Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Toxic Positivity Bagi Anak: Bahaya yang Sering Tak Disadari Orang Tua

Siti Sulbiyah Kurniasih • Rabu, 21 Mei 2025 | 14:02 WIB

 

Ilustrasi toxic positivy tak selalu berdampak baik pada anak.
Ilustrasi toxic positivy tak selalu berdampak baik pada anak.

Niat untuk menciptakan suasana positif bagi anak merupakan hal yang baik. Namun, ketika dorongan untuk selalu melihat sisi baik berubah menjadi penyangkalan emosi negatif, muncullah apa yang disebut sebagai toxic positivity.

Oleh: Siti Sulbiyah

Dalam upaya memberikan yang terbaik bagi anak, tak jarang orang tua berusaha menciptakan suasana yang selalu positif di rumah. Ungkapan seperti “jangan sedih, ya” atau “kamu harus bisa lebih baik dari ini” sering kali dilontarkan dengan maksud menghibur. 

Namun tanpa disadari, dorongan untuk terus merasa bahagia dan menolak emosi negatif ini dapat menjadi bumerang bagi perkembangan mental anak. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, sikap memaksakan pandangan positif yang justru menekan ekspresi emosi yang sehat dan wajar.

“Toxic positivity adalah suatu pengasuhan anak yang mengacu pada upaya orang tua untuk menekankan hal positif dan menolak, atau bahkan menolak emosi negatif anak-anak,” ungkap Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 10 Pontianak, Endah Fitriani, M.Psi.

Kondisi ini menurutnya termasuk mendikte perasaan anak, memaksakan kebahagiaan meskipun mereka sedih, atau meremehkan kesulitan yang mereka hadapi. Hal ini sama juga anak harus terus selalu bahagia meskipun di dalam hatinya sedih, bahkwan tidak bisa mengungkapkan perasaan negatifnya.

Endah menekankan terdapat perbedaan antara sikap positif dan toxic positivity. Sikap positif yakni dimana anak dapat mengekspresikan perasaannya baik sedih maupun gembira, atau emosi lainnya, tanpa ada tekanan atau paksaan dari orang lain. Akan tetapi toxic positivity dimana perasaan negatif sangat ditekan karena hanya perasaan positif saja yang dimunculkan dengan mengabaikan perasaan negatif.

Ada beberapa contoh toxic positivity yang sering dilakukan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Seperti membisikkan kalimat positif di saat anak sedang mengalami masalah, membandingkan anak dengan orang lain, menekan emosi negatif, hingga memaksa anak untuk selalu bahagia.

Selain itu, mengabaikan perasaan anak, menolak untuk mengakui kesulitan serta mengatakan "jangan menyerah” atau “itu semua demi kebaikanmu”, juga bisa menjadi kata-kata yang tidak baik bagi perkembangan mental anak. 

Namun, diakuinya tidak sedikit orang tua yang tidak menyadari melakukan toxic positivity karena mereka mungkin tidak memahami konsep tersebut. Mereka menganggap sikap positif selalu baik, atau memiliki pemikiran yang berbeda tentang bagaimana anak harus berhadapan dengan emosi negatif.

“Selain itu, media sosial dan lingkungan sosial juga dapat memicu toxic positivity tanpa disadari,” katanya.

Toxic positivity menurut Endah dapat membuat anak kesulitan untuk mengungkapkan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan. Emosi yang tidak dilepaskan dan menumpuk karena perilaku toxic positivity akan memicu terjadinya gangguan mental, seperti anxiety disorder, post traumatic disorder (PTSD), dan lain sebagainya.

“Anak tidak bisa mengekspresikan emosinya yang anak ketahui bahwa dirinya harus bahagia meskipun gagal dalam menghadapi sesuatu, harus tetap tersenyum meskipun merasa sakit,” ujarnya.

Toxic positivity juga bisa membuat anak dalam jangka panjang mengabaikan keadaan buruk yang dapat membahayakan diri sendiri. “Misalnya, seseorang yang sudah terlanjur terjebak dalam toxic positivity cenderung akan mengabaikan perilaku kasar dari pasangan (abusive relationship) dan mudah memaafkan perilaku kasar pasangan, ditambah dengan pemikiran optimis bahwa pasangan akan berubah,” tuturnya.

Selain itu, tambahnya, toxic positivity akan membuat seseorang mudah untuk merasa rendah diri apabila terlihat sedang tidak baik-baik saja ketika berhadapan dengan orang lain.

Dalam beberapa literatur, sambung dia, toxic positivity adalah kondisi ketika kebahagiaan dan optimisme dipaksakan secara berlebihan dan tidak tepat dalam berbagai situasi, sehingga menjadi tidak efektif dan merugikan. Sikap optimis dan kepositifan ini justru menjadi bom waktu bagi mereka yang mempertahankannya. 

“Pada anak, orang tua yang menganut toxic positivity tanpa sadar membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu ingin bahagia dan egois tanpa memikirkan keadaan yang sebenarnya,” ujarnya.

Contoh sederhananya, ketika seseorang bercerita tentang situasi buruk yang dialaminya yaitu dibully oleh teman di sekolah. Sayangnya, respon orang lain disekitarnya adalah memintanya untuk sabar. 

“Hal ini dapat membuat orang tersebut menekan emosi negatif yang dirasakannya. Alih-alih berpikir positif dan berusaha untuk mencari cara agar tidak lagi mendapat perlakuan yang demikian, yang ada hal tersebut dapat menjadi bom waktu yang kapanpun bisa saja meledak,” katanya. 

Orang yang mengalami situasi tersebut bisa jadi membiarkan saja luka yang dialaminya dan enggan untuk meminta pertolongan orang lain karena merasa tidak ada yang dapat memahami kondisi yang dialaminya. 

Dirinya menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja. Orang tua bisa mengajarkan anak cara manajemen stress yang baik, serta menumbuhkan rasa bahwa di dalam diri seseorang pasti ada sisi baik dan buruk sehingga keduanya harus dijalankan dengan baik dan beriringan. **

Editor : Miftahul Khair
#Orang tua #toxic positivity #anak