PONTIANAK POST - Mengajak anak muncul sesekali dalam live jualan bukan berarti selalu melanggar etika.
Namun, ada sejumlah batas yang perlu diperhatikan agar hak dan keamanan anak tetap terlindungi.
Ada Batas yang Masih Dapat Diterima
Pandu Literasi Digital Komdigi, Wahyu Oktafialni SSos, menegaskan tidak semua keterlibatan anak dalam live jualan otomatis dianggap tidak etis.
Baca Juga: Hak Anak Tetap Harus Diutamakan Saat Live Jualan di Media Sosial
Menurutnya, kehadiran anak masih dapat diterima apabila berlangsung secara spontan dan tidak mengubah esensi masa kanak-kanaknya.
Ia mencontohkan kondisi ketika anak hanya melintas di depan kamera atau menyapa penonton selama satu hingga dua menit tanpa diarahkan menjadi bagian dari strategi penjualan.
"Ketika anak sudah menunjukkan tanda tidak nyaman, bosan, terganggu, atau tidak bebas meninggalkan area kamera, maka itu sudah melewati batas kewajaran," tegasnya.
Baca Juga: Waspadai Digital Kidnapping Saat Anak Muncul dalam Live Streaming Jualan
Jangan Tampilkan Informasi Pribadi
Wahyu mengingatkan bahwa ekspresi senang anak tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran etika.
"Anak-anak belum memiliki pemahaman penuh mengenai konsekuensi jangka panjang dari jejak digital yang tercipta ketika wajah dan aktivitas mereka ditonton ribuan orang asing," ucapnya.
Ia juga menilai orang tua perlu membatasi durasi keterlibatan anak agar tidak mengganggu waktu bermain, belajar, maupun beristirahat.
Baca Juga: Tren Anak Tampil Saat Live Jualan Dinilai Berpotensi Melanggar Etika Digital
Selain itu, pakaian, sikap, dan aktivitas anak yang ditampilkan harus diperhatikan secara serius.
Orang tua juga wajib menghindari adegan atau posisi yang berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Tak kalah penting, latar belakang siaran sebaiknya tidak memperlihatkan informasi pribadi seperti alamat rumah, nama sekolah, maupun area privat keluarga. (*)
Editor : Chairunnisya