Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jangan Panik! Begini Cara Bijak Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum Menurut Ahli Parenting

Syeti Agria Ningrum • Kamis, 9 Oktober 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi anak tantrum di tempat umum.
Ilustrasi anak tantrum di tempat umum.

PONTIANAK POST - Setiap orang tua pasti pernah mengalami momen sulit ketika anak tiba-tiba menangis, berteriak, atau menolak menuruti arahan terutama di tempat umum seperti pusat perbelanjaan, taman, atau transportasi umum. 

Tatapan orang sekitar seringkali menambah tekanan, membuat orang tua merasa bersalah atau malu. Tantrum atau ledakan emosi pada anak kecil adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang.

Tantrum biasanya muncul karena si buah hati belum sepenuhnya mampu mengungkapkan rasa marah, kecewa, atau lelah dengan kata-kata. Situasi ini sering kali membuat mereka merasa frustasi, lalu mengekspresikannya lewat tangisan atau teriakan.

Menangani ledakan emosi dengan tepat tidak hanya membantu meredakan situasi, tetapi juga menjadi kesempatan berharga bagi orang tua untuk mengajarkan keterampilan pengendalian diri (self-regulation). 

Dengan pendekatan yang sabar, konsisten, dan empatik, anak dapat belajar mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih sehat di masa mendatang.

Baca Juga: Ketika Anak Digembleng ala Militer: Efektif atau Timbulkan Trauma? Begini Kata Psikolog

1. Tetap Tenang dan Jangan Bereaksi Berlebihan

Dirujuk dari Parents.com, reaksi orang tua berperan besar dalam menentukan arah situasi. Saat anak tantrum di depan umum, penting untuk tidak terbawa emosi. Semakin orang tua bereaksi keras, semakin anak merasa tidak aman.

Cobalah untuk menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan berbicara dengan nada rendah. Tundukkan tubuh agar sejajar dengan si kecil, lalu tatap matanya dengan lembut. 

Sikap ini menunjukkan bahwa Anda memahami perasaannya dan tidak akan meninggalkannya meski ia sedang marah.

Tip: Jika memungkinkan, ajak anak menjauh dari keramaian agar ia punya ruang untuk menenangkan diri tanpa tatapan orang lain.

2. Validasi Emosi Si Buah Hati

Menurut Verywell Family, banyak ledakan emosi justru semakin parah karena anak merasa tidak didengarkan. Dengan mengakui perasaannya, si kecil akan merasa lebih dipahami.

Cukup katakan, “Mama tahu kamu kecewa karena tidak bisa beli mainan itu.” Kalimat sederhana ini menunjukkan empati tanpa harus menuruti keinginannya.

Hindari berkata “Sudah diam!” atau “Jangan menangis!” karena si buah hati bisa merasa diabaikan dan semakin frustasi.

3. Gunakan Teknik Distraksi yang Positif

Dirujuk dari Child Mind Institute menjelaskan bahwa distraksi atau pengalihan perhatian adalah strategi yang efektif untuk menurunkan intensitas emosi si buah hati.

Arahkan fokus anak pada hal lain, seperti benda menarik di sekitar, permainan tebak warna, atau mengajaknya membantu hal kecil.

Contohnya: “Lihat burung itu terbang, warnanya cantik ya!” Teknik ini membantu si kecil berpindah dari suasana tegang menuju kondisi yang lebih tenang.

4. Jangan Menyerah pada Permintaan Saat Tantrum

Menuruti permintaan anak saat emosinya tidak stabil justru memperkuat perilaku tersebut. Anak akan belajar bahwa menangis atau marah bisa menjadi cara efektif untuk mendapatkan keinginannya.

Tetaplah pada keputusan yang sudah dibuat, tapi berikan pilihan alternatif dengan nada lembut. Misalnya: “Kita tidak beli es krim hari ini, tapi nanti kamu bisa pilih buah yang kamu suka di rumah.”

Dengan begitu, si kecil tetap merasa punya kendali tanpa harus menuruti ledakan emosinya.

5. Evaluasi Penyebab Tantrum

Menurut Verywell Family, tantrum sering kali bukan disebabkan oleh hal besar, melainkan faktor sederhana seperti lapar, kelelahan, atau terlalu banyak stimulasi.

Orang tua bisa mulai mengenali pola si kecil kapan biasanya ia mulai mudah marah atau rewel? Dengan memahami pemicunya, orang tua bisa melakukan pencegahan, misalnya dengan memastikan si kecil cukup tidur dan membawa cemilan saat bepergian.

6. Jadikan Tantrum Sebagai Momen Belajar

Baik Parents.com maupun Child Mind Institute menekankan pentingnya refleksi setelah tantrum. Setelah si kecil tenang, gunakan momen itu untuk berbicara secara lembut tentang apa yang terjadi.

Katakan, “Tadi kamu marah karena tidak bisa main di sana, ya? Tapi sekarang kamu bisa cerita dengan tenang, hebat.”

Langkah kecil seperti ini membantu si buah hati memahami emosinya dan belajar cara mengelola rasa marah secara konstruktif.

 

 

7. Minta Bantuan Jika Tantrum Terlalu Sering

Jika tantrum si kecil terjadi sangat sering, berlangsung lama, atau disertai perilaku agresif (seperti memukul, menggigit, atau membenturkan kepala), sebaiknya konsultasikan dengan profesional. 

Psikolog anak atau dokter tumbuh kembang dapat membantu menilai apakah ada gangguan emosi atau stres yang perlu ditangani lebih lanjut.

Menghadapi si kecil tantrum di depan umum memang bukan hal mudah, tapi bukan pula sesuatu yang memalukan. Kunci utama ada pada ketenangan, empati, dan konsistensi.

Dengan cara ini, tantrum bisa menjadi momen penting bagi si buah hati untuk belajar mengelola emosi dan bagi orang tua untuk tumbuh menjadi pendamping yang lebih sabar dan peka terhadap kebutuhan emosional buah hati. (*)

Editor : Miftahul Khair
#di tempat umum #ahli #anak tantrum #parenting #Cara Menghadapi