drama Hukum: Lisa Mariana Gugat Ridwan Kamil, Sidang Perdana di PN Bandung!
Karyanya diunggah ke Instagram dan Facebook. Ia juga kerap mengikuti pameran seni lukis di Taman Budaya dan Museum Kalbar. Selain itu, ia juga kerap membuat karikatur original buatan tangan, terutama berdasarkan pesanan.
Menghadapi era digital dan kemunculan kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan siapa saja membuat kartun dengan mudah, Nurdiansyah tetap percaya bahwa karya manual memiliki nilai tersendiri. “Yang jelas semua itu punya ciri khas masing-masing. Original buatan tangan tetap beda hasilnya dan sampai saat ini masih disukai penikmat seni,” katanya.
Meski teknologi terus berkembang, menunjukkan bahwa nilai keaslian membuat seni kartun tetap hidup. “Untuk menghadapi tantangan, tetap percaya diri pada hobi, itu saja sih,” pungkasnya.
Sylvia
Selalu Bawa Alat Tulis
Di tengah aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, Sylvia selalu membawa buku sketsa dan alat tulis ke mana pun ia pergi. “Saya suka bawa buku dan alat tulis ke mana-mana,” ujarnya.
Berbeda dari banyak ilustrator modern yang langsung berkarya secara digital, Sylvia memilih jalur tradisional. Ia pernah mencoba berbagai media, mulai dari cat air (watercolor), pensil, hingga akrilik, namun akhirnya jatuh cinta pada pulpen.
“Saya lebih senang pakai pulpen, kadang-kadang juga watercolor,” katanya.
Ia bahkan menggunakan drawing pen dengan diameter sangat kecil, ukuran 0,03 mm agar menghasilkan gambar yang lebih detail. Namun keberadaan drawing pen ukuran tersebut cukup langka di Pontianak.
Proses kreatif Sylvia seringkali memakan waktu panjang. Ada satu gambar yang ia kerjakan selama sepuluh hari, karena tingkat detail yang tinggi dan keterlibatan emosi yang dalam. “Itu dibuat sesuai dengan mood saat itu. Saya menggambar juga sebagai rilis emosi,” jelasnya.
Sebagai seniman yang mengutamakan detail, ia sangat menjaga kestabilan tangan. “Dalam proses menggambar jangan sampai tremor. Detail juga sangat diperhatikan,” tambahnya.
Beberapa karyanya ia digitalisasi dengan cara memindai dari buku gambar, dan sebagian juga ia buat langsung di tablet. Namun ia mengakui masih dalam proses belajar mengeksplorasi dunia ilustrasi digital.
Meski banyak kartunis sudah menampilkan karya mereka di platform seperti Webtoon atau Karyakarsa, Sylvia belum mengambil langkah ke arah itu. “Saya masih memantapkan karya. Ke depan ingin mencoba memasukkan hasil komik lewat platform,” ujarnya.
Bani Hidayat
Tuangkan Ide Dibantu AI
Dalam menyalurkan kreativitasnya, Bani Hidayat memanfaatkan media ataupun alat tulis yang pun beragam, mulai dari pensil dan cat air. Ia juga mencoba bantuan digital meskipun belum sepenuhnya menguasainya.
“Alat dan media yang saya gunakan beragam, pensil, cat air, kadang dibantu digital. Tapi saya tidak menguasai digital sepenuhnya,” ujarnya.
Kartun, baginya, hanyalah salah satu bentuk ekspresi seni di antara banyak medium lain yang ia tekuni. Ia tak setiap hari membuat karikatur. Walau begitu, ia berusaha menyalurkan karya lewat pameran-pameran seni di Kalimantan Barat.
Pria berusia 45 tahun ini kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk membantunya dalam proses kreatif. “Saat ini berusaha memanfaatkan AI sebagai bantuan menuangkan ide,” katanya.
Namun, ia tetap menekankan pentingnya sentuhan manusia dalam setiap karya, terutama dalam mencari karakter visual dan membangun narasi.
Baginya, tantangan utama dalam membuat kartun atau komik bukan hanya terletak pada teknik, tetapi lebih kepada pencarian ide dan isu yang ingin diangkat. “Lebih kepada mencari ide, isu apa yang akan diangkat. Dan dari segi teknik, mencari karakter gambar,” jelasnya.
Karya-karyanya juga sering dipesan untuk momen-momen spesial, seperti perpisahan pindah kantor. Ia rata-rata mendapat satu hingga dua orderan per bulan, dengan harga tergantung pada jumlah figur, ukuran, serta media yang digunakan.
“Lebih mahal kanvas karena memerlukan banyak proses. Rata-rata untuk kanvas bisa memakai ukuran hampir satu meter,” ungkapnya. (sti)
Editor : Hanif