Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dampak Perselingkuhan Orang Tua terhadap Anak Bisa Picu Trauma Jangka Panjang

Chairunnisya • Jumat, 24 April 2026 | 16:47 WIB
Ilustrasi anak bersedih (AI)
Ilustrasi anak bersedih (AI)

 

PONTIANAK POST - Perselingkuhan dalam rumah tangga tak hanya melukai pasangan, tetapi juga bisa meninggalkan luka mendalam bagi anak yang mengetahuinya.

Dampak perselingkuhan dalam keluarga kerap meluas hingga ke anak, baik yang menyaksikan langsung maupun yang mengetahuinya secara tidak sengaja. Situasi ini dapat mengguncang rasa aman dan kepercayaan anak terhadap orang tua.

Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH CHt CPHt menjelaskan, anak biasanya mengalami kebingungan emosional ketika menyadari adanya pengkhianatan dalam rumah tangga.

’’Ketika mereka tahu salah satu atau kedua orang tuanya berselingkuh, anak biasanya merasa tidak aman, cemas, dan kebingungan. Sebab, realita berbeda dari citra orang tua yang selama ini mereka miliki,’’ jelas Ratna Sari, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Haruskah Mengungkap Perselingkuhan Teman atau Diam Demi Jaga Hubungan

Dalam kondisi tersebut, anak bisa mengalami konflik internal, terutama saat menyaksikan pertengkaran, mendengar suara keras, atau melihat perubahan sikap orang tua.

Kekhawatiran akan perceraian pun kerap muncul, membuat anak kehilangan rasa aman. Akibatnya, mereka menjadi lebih sensitif, mudah marah, sedih, dan kesulitan mengelola emosi.

Dampak ini tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi trauma yang terbawa hingga dewasa.

Anak yang pernah menghadapi situasi ini cenderung kesulitan mempercayai orang lain, baik dalam hubungan pertemanan maupun asmara.

Baca Juga: Selingkuh Tak Selalu Soal Nafsu: 4 Sifat Ini Tanpa Disadari Kerap Jadi Pemicu

’’Beberapa klien saya, saat dewasa, mengalami kecemasan kronis, hidupnya jadi sangat tegang. Ada juga yang mematikan emosinya sebagai mekanisme bertahan. Misalnya saat ditanya ’kamu senang?’ jawabannya datar: ’biasa saja’,’’ ujar konselor profesional khusus pernikahan dan keluarga itu.

Sikap Orang Tua

Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua bersikap? Ratna menegaskan pentingnya kejujuran dalam menyikapi kondisi tersebut, tanpa mengabaikan perasaan anak.

’’Apa yang anak pikirkan perlu diluruskan. Dan apa yang mereka rasakan harus divalidasi. Jangan mengecilkan perasaan anak,’’ tegasnya.

Namun, cara penyampaian tetap harus disesuaikan dengan usia anak. Pada anak-anak, orang tua cukup menjelaskan bahwa sedang terjadi konflik, sembari menegaskan bahwa kasih sayang kepada anak tidak berubah.

Sementara pada remaja, pendekatan bisa dilakukan melalui diskusi terbuka mengenai pilihan hidup orang dewasa, tanpa menyudutkan salah satu pihak.

Baca Juga: Pasanganmu Selingkuh Berkali-Kali? Waspada, Kenali Pola Serial Cheater Menurut Ahli Psikologi

Jika anak belum mengetahui perselingkuhan, Ratna menyarankan agar orang tua tidak perlu membuka secara detail. Fokus utama tetap pada menjaga kebutuhan emosional dan rasa aman anak.

Namun, jika anak mulai curiga atau mengetahui dari orang lain, orang tua sebaiknya tidak menyangkal.

’’Tapi kalau anak mulai curiga atau justru mengetahui dari orang lain, jangan disangkal mentah-mentah karena justru bisa merusak kepercayaan anak kepada kita,’’ imbuh Ratna. (*)

Editor : Chairunnisya
#selingkuh #for her pontianak post #anak #perselingkuhan #tips rumah tangga