PONTIANAK POST - Tangisan bayi di ruang publik memang bisa mengganggu sebagian orang.
Namun, cara menyampaikan keberatan dinilai sangat menentukan agar situasi tidak berubah menjadi konflik.
Tetap Jaga Etika
Dosen sosiologi Universitas Airlangga, Pingkan Sekar Savira, mengatakan menegur orang tua agar menenangkan bayinya bukan sesuatu yang terlarang.
Meski demikian, etika dalam menyampaikan teguran tetap harus dijaga.
Baca Juga: Saat Tangisan Bayi Memicu Penilaian Sosial terhadap Kemampuan Orang Tua
Pendekatan Empatik Lebih Efektif
Menurutnya, ruang publik bersifat inklusif dan digunakan bersama oleh berbagai kelompok, termasuk keluarga dengan anak kecil.
Karena itu, pendekatan yang empatik lebih efektif dibandingkan teguran bernada menyalahkan.
’’Bisa dimulai dengan kalimat seperti, ’Adiknya sudah dibawa keliling, Bu?’ atau ’Mungkin butuh udara segar ya?’ Itu membuat orang tua merasa dihargai,’’ tuturnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Tantrum Bukan Aib, tetapi Sinyal Emosi
Jika berada di tempat yang membutuhkan ketenangan khusus seperti perpustakaan atau bioskop, pesan tetap dapat disampaikan dengan lebih spesifik tanpa harus menghakimi.
Pingkan menilai, komunikasi yang santun dapat membantu menjaga kenyamanan bersama tanpa melukai perasaan orang tua yang mungkin sedang kesulitan menenangkan anaknya. (*)
Editor : Chairunnisya