Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jangan Jadi Penonton, Saksi Pelecehan Diminta Berani Bersikap dan Bertindak

Chairunnisya • Sabtu, 25 April 2026 | 08:58 WIB
Ilustrasi suasana di dalam kendaraan umum (AI)
Ilustrasi suasana di dalam kendaraan umum (AI)

PONTIANAK POST - Di tengah kehidupan sosial yang serba cepat, kepedulian sering kali tergerus. Padahal, dalam situasi tertentu seperti pelecehan, sikap kita sebagai saksi bisa menentukan nasib korban.

Sosiolog Universitas Airlangga, Tuti Budi Rahayu, menyoroti peran penting saksi dalam kasus pelecehan.

Ia menegaskan bahwa siapa pun yang menyaksikan kejadian tersebut tidak seharusnya menjadi penonton pasif, apalagi merekam dan menyebarkannya.

Menurutnya, masih banyak saksi yang memilih tidak peduli karena merasa hal itu bukan urusan mereka.

Baca Juga: Sosiolog Soroti Kebiasaan Anggap Pelecehan sebagai Bahan Bercanda

’’Saksi merasa itu bukan urusannya. Dalam bahasa gaul kota besar: ’Emang gue pikirin’. Tapi ini bahaya. Itu artinya kita kehilangan empati sosial,’’ katanya, dikutip dari Jawapos.

Tuti menjelaskan, langkah yang bisa dilakukan saksi adalah memberikan dukungan kepada korban.

’’Yang bisa dilakukan saksi adalah mendampingi korban. Tunjukkan simpati, jangan menghakimi, dan bantu melapor,’’ lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa diam bukanlah sikap netral. Dalam banyak kasus, sikap tersebut justru menjadi bentuk pembiaran terhadap tindakan salah.

Baca Juga: Korban Pelecehan Jangan Diam, Sikap Ini Justru Memperkuat Siklus Kekerasan

’’Memang saksi mungkin takut ikut terseret. Tapi keberanian sosial harus dibangun. Kalau semua diam, pelaku akan merasa tak tersentuh hukum,’’ kata sosiolog 57 tahun itu.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pelecehan bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sosial yang membutuhkan respons bersama.

Karena itu, empati menjadi kunci dalam menghadapi situasi tersebut. ’’Jika Anda saksi, posisikan diri Anda seandainya itu terjadi pada Anda. Empati adalah bentuk etika tertinggi,’’ ungkapnya.

Baca Juga: ABKIN Kalbar Dorong Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Cegah Kekerasan dan Pelecehan di Kampus

Dalam relasi yang berulang dan penuh pelecehan, Tuti juga menilai pentingnya keberanian untuk memutus hubungan yang toksik.

Menurutnya, etika seseorang tidak hanya diuji melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam bersikap.

Dengan demikian, peran aktif saksi, empati sosial, serta keberanian bersikap menjadi elemen penting dalam upaya menghentikan pelecehan di lingkungan masyarakat. (*)

Editor : Chairunnisya
#for her pontianak post #pelecehan #Pelecehan Seksual