Pembinaan anak-anak yang dianggap nakal melalui pendekatan militer menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Di satu sisi, metode ini dinilai mampu menanamkan disiplin, namun di sisi lain dikhawatirkan berdampak negatif terhadap perkembangan emosional anak.
Oleh: Siti Sulbiyah
Sejumlah anak yang dinilai melakukan kenakalan remaja di wilayah Kabupaten Bandung dikirim ke barak militer dalam rangka mengikuti program pembinaan disiplin. Program ini diusung oleh Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi guna menggembleng siswa-siswa nakal di wilayah Jabar dengan cara yang terbilang ekstrem.
Mengutip Jawapos.com, diketahui dalam pelaksanaan program ini, Dedi bekerja sama dengan Polri, TNI dan pihak sekolah untuk mencari siswa-siswa yang dianggap nakalnya susah ditangani dan dimasukkan ke barak militer. Mereka digembleng oleh para pengajar dan pembina, tentunya melibatkan peran guru untuk membentuk karakter yang lebih baik.
Keluar dari barak militer, siswa-siswa nakal tadi diharapkan bertaubat. Selain tak lagi nakal, mereka diharapkan jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mengerti orang tuanya yang sudah susah payah menyekolahkan mereka.
Dari program yang telah dijalankan, Dedi mengklaim mulai terlihat perubahan pada para siswa, terutama dalam hal kedisiplinan. “Dulu mereka sulit tidur. Sekarang jam 8 malam sudah terlelap. Dulu susah bangun, sekarang jam 4 pagi sudah bangun. Dulu mereka susah fokus, sekarang sudah mulai bisa fokus,” terang Dedi, dikutip dari Jawapos.com.
Meski dinilai berhasil oleh penyelenggara, program ini menuai perdebatan di tengah masyarakat. Dosen Psikologi IAIN Pontianak, Isyatul Mardiyati, M.Psi., Psikolog, mengomentari hal ini. Ia menilai pendekatan semacam ini kontroversial dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
“Sebagai psikolog anak yang profesional, saya melihat fenomena mendidik anak nakal di barak militer sebagai pendekatan yang sangat kontroversial dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati,” terangnya.
Menurut Isyatul, sebelum mendalami lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu diperjelas, seperti definisi anak "nakal" dan bentuk pendidikan yang diberikan di barak militer tersebut. Apakah yang disebut nakal itu karena mereka terlibat tawuran, pencurian, narkoba, atau hanya karena sering terlambat ke sekolah?
“Menurut saya harus ada kriteria yang jelas,” katanya.
Isyatul juga menyoroti perlunya kejelasan apakah anak-anak hanya ditempatkan di barak militer atau juga mendapatkan pendidikan dengan pola militer secara penuh. Ia pun tidak tahu persis detail program didikan yang diberlakukan seperti yang berlaku di Jawa Barat tersebut.
Lingkungan militer yang keras dan penuh aturan menurutnya mungkin bisa memberikan dampak positif berupa kedisiplinan dan pengendalian diri. Tetapi, jika pendekatan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan emosional dan psikologis anak, maka bisa menimbulkan tekanan mental.
“Anak-anak yang sudah mengalami kesulitan perilaku seringkali membutuhkan pendekatan yang lebih bersifat pendampingan dan pemahaman personal bukan sekadar hukuman atau disiplin yang keras,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Beberapa anak mungkin merespons dengan baik terhadap struktur dan disiplin yang ketat, tetapi banyak juga anak yang mungkin merasa tertekan atau terasingkan dalam lingkungan seperti itu.
“Oleh karena itu, pendekatan yang lebih personal dan berbasis kebutuhan psikologis anak sebenarnya akan lebih efektif dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam perilaku nakal seringkali memiliki latar belakang keluarga atau lingkungan sosial yang berpengaruh terhadap sikap mereka. Oleh karena itu, lingkungan yang hanya menekankan kedisiplinan tanpa ada upaya untuk memperbaiki faktor penyebab masalah perilaku anak, akan kurang efektif. Pendekatan yang melibatkan dukungan dari keluarga dan komunitas lebih dianjurkan.
Selain itu, lanjut Isyatul, pendekatan yang lebih berfokus pada pendidikan karakter yang holistik, yang melibatkan pengembangan sosial, emosional, dan intelektual anak, akan lebih membantu. Program yang mengajarkan anak untuk memahami konsekuensi dari perilaku mereka, mengembangkan empati, dan memperbaiki kemampuan pengendalian diri lebih bermanfaat dalam jangka panjang daripada sekadar mendisiplinkan mereka dengan cara militer.
“Cara militer tidak memperbaiki akar masalah. Penanganan masalah hendaknya disesuaikan dengan akar masalah dan keunikan anak,” katanya.
Di sisi lain, ia menilai sistem disiplin ala militer dapat memengaruhi perkembangan emosi dan mental anak secara signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Jika diterapkan dengan cara yang seimbang, di mana ada penekanan pada pembelajaran pengendalian diri dan penguatan karakter, maka sistem ini dapat memberikan dampak positif, seperti peningkatan ketahanan mental dan disiplin yang lebih baik.
Namun, jika terlalu keras atau tidak mempertimbangkan hak-hak anak seperti kebutuhan emosional anak, dampaknya bisa sangat negatif, mengarah pada stres, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan masalah dalam hubungan sosial.
“Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa disiplin diterapkan dengan cara yang mendukung perkembangan holistik anak, dengan mempertimbangkan aspek psikologis dan emosional mereka,” tegasnya. **
Editor : Miftahul Khair