PONTIANAK POST - Fenomena anak-anak yang fasih mengucapkan istilah seperti "skibidi", "rizz", atau "NPC" semakin sering ditemui.
Meski terdengar asing bagi sebagian orang tua, kemunculan kosakata digital tersebut sebenarnya berkaitan dengan cara anak belajar bahasa di era internet.
Dilansir dari Jawapos, Psikolog Klinik Perspektif, Fikri Tahta Nurul Fiqih SPsi MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kemampuan anak menyerap bahasa baru dari internet merupakan hal yang wajar.
Baca Juga: Orang Tua Perlu Tahu Alasan Anak Mudah Meniru Tren Bahasa
Anak Belajar Bahasa dari Paparan Sehari-hari
Menurut Fikri, anak-anak, terutama yang berusia di bawah 7 tahun, memiliki kemampuan alami untuk menyerap bahasa dengan cepat.
’’Anak tidak perlu diajari secara formal untuk memahami istilah baru. Mereka bisa menangkap pola bahasa secara alami hanya dari paparan, termasuk dari video atau media sosial yang mereka tonton setiap hari,’’ jelas Fikri.
Baca Juga: Bahasa Membantu Anak Percaya Diri dan Mudah Bersosialisasi
Kemampuan mengingat yang kuat, fleksibilitas motorik, dan kemampuan memahami pola membuat istilah-istilah baru mudah melekat dalam ingatan mereka.
Bisa Meniru Meski Belum Paham Maknanya
Pada masa ini, anak tidak hanya menghafal kata-kata baru, tetapi juga mampu menggeneralisasi pola bahasa yang mereka dengar. Akibatnya, mereka bisa menggunakan istilah tertentu meski belum sepenuhnya memahami arti atau konteks penggunaannya.
Baca Juga: Tips Parenting: Memahami Emosi Anak Lewat Bahasa Tubuh dan Komunikasi
Bahasa Digital Jadi Bagian dari Kehidupan Anak
Paparan video, media sosial, hingga permainan digital membuat kosakata internet semakin dekat dengan keseharian anak.
Karena itu, munculnya istilah viral di kalangan generasi Alpha tidak lagi sekadar tren, melainkan bagian dari proses belajar bahasa yang berlangsung secara alami. (*)
Editor : Chairunnisya