Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Anak Kehilangan Harapan Hidup, Psikolog Ungkap Tahapan Depresi dan Cara Pencegahannya Sejak Dini

Marsita Riandini • Rabu, 28 Januari 2026 | 20:45 WIB
Ilustrasi depresi pada anak.
Ilustrasi depresi pada anak.

PONTIANAK POST - Kasus bunuh diri yang melibatkan remaja 13 tahun di Kubu Raya menjadi perhatian serius berbagai kalangan.

Psikolog Fitri Sukmawati, mengatakan ketika seseorang apakah anak-anak, remaja, maupun orang dewasa bunuh diri maka sudah masuk pada fase depresi. Orang yang mengalami depresi biasanya gairah hidupnya sudah tidak ada. Namun, untuk berada pada fase depresi tidaklah mudah.

"Tidak ujuk-ujuk jadi depresi. Kasus apapun itu," ungkap Dosen IAIN Pontianak ini.

Masalah kesehatan mental memiliki tahapan-tahapan. Ada tiga dasar yang paling menguatkan. Pertama stress. Fase ini sebenarnya bisa jadi peringatan positif. Seseorang harus bisa melewatinya.

Jika tidak bisa, dan orang sekitar tidak peduli dengan perubahan perilakunya, dengan kegalauannya, maka masuklah fase cemas. Kondisi mulai tidak nyaman, bahkan menarik diri sehingga timbullah depresi dan bunuh diri.

"Banyak kejadian-kejadian yang dialami dan tidak ada dukungan untuk dia bertahan sehingga memilih bunuh diri," jelasnya.

Orang tua harus memahami perilaku anak. Apa perubahan yang ditunjukkan. Misalnya, sebelumnya ceria tiba-tiba jadi murung.

Puncaknya, melakukan perbuatan tidak benar, seperti mencuri. Mesti dikaji lebih dalam apakah perilaku mencuri baru sekali dilakukan, atau sudah sering, apa motifnya, bagaimana perekonomiannya, interaksi di rumah, termasuk gaya hidupnya.

"Dia mencuri itu karena apa? Kemudian apakah selama ini secara finansial dia aman saja. Itu kan pengaruh semua," ungkapnya.

Yang mesti disorot, lanjut Fitri bukan perilaku mencurinya tetapi kronologi sebelum perilaku itu muncul. Orang mengalami gangguan mental, orang melakukan bunuh diri tidak tiba-tiba. Ada peristiwa lama yang dia lewati sehingga tidak mampu akhirnya memilih mengakhiri hidup.

Apalagi fase remaja memiliki dinamika. Masa-masa mencari jati diri. Pada anak SMP kelas 7 berada pada fase penyesuaian diri. Remaja SMP kelas 8 tengah bersemangatnya, lalu memasuki kelas 9 sudah fase persiapan ujian.

Ada banyak peristiwa yang dilewati sehingga memuncak dan depresi. "Klimaksnya disitu," paparnya.

Terkait perundungan, Fitri meminta masyarakat tidak langsung mengambil kesimpulan. Menurut Fitri, perundungan dan perkelahian remaja itu berbeda. Perkelahian remaja itu tidak bisa dibilang bullying atau perundungan.

"Tetapi ketika intensitasnya sering, misalnya sering diejek dan ada indikasi ke sana (perundungan) bisa jadi membuatnya tidak nyaman. Sebab pelaku atau pun korban tetap merasakan dampaknya," jelasnya.

Sekolah harus antisipasi ada tidaknya perubahan perilaku anak didik mereka. Bagaimana interaksi anak-anak. Guru BK berperan penting dalam melihat kondisi ini.

Termasuk siapa di kelas yang paling disukai teman-temannya, dan siapa yang tidak. "Ada yang namanya terapi kelompok. Itu semua akan membuat anak-anak sehat. Guru BK itu memiliki peranan penting. Bukan hanya untuk anak bermasalah tetapi juga mengantisipasi kondisi-kondisi ini," jelasnya.

Peran keluarga di rumah juga sangat penting. Orang tua mesti memiliki komunikasi yang efektif sehingga anak bahagia, nyaman, dan enggan melakukan perilaku tidak baik. Bahkan rumah menjadi tempat ternyaman untuk bercerita.

"Kalau mencuri itu kan kategorinya kriminal kan. Artinya kok dia melakukan perilaku tidak baik. Apakah dia tidak bisa meminta sama orang tuanya? Atau apa. Terlepas dari surat yang menunjukkan dia malu dan sebagainya itu dampak dari ketahuan," ujar Fitri.

Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 perlu intergrasi dunia pendidikan. Peran sekolah, orang tua dan peran masyarakat. Media sosial ini juga sangat penting. Ada banyak tontonan gratis yang secara tidak langsung mengajari anak mengambil keputusan bunuh diri. Perlu satgas perundungan atau bullying.

"Tidak ada yang tau kapan anak-anak kita menjadi korban perundungan, bahkan hanya secara verbal," pungkasnya. (mrd)

Editor : Miftahul Khair
#psikolog #Remaja #kesehatan mental #bunuh diri #depresi