PONTIANAK POST - Belakangan, media sosial ramai menampilkan siswa yang berjualan di kelas. Ada yang menawarkan stiker buatan sendiri, camilan rumahan, hingga gelang handmade warna-warni.
Bagi sebagian orang tua, aktivitas itu mungkin terlihat mengganggu sekolah.
Namun, di balik tren tersebut, ada proses perkembangan anak yang sedang berjalan.
Fase Perkembangan
Psikolog klinis Biro Bright Soul, Doni Mustofa menjelaskan bahwa keinginan anak berjualan merupakan bagian dari fase perkembangan.
Baca Juga: Orang Tua Diminta Waspada Tanda Anak Tidak Nyaman di Daycare
“Anak usia 6 sampai 15 tahun sedang berada pada tahap industry vs inferiority,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Pada fase itu, anak memiliki kebutuhan untuk merasa mampu, produktif, dan bisa menghasilkan sesuatu yang nyata.
Pengalaman barang dagangan terjual, menerima uang hasil usaha, hingga mendapat respons positif dari teman dan guru menjadi penguat rasa percaya diri mereka.
“Ketika berada di fase industry itu, anak ingin dianggap mampu menghasilkan sesuatu yang nyata,” lanjutnya.
Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa
Ruang Kenali Kemampuan Diri
Menurut Doni, aktivitas sederhana seperti berjualan memberi ruang bagi anak untuk mengenali kemampuan diri.
Anak merasa usahanya dihargai dan memiliki hasil yang terlihat. Dari sana, rasa percaya diri perlahan tumbuh.
Karena itu, orang tua tidak perlu langsung melarang. Selama aktivitas tersebut masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu sekolah, berjualan bisa menjadi pengalaman belajar yang positif bagi anak. (*)
Editor : Chairunnisya