Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Sosiolog Unair Soroti Minimnya Empati di Perkotaan Dinilai Memicu Konflik soal Tangisan Bayi

Chairunnisya • Kamis, 21 Mei 2026 | 17:30 WIB
Ilustrasi seorang ayah menenangkan bayinya yang menangis. (AI)
Ilustrasi seorang ayah menenangkan bayinya yang menangis. (AI)

PONTIANAK POST - Kehidupan perkotaan yang semakin individualistis dinilai ikut memengaruhi cara masyarakat merespons tangisan bayi di lingkungan sekitar.

Hal itu terutama terasa di kawasan permukiman padat, tempat suara lebih mudah terdengar antar-rumah.

Urbanisasi Bikin Relasi Sosial Renggang

Dosen sosiologi Universitas Airlangga, Pingkan Sekar Savira, mengatakan kondisi tersebut menuntut toleransi lebih tinggi antarwarga.

Baca Juga: Cara Menegur Orang Tua Saat Bayinya Menangis Tanpa Memicu Konflik Sosial

’’Sayangnya, urbanisasi membuat relasi sosial makin renggang. Empati pun menurun,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Buka Percakapan Ringan

Saat merasa terganggu, Pingkan menyarankan masyarakat membuka percakapan ringan terlebih dahulu agar komunikasi tetap hangat dan tidak menyinggung perasaan orang tua.

’’Misalnya saat bertemu, ’Kemarin si kecil rewel ya? Lagi tumbuh gigi?’ Dari situ dialog bisa mengalir tanpa memicu konflik,’’ katanya.

Baca Juga: Saat Tangisan Bayi Memicu Penilaian Sosial terhadap Kemampuan Orang Tua

Dukungan Sederhana Lingkungan Sosial

Menurutnya, dukungan sederhana juga bisa membantu orang tua yang sedang menghadapi tekanan fisik dan psikologis saat mengurus bayi.

’’Orang tua bayi sering lelah secara fisik dan psikis. Dukungan sangat membantu,’’ imbuhnya.

Pingkan menilai, lingkungan sosial yang saling mendukung dapat menciptakan suasana hidup bersama yang lebih nyaman dan harmonis. (*)

Editor : Chairunnisya
#tips anak #tantrum #anak