PONTIANAK POST - Semakin banyak anak muncul dalam live jualan media sosial.
Di balik ramainya interaksi dan meningkatnya penjualan, terdapat risiko keamanan digital yang sering luput dari perhatian orang tua.
Ancaman Tidak Berhenti Saat Live Berakhir
Dilansir dari Jawapos, Pandu Literasi Digital Komdigi, Wahyu Oktafialni SSos, mengatakan salah satu risiko yang perlu diwaspadai ialah digital kidnapping, yakni penggunaan foto maupun video anak oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu, termasuk modus penipuan.
Baca Juga: Tren Anak Tampil Saat Live Jualan Dinilai Berpotensi Melanggar Etika Digital
Anak juga berpotensi menjadi sasaran kejahatan siber maupun pelaku kekerasan seksual yang memanfaatkan konten digital.
"Dalam jangka panjang, jejak digital yang dibangun sejak kecil juga dapat memengaruhi kehidupan anak saat dewasa. Mereka bisa kehilangan kesempatan membentuk identitas digital sendiri, bahkan berisiko mengalami perundungan akibat konten masa kecil yang tersebar luas di internet," lanjutnya.
Orang Tua Tidak Pernah Tahu Siapa Penontonnya
Baca Juga: Unggahan Jerome Polin dan Nana Mirdad Jadi Sorotan Media Sosial
Menurut Wahyu, rendahnya kontrol terhadap penonton menjadi salah satu risiko terbesar dalam siaran langsung.
Orang tua tidak pernah benar-benar mengetahui siapa yang menyaksikan live tersebut maupun bagaimana potongan videonya digunakan setelah siaran selesai.
"Siapa saja bisa menonton, melakukan tangkapan layar, merekam layar, lalu menyebarkan ulang video yang menampilkan anak tanpa sepengetahuan orang tua," katanya. (*)
Editor : Chairunnisya