PONTIANAK POST - Dalam banyak keluarga, kehadiran kakek dan nenek sering kali membawa kehangatan, kasih sayang, dan pengalaman hidup yang berharga. Tapi, tidak jarang muncul perbedaan pendapat antara orang tua dan kakek-nenek dalam hal mengasuh anak.
Misalnya, orang tua zaman sekarang cenderung lebih terbuka dengan konsep gentle parenting atau disiplin positif, sedangkan kakek-nenek lebih percaya pada cara lama yang menurut mereka sudah terbukti berhasil.
Akibatnya, benturan nilai bisa terjadi terutama saat kakek-nenek ikut terlibat dalam pengasuhan sehari-hari.
Dirujuk dari Parents.com, perbedaan ini sebenarnya bukan karena salah satu pihak lebih benar, tapi karena adanya pergeseran budaya, nilai, dan pemahaman tentang psikologi si kecil di setiap generasi.
Kenapa Kakek-Nenek dan Orang Tua Sering Berbeda Pandangan?
Perbedaan pendapat dalam pengasuhan biasanya muncul karena tiga hal utama:
-
Nilai yang dibentuk di masa lalu berbeda. Seperti dijelaskan di Verywell Family, kakek-nenek tumbuh di era di mana kedisiplinan identik dengan ketegasan atau hukuman, bukan komunikasi dua arah seperti yang populer sekarang.
-
Perasaan ingin ikut berperan. Banyak kakek-nenek merasa bahwa pengalaman mereka membesarkan anak adalah bukti keberhasilan, sehingga mereka ingin “menularkan” metode itu.
-
Kurangnya komunikasi terbuka. Kadang orang tua muda merasa sungkan menegur atau menjelaskan aturan mereka, sehingga kesalahpahaman makin menumpuk.
Dampak dari Ketidaksepahaman Ini terhadap Anak
Ketika anak sering melihat orang tua dan kakek-nenek berselisih paham, dampaknya bisa terasa langsung pada kondisi emosional mereka.
Menurut Psychology Today, anak bisa merasa bingung karena menerima dua gaya pengasuhan yang bertentangan. Misalnya, orang tua melarang jajan berlebihan, tapi kakek-nenek justru memberikannya secara diam-diam.
Kondisi ini bisa membuat anak sulit membedakan mana aturan yang harus diikuti, dan bahkan menimbulkan kebiasaan “memilih pihak” yang paling menguntungkan.
Cara Bijak Menghadapi Perbedaan Pendapat
Agar hubungan tetap harmonis, beberapa langkah ini bisa membantu menghadapi konflik antara generasi:
1. Bangun komunikasi terbuka dan penuh hormat
Sampaikan pada kakek-nenek bahwa Anda menghargai pengalaman mereka, namun juga ingin menerapkan metode yang sesuai dengan kebutuhan si buah hati masa kini. Hindari nada menyalahkan atau menggurui.
2. Jelaskan alasan di balik aturan parenting Anda
Misalnya, jika Anda tidak mengizinkan si kecil bermain gadget terlalu lama, jelaskan bahwa hal itu untuk menjaga kesehatan mata dan konsentrasi belajar, bukan karena ingin “membatasi kebebasan”.
3. Cari titik tengah
Temukan kesepakatan agar semua pihak merasa dihargai. Misalnya, biarkan kakek-nenek memberi hadiah atau camilan sesekali, tapi tetap dalam batas yang disepakati bersama.
4. Fokus pada tujuan bersama
Ingatkan bahwa baik orang tua maupun kakek-nenek memiliki tujuan sama — yaitu ingin yang terbaik untuk anak. Perspektif ini membantu menurunkan ego dan memperkuat kerja sama keluarga.
5. Libatkan anak dengan bijak
Jika anak sudah cukup besar, ajak mereka memahami bahwa setiap orang dewasa punya cara berbeda dalam mencintai dan merawat. Dengan begitu, anak belajar menghormati perbedaan tanpa kebingungan.
Tips Menjaga Hubungan agar Tetap Hangat
-
Hindari berdebat di depan anak.
-
Ucapkan terima kasih atas bantuan, sekecil apa pun itu.
-
Gunakan humor untuk mencairkan ketegangan.
-
Buat waktu khusus keluarga tanpa membahas “cara mengasuh”.
Dirujuk dari Parents.com, hubungan antar generasi bisa menjadi sumber kekuatan luar biasa bagi tumbuh kembang anak selama didasari rasa saling menghargai dan komunikasi yang sehat.
Dengan komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan tujuan yang sama, keluarga bisa menciptakan lingkungan yang penuh kasih, stabil, dan mendukung bagi tumbuh kembang anak. (*)
Editor : Miftahul Khair