Perisai atau talawang dalam tradisi Dayak bukan hanya alat pelindung diri, melainkan simbol budaya yang sarat makna. Kini, di tengah zaman yang kian serba digital, seni melukis perisai Dayak menjadi salah satu cara penting untuk merawat kesenian dan jati diri masyarakat Dayak.
Oleh : Siti Sulbiyah
PONTIANAK POST - Di tengah kemeriahan Pekan Gawai Dayak (PGD) 2025 yang digelar dari tanggal 18 hingga 24 Mei di Rumah Radakng, satu sudut kegiatan menyita perhatian pengunjung. Bukan karena riuh tepuk tangan atau lantunan musik tradisional, melainkan karena suasana hening yang penuh konsentrasi.
Di sana, sebanyak 17 orang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat tengah melukis perisai kayu khas Dayak. Mereka datang dari berbagai sanggar seni dan lembaga adat yang tergabung dalam Sekberkesda (Sekretariat Bersama Kesenian Dayak) dan DAD (Dewan Adat Dayak) untuk mengikuti lomba melukis perisai. Kompetisi ini digelar selama dua hari, 21 dan 22 Mei, dengan waktu pengerjaan total 16 jam.
Salah satu peserta yang tampak tekun menorehkan warna adalah Hendrikus Hero, pemuda 18 tahun asal Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Ini adalah pengalaman pertamanya ikut lomba di tingkat provinsi.
“Kalau dulu hanya ikut yang antar desa di kampung,” ujarnya.
Meski berasal dari suku Embaloh, pada momen ini Hero memilih menggambarkan motif dari Suku Dayak Mualang di Kabupaten Sekadau. Sesuai dengan tema lomba perisai, kekhasan perisai khas Kabupaten Sekadau dipilih oleh pihak panitia PGD tahun ini.
Motif-motif tersebut dipelajarinya secara otodidak melalui media sosial, YouTube, Google, dan dokumentasi Gawai Dayak Sekadau tahun lalu. “Yang paling menantang itu saat mewarnai,” katanya.
Perisai Dayak, secara historis merupakan alat pertahanan dalam peperangan. Namun lebih dari itu, ia menyimpan filosofi dan nilai-nilai budaya yang dalam. Motif dan ornamen pada perisai bukan sembarang hiasan, melainkan simbol kekuatan, perlindungan, dan identitas suku.
Menurut Benyamin Dermawan, seniman asal Sanggau sekaligus juri lomba, tradisi melukis perisai telah lama menjadi bagian dari PGD yang digelar setiap tahun. Pada tahun ini, fokus motif berada pada budaya Dayak Sekadau. Kebanyakan peserta, dikatakan dia, memanfaatkan ornamen-ornamen tenun tradisional seperti kamang, taji sempidan, dan tempayan.
“Peserta berani melakukan riset, meskipun mereka bukan berasal dari Sekadau. Mereka cari tahu sendiri apa itu ornamen khas Sekadau” katanya. Hal Ini menunjukkan kemauan mereka untuk belajar kebudayaan Dayak yang sangat beranekaragam.
Hal menarik lainya pada lomba tahun ini, kata dia, motif yang dieksplorasi pun tak melulu bentuk perisai bertaring seperti kebanyakan. Tahun ini, justru dominan ornamen tenun yang ditampilkan, dengan warna-warna khas alam seperti merah, kuning, putih, dan hitam.
Di tengah arus modernisasi, menjaga tradisi diakuinya penuh dengan tantangan. Melukis perisai tidak hanya digeluti oleh laki-laki, namun juga perempuan. Sayangnya, dalam lomba yang diadakan tahun ini tidak ada peserta perempuan.
“Padahal di tahun-tahun sebelumnya, ada,” tuturnya.
Koordinator lomba, Stevanus, menyampaikan bahwa para peserta dapat bebas mengekspresikan kreativitas masing-masing, namun tetap mengusung motif khas dari Kabupaten Sekadau yang menjadi tema utama tahun ini.
“Untuk motif merupakan kreasi masing-masing peserta, tema besar yang kita angkat adalah motif dayak kabupaten Sekadau,” ujar Stevanus, Koordinator Panitia Lomba Melukis Perisai.
Dalam lomba ini, penilaiannya mencakup lima aspek yakni kreativitas, orisinalitas, tradisionalitas, kerapian dan kebersihan, serta tingkat kesulitan,” jelasnya. **
Editor : Hanif