Wawancara kerja bukanlah sekadar menjawab pertanyaan, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan meyakinkan perekrut bahwa pelamar merupakan kandidat terbaik. Agar wawancara berjalan efektif dan memberikan hasil yang optimal, persiapan matang sangatlah diperlukan.
Oleh: Siti Sulbiyah
Wawancara kerja adalah salah satu tahapan paling krusial dalam proses rekrutmen. Tidak hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga momen penting untuk menciptakan kesan pertama yang positif.
Topik ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam Webinar Persiapan Memasuki Dunia Kerja yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia pada pekan lalu. Dalam webinar tersebut, Director of Human Resources Hotel Wyndham Casablanca Jakarta, Retno Kusumayanti, membagikan sejumlah kiat penting agar wawancara kerja bisa dijalani secara efektif.
“Yang perlu kita ketahui, setelah kita berhasil lolos seleksi administrasi seperti CV, maka hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah persiapan sebelum menghadiri wawancara,” ungkap Retno.
Ia menekankan pentingnya memahami perusahaan secara menyeluruh, mulai dari budaya kerja, visi-misi, hingga kualifikasi dari posisi yang dilamar. “Kenali nilai-nilai perusahaan tersebut dan visinya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Retno juga menyarankan agar calon pekerja melatih diri menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang biasanya diajukan dalam sesi wawancara, baik oleh HRD maupun user terkait. Menurutnya, latihan bisa dilakukan di depan cermin atau bersama teman yang bisa memberikan umpan balik.
“Banyak kegagalan juga dalam interview adalah ketika menghadapi interview nervous hilang semua jawaban-jawaban dan akhirnya hanya bisa minta maaf ke rekruternya,” katanya.
Untuk mengatasi rasa gugup atau nervous, Retno menyarankan teknik mindfulness sebagai salah satu strategi. Latihan rutin juga dinilainya sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan ketenangan saat menghadapi wawancara kerja.
Tak kalah penting, cara berpakaian juga menjadi bagian dari persiapan wawancara. Retno mengingatkan agar pelamar memilih pakaian yang rapi dan sopan sesuai dengan budaya perusahaan. “Tapi bukan berarti harus pakai baju merek tertentu. Tidak perlu. Yang penting rapi dan sopan,” jelasnya.
Retno juga menyoroti pentingnya sikap profesional selama wawancara. Salah satunya dengan menunjukkan antusiasme. “Tunjukkan antusiasme. Antusiasme itu seperti apa? Semangat, senyum, dan keinginan bergabung di perusahaan harus terlihat,” ungkapnya.
Menurutnya, komunikasi yang baik, sikap sopan, dan menghormati pewawancara sangat diperlukan, termasuk rasa percaya diri. “Kadang nervous itu muncul karena kita tidak percaya diri. Takut salah, takut jawabannya tidak tepat. Padahal biasanya yang ditanya itu adalah apa yang sebenarnya sudah kita kuasai,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa perusahaan tidak mungkin memanggil calon karyawan yang tidak memiliki kualifikasi yang sesuai. Sehingga ia menyarankan agar pelamar untuk berusaha untuk percaya pada kemampuan dirinya itu.
Retno juga menyarankan agar pelamar menyiapkan beberapa pertanyaan untuk diajukan kepada recruiter. “Jadi saat interview biasanya recruiter akan menanyakan, apakah ada yang ingin ditanyakan. Nah, gunakan momentum ini untuk memberikan pertanyaan yang bisa menunjukkan kualitas diri,” tuturnya.
Retno pun menyarankan agar setelah wawancara selesai, pelamar mengirimkan email ucapan terima kasih kepada pewawancara. Hal tersebut dinilai dapat menegaskan keseriusan dan antusiasme pelamar untuk segera bergabung dengan perusahaan. **
Editor : Miftahul Khair