Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menyikapi Perbedaan Karakter dalam Rumah Tangga

Siti Sulbiyah Kurniasih • Sabtu, 24 Mei 2025 | 14:51 WIB

 

Ilustrasi perbedaan karakter dalam rumah tangga.
Ilustrasi perbedaan karakter dalam rumah tangga.

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan sering kali menjadi sumber konflik dalam pernikahan. Namun, perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami sebagai bagian dari fitrah manusia.

Oleh: Siti Sulbiyah

Di balik impian membangun rumah tangga yang harmonis, tak sedikit pasangan suami istri justru terjebak dalam konflik berkepanjangan, salah paham, atau merasa tidak dipahami oleh pasangan sendiri. Banyak permasalahan rumah tangga justru berakar dari satu hal yang sangat mendasar, yakni ketidakpahaman terhadap perbedaan fitrah laki-laki dan perempuan.

Hal inilah yang dikupas Ihya Addini Islami, dalam kegiatan bedah buku “Bukan Sekadar Menikah”, buku karyanya sendiri. Melalui karyanya, Ihya mengajak pasangan suami istri untuk berhenti saling menuntut dan mulai belajar memahami bahwa perbedaan cara berpikir, berkomunikasi, dan merespons antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang alami dan tak terhindarkan.

Ihya mengungkap bahwa banyak pasangan yang menikah tanpa memahami dasar-dasar emosional pasangannya. “Kita menikah dengan manusia, bukan robot. Tapi seringkali pasangan diperlakukan seperti robot yang harus kuat, tidak boleh lelah, tidak boleh salah,” ungkap Ihya.

Ihya memberikan contoh bagaimana perbedaan ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Istri, menurutnya, lebih membutuhkan empati dan pendengaran saat curhat, bukan solusi cepat. Sedangkan suami lebih membutuhkan penghargaan. Ia juga menyinggung kecenderungan suami diam saat lelah dan istri murung saat emosi, yang sering disalah artikan sebagai sikap tidak peduli. Padahal dua-duanya cuma sedang lelah, tapi tidak tahu cara saling menenangkan.

“Akhirnya, isinya cuma overthinking dan saling menebak.”

Dalam pandangannya, konflik rumah tangga sering kali muncul bukan karena pasangan saling menyakiti, tetapi karena mereka tidak memahami kebutuhan emosional satu sama lain. Istri membutuhkan kasih sayang, sementara suami membutuhkan rasa hormat. Ketika hal ini tidak terpenuhi, kekecewaan pun muncul.

“Jadi masalahnya bukan karena pasangan kita jahat, tapi nggak ngerti kebutuhan emosional pasangan,” tuturnya.

Menurut Ihya, perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang harus disamakan, melainkan disyukuri. Perbedaan ini mencakup berbagai aspek mulai dari otak, hormon, cara merespons stres, hingga kebutuhan dasar dalam hubungan.

Secara neurologis, otak laki-laki cenderung dominan membuat mereka fokus pada satu hal dan cepat dalam mencari solusi. Inilah sebabnya mengapa banyak suami lebih cepat menanggapi masalah dengan solusi ketimbang mendengarkan proses curhat yang panjang.

Sebaliknya, wanita memiliki koneksi antar belahan otak yang lebih aktif, memungkinkan mereka untuk multitasking dan sangat responsif terhadap lingkungan sekitar.

“Misalnya, ibu-ibu bisa nyuci, masak, jagain anak, sambil dengerin curhatan tetangga dan sesekali update story WhatsApp. Semua dilakukan dalam waktu bersamaan,” jelas Ihya.

Wanita juga dikenal lebih mengingat detail yang berhubungan dengan emosi, seperti kapan suami menyapa tetangga atau kapan mereka pertama kali berkencan. Sedangkan suami, menurut Ihya bisa saja lupa dengan tanggal nikah.

Secara hormonal, laki-laki didominasi oleh testosteron yang membuat mereka lebih logis, agresif, dan fokus pada penyelesaian masalah. Wanita, sebaliknya, dipengaruhi oleh estrogen dan progesteron yang memperkuat sensitivitas emosional dan keinginan untuk membangun hubungan.

“Makanya, saat ada konflik, suami langsung cari solusi. Tapi istri justru butuh dipeluk dulu, baru bisa mikir solusi. Perempuan ingin divalidasi emosinya,” tambahnya.

Dalam menghadapi stres, laki-laki cenderung mengadopsi strategi fight or flight, yakni menghadapi atau menghindari. Sementara perempuan lebih memilih mencari dukungan sosial dan menciptakan rasa aman melalui hubungan yang erat.

Perbedaan lainnya juga terletak pada pengalaman biologis seperti kehamilan, menyusui, hingga baby blues. Hal ini sering kali tidak dipahami oleh suami. “Bapak lihat istrinya nangis pas nyusuin, bingung. Padahal anaknya lucu, kok sedih? Mereka nggak paham kalau itu karena perubahan hormon yang bikin istri takut, merasa gagal,” terangnya.

Ihya menegaskan bahwa suami dan istri punya kebutuhan emosional yang berbeda. Suami butuh dihormati, dipercaya, dan dipuji, apalagi di depan orang lain. Sedangkan istri butuh dicintai, diamankan, dan diperhatikan.

“Suami merasa dihargai kalau diberi pujian atas usahanya, sekecil apa pun. Istri merasa disayang ketika diperhatikan, ketika emosinya divalidasi, bukan diabaikan,” jelasnya. **

Editor : Miftahul Khair
#karakter #istri #rumah tangga #suami #perbedaan