Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rahasia Ibu Cerdas, Cara Melancarkan ASI yang Terbukti Efektif

Syeti Agria Ningrum • Kamis, 11 September 2025 | 15:15 WIB
Ilustrasi Ibu yang sedang memberi ASI pada bayinya.
Ilustrasi Ibu yang sedang memberi ASI pada bayinya.

PONTIANAK POST - Memberikan air susu ibu (ASI) merupakan cara alami terbaik untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan awal.

Didalamnya mengandung protein, lemak sehat, antibodi, dan berbagai zat penting yang tidak dapat tergantikan oleh susu formula.

Tidak hanya itu, menyusui juga bermanfaat bagi ibu karena membantu pemulihan setelah melahirkan, menurunkan risiko perdarahan, hingga mengurangi kemungkinan terkena penyakit tertentu di kemudian hari.

Meski begitu, tidak sedikit ibu merasa khawatir saat produksi air susu terasa sedikit atau tidak lancar.

Kekhawatiran ini wajar, terutama di minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ketika tubuh masih beradaptasi dengan kebutuhan bayi.

Dalam banyak kasus, masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan langkah sederhana dan dukungan yang tepat.

Menurut World Health Organization (WHO), pemberian makanan utama bayi ini selama enam bulan pertama merupakan standar emas dalam tumbuh kembang bayi.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menegaskan bahwa kualitas dan jumlahnya sangat dipengaruhi oleh frekuensi menyusui, posisi yang benar, serta kesehatan fisik dan emosional ibu.

Sementara itu, rujukan dari WHO/UNICEF tentang konseling laktasi menjelaskan bahwa rangsangan fisik dan ikatan emosional dengan bayi berperan penting dalam memperlancar keluarnya ASI.

Berikut cara yang harus dilakukan untuk membantu melancarkan ASI, berdasarkan panduan resmi internasional.

Baca Juga: Peringati Pekan ASI Sedunia, Pontianak Kampanyekan ASI Eksklusif untuk Ibu Bekerja

1. Susui Bayi Sesering Mungkin

Semakin sering bayi menyusu, semakin kuat rangsangan pada payudara untuk memproduksi ASI baru.

CDC menyebutkan bahwa bayi baru lahir umumnya menyusu setiap 2–3 jam atau sekitar 8–12 kali sehari.

Menyusui sesering mungkin juga membantu mengurangi resiko payudara bengkak (engorgement) dan menjaga produksi tetap stabil.

Tips tambahan: Jangan menunggu bayi menangis; perhatikan tanda lapar seperti mengisap jari, menggerakkan kepala, atau membuka mulut.

2. Pastikan Posisi dan Perlekatan yang Benar

Posisi menyusui yang tidak tepat sering membuat bayi sulit menghisap ASI dengan maksimal, sehingga suplai bisa berkurang.

WHO menekankan bahwa latch yang benar ditandai dengan mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel pada payudara, dan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi.

Jika posisi salah, ibu bisa merasa sakit dan bayi tidak mendapat nutrisi yang cukup.

Tips tambahan: Gunakan bantal menyusui atau cari posisi nyaman seperti “cradle hold” atau “side-lying” untuk mengurangi rasa lelah.

3. Lakukan Kontak Kulit dengan Bayi

Kontak kulit (skin-to-skin contact) antara ibu dan bayi, terutama segera setelah lahir, terbukti merangsang hormon oksitosin yang membantu pengeluaran ASI.

WHO/UNICEF menyebutkan bahwa praktik ini mendukung bayi untuk cepat menemukan puting dan meningkatkan refleks menyusu.

Kontak kulit juga membuat bayi lebih tenang, tidur lebih nyenyak, dan menyusu lebih sering.

Tips tambahan: Selain setelah lahir, praktik ini bisa dilakukan kapan saja, misalnya dengan menggendong bayi tanpa pakaian luar di dada ibu.

4. Jaga Asupan Nutrisi dan Cairan Ibu

Tubuh ibu membutuhkan energi ekstra untuk memproduksi ASI.

WHO merekomendasikan ibu menyusui mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dengan tambahan sekitar 400–500 kalori per hari.

Protein dari ikan, telur, dan kacang-kacangan, serta vitamin dan mineral dari sayuran hijau sangat membantu.

Minum cukup air juga sangat penting karena dehidrasi bisa mengurangi produksi ASI.

Tips tambahan: Simpan botol air minum di dekat tempat menyusui agar ibu mudah minum setiap kali menyusui bayi.

Baca Juga: Ibu Wajib Tahu! Tips Penting Memulai MPASI Pertama Bayi Agar Aman, dan Bergizi

5. Kelola Stres dengan Baik

Kondisi emosional ibu sangat berpengaruh pada kelancarannya. Stres dapat menghambat refleks let-down yang berfungsi mengeluarkan ASI dari payudara.

CDC menyarankan ibu untuk beristirahat cukup, berbagi tugas rumah tangga dengan keluarga, dan melakukan relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam.

Dukungan dari pasangan atau keluarga besar juga terbukti meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui.

Tips tambahan: Membuat jadwal tidur singkat (power nap) saat bayi tidur bisa sangat membantu memulihkan energi ibu.

6. Ekspresi ASI Bila Diperlukan

Ada kalanya bayi tidak dapat menyusu langsung, misalnya saat ibu bekerja atau bayi sedang sakit. Dalam kondisi ini, memerah nutrisi bayi ini penting untuk menjaga produksi tetap lancar.

WHO/UNICEF menyediakan panduan aman untuk memerah ASI dengan tangan maupun pompa.

Cairan emas yang sudah diperah ini bisa disimpan dalam wadah bersih dan digunakan saat bayi membutuhkan.

Tips tambahan: Simpan dalam jumlah kecil (50–100 ml) per wadah agar lebih praktis dan tidak terbuang ketika dipanaskan.

Melancarkan ASI bukan hanya soal makanan pelancar, tetapi juga soal kebiasaan menyusui yang benar, dukungan emosional, dan kondisi tubuh ibu.

Yang terpenting, Ibu tetap tenang, berikan waktu pada tubuh untuk beradaptasi, dan jangan ragu mencari bantuan tenaga kesehatan bila ada kendala. (*)

Editor : Miftahul Khair
#air susu ibu #nutrisi #stres #ibu #asi #bayi