Melihat anak gemetar saat hendak masuk sekolah baru atau menangis sebelum memulai pertandingan tentu membuat sedih. Namun, langkah "menyelamatkan" mereka dari situasi tersebut ternyata bisa berakibat fatal bagi kesehatan mental mereka di masa depan.
Dilansir dari HuffPost, terapis keluarga Cheryl Donaldson mengungkapkan bahwa kesalahan terbesar orang tua adalah langsung masuk ke "mode proteksi". Padahal, menurut Hannah Scheuer, seorang pekerja sosial klinis, mengakomodasi rasa cemas justru memperburuk keadaan.
"Akomodasi pada dasarnya membiarkan penghindaran. Menghindari sesuatu memang terasa enak sesaat, tapi itu memperkuat persepsi anak bahwa hal yang mereka takuti memang benar-benar berbahaya," jelas Scheuer.
Baca Juga: Delapan Cara Efektif Menghadapi Anak Keras Kepala Tanpa Emosi
Jika anak takut menyetir di jalan raya dan Anda membiarkannya menghindar, ketakutan itu akan tumbuh menjadi trauma jangka panjang.
Tiga Langkah Menghadapi Cemas
Laura Buscemi, konselor dari Thriveworks, menyarankan pendekatan tiga tahap:
-
Validasi: Beritahu anak bahwa merasa cemas itu normal.
-
Regulasi: Ajarkan teknik pernapasan atau gerakan untuk menenangkan diri.
-
Mitigasi: Bantu anak memahami bahwa ketidaknyamanan sementara akan membawa ketenangan jangka panjang. "Menghadapi ketakutan membuktikan bahwa kita lebih berani daripada rasa takut itu sendiri," tambah Buscemi.
Dukungan Bukan Berarti Menyerah
Scheuer menyarankan orang tua untuk menunjukkan kepercayaan diri pada kemampuan anak. Alih-alih membatalkan latihan sepak bola saat anak mengamuk, katakan: "Ayah dengar kamu takut, tapi Ayah tahu kamu bisa melewati hal sulit ini dan kamu akan baik-baik saja." Konsistensi kalimat ini akan membangun ketangguhan (resiliensi) seiring berjalannya waktu.
Baca Juga: Waspada! Rasa Empati Bisa Jadi Senjata Manipulasi Orang Terdekat
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Jika kecemasan mulai menghambat anak untuk berteman, pergi ke sekolah, atau muncul gejala fisik seperti sakit perut dan susah tidur, Donaldson menyarankan untuk segera menghubungi terapis atau konselor sekolah.
Ingat, mengelola cemas adalah keterampilan hidup. Dengan membiarkan mereka menghadapi ketidaknyamanan sekarang, Anda sedang menyiapkan mereka untuk menghadapi ujian berat, pekerjaan pertama, hingga tantangan hidup lainnya di masa depan. (*)
Editor : Chairunnisya