PONTIANAK POST - Banyak anak langsung merasa tegang saat mendengar pelajaran matematika.
Angka, rumus, dan soal cerita sering dianggap rumit sehingga membuat anak mudah menyerah bahkan takut sebelum mencoba.
Menurut psikolog pendidikan dan perkembangan anak Nur Ainy Fardana, kondisi tersebut sebenarnya wajar terjadi pada anak-anak.
’’Matematika penuh dengan angka, tanda, dan konsep abstrak. Sementara anak-anak masih berada pada tahap berpikir konkret, sehingga wajar bila terasa sulit,’’ jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: TKA Matematika Siswa Kalbar, Nasib Pengajarannya ke Depan
Kesulitan belajar matematika juga sering diperparah oleh metode belajar yang terlalu menekankan hafalan rumus dibanding memahami konsep.
Akibatnya, anak cepat bingung dan merasa matematika tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pengalaman buruk saat belajar juga dapat meninggalkan dampak panjang.
Baca Juga: Siap-Siap, Matematika Bakal Diajarkan Sejak Tingkat TK
’’Kalau anak sudah punya pengalaman buruk, misalnya dimarahi saat salah menghitung, itu bisa membekas jadi minder hingga dewasa,’’ lanjutnya.
Karena itu, orang tua dan guru perlu memahami bahwa rasa takut terhadap matematika bukan semata karena anak malas belajar.
Cara penyampaian, pengalaman belajar, hingga dukungan emosional sangat memengaruhi bagaimana anak memandang pelajaran tersebut. (*)
Editor : Chairunnisya