PONTIANAK POST - Anggapan bahwa bilingualisme membuat anak bingung atau mengalami keterlambatan bicara masih cukup sering terdengar. Namun, Founder The Bilingual Parenting Hapikry Surya Permana MHum menilai asumsi itu tidak tepat.
Menurut dia, banyak orang tua memproyeksikan pengalaman mereka sendiri saat belajar bahasa asing kepada anak. Padahal, cara anak belajar bahasa berbeda dengan orang dewasa.
’’Itu asumsi yang tidak benar. Banyak orang tua memproyeksikan pengalaman mereka sendiri saat belajar bahasa asing yang dulu terasa sulit dan membingungkan. Padahal kondisi anak berbeda karena mereka belajar melalui interaksi alami, bukan tekanan akademik,’’ tegasnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Anak Tak Perlu Menunggu Fasih Bahasa Indonesia untuk Belajar Bahasa Asing
Bahasa Lebih Mudah Diserap dalam Kehidupan Sehari-hari
Hapikry menjelaskan, bahasa akan lebih mudah diserap melalui interaksi yang alami dalam kehidupan sehari-hari.
Anak belajar dari percakapan, rutinitas, permainan, dan situasi yang berulang, bukan dari tekanan akademik seperti yang sering dialami orang dewasa saat belajar bahasa asing.
’’Bahasa akan lebih mudah diserap melalui interaksi yang alami dalam kehidupan sehari-hari,’’ lanjutnya.
Baca Juga: Berapa Bahasa Ideal untuk Anak? Ini Penjelasan Founder The Bilingual Parenting
Menurut dia, mengenalkan lebih dari satu bahasa sejak dini juga memberikan keuntungan besar. Salah satunya, bahasa kedua dapat tumbuh secara alami dan tidak dianggap sebagai beban.
Bonusnya, Anak Lebih Percaya Diri
Selain lebih natural, pengenalan bahasa sejak dini juga dinilai dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak saat menggunakan bahasa tersebut.
’’Meskipun secara grammar masih harus diperbaiki, rasa percaya diri itu menjadi salah satu bonus yang sangat berharga,’’ tuturnya.
Baca Juga: Cara Menyenangkan Mengenalkan Bahasa Asing kepada Anak Sejak Usia Dini
Kepercayaan diri ini penting karena membuat anak lebih berani mencoba, menggunakan, dan menjadikan bahasa asing sebagai alat komunikasi dalam kesehariannya, bukan sekadar materi pelajaran. (*)
Editor : Chairunnisya