PONTIANAK POST - Pernikahan selalu identik dengan momen berbagi kebahagiaan. Salah satu bentuknya terlihat dari suvenir yang diberikan kepada tamu undangan.
Meski sering dianggap pelengkap pesta, suvenir sebenarnya memiliki makna sosial yang cukup dalam.
Di tengah masyarakat Indonesia, memberi suvenir pernikahan bukan sekadar rutinitas seremonial.
Suvenir menjadi simbol penghargaan dan rasa terima kasih atas kehadiran tamu yang ikut berbagi kebahagiaan pasangan pengantin.
Namun, seiring modernisasi, makna simbolik suvenir pernikahan mulai mengalami pergeseran. Suvenir kerap dijadikan sarana menunjukkan status sosial dan kemewahan pesta.
Baca Juga: Tren Suvenir Ramah Lingkungan menjadi Cermin Kesadaran Sosial Pasangan Muda Modern
“Dari sisi etika sosial, suvenir seharusnya tidak menjadi alat pembeda kelas, melainkan ungkapan kesetaraan dan kebersamaan,” ucap Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya Malang Nike Kusumawanti, dikutip dari Jawapos.
Menurut Nike, calon pasangan perlu memperhatikan nilai, fungsi, dan konteks sosial dalam memilih suvenir pernikahan. Suvenir disarankan mengandung pesan moral atau filosofi cinta dan syukur.
Selain itu, pasangan juga dianjurkan memilih benda yang berguna dan tidak menambah limbah konsumsi.
Pemilihan suvenir pun sebaiknya diselaraskan dengan kemampuan finansial serta tema pernikahan agar tidak menimbulkan kesan berlebihan.
Baca Juga: Penjual Suvenir dan Oleh-oleh Bertahan di Tengah Pagebluk
“Pilih suvenir hasil karya pelaku UMKM atau perajin lokal. Langkah kecil ini bukan hanya beretika, tetapi juga memperkuat solidaritas ekonomi di masyarakat,” sarannya.
Pada akhirnya, suvenir tidak harus mahal untuk meninggalkan kesan baik. Yang lebih penting adalah nilai penghargaan dan kebersamaan yang ingin disampaikan kepada para tamu. (*)
Editor : Chairunnisya